Friday, June 15, 2012

Kisah si Jago Pancake










Judul: Profesor Pancake
Penulis: Icha
124 halaman


Buku KKPK kali ini yang aku ingin ceritakan tentang makanan. Hahaha, paling enak memang cerita tentang makanan. Bisa bikin lapar. Tapi ini bukan cuma makanan. Juga tentang perjuangan seseorang untuk menjadi ahli pancake. memang ada ya? Ya ada dong. Namanya juga cerita.


Raisha sangat ingin bisa memasak. Dia pun berniat mendfatra kelas memasak di Cooking for Kids. Tapi, bunda melarang. Alasannya, Raisha gampang bosan. Raisha terus membujuk hingga bunda luluh. Halangan tak berhenti sampai di situ. Untuk bisa belajar memasak, setiap peserta harus mengikuti tes terlebih dahulu. Tesnya susah, lho! Raisha deg-degan dan harap-harap cemas.

Apakah Raisya berhasil lulus masuk Cooking for Kids? Kenapa dia dijuluki Profesor Pancake?Aku nggak mau kasih tahu dulu ya. Sebaiknya kalian baca sendiri biar seru. Eh, masih ada 10 cerpen seru lainnya lho karena KKPK kali ini adalah kumpulan cerpen.

Geus Rama Syarif, 10 thn, SD Az Zahra Palembang

CERNAK, 17 Juni 2012


Puteri Mpek-mpek

oleh Benny Rhamdani

Semua bermula ketika aku pindah sekolah karena Papa ingin aku belajar di sekolah yang lebih bagus. Maka aku masuklah aku sekolah di tengah kota itu. Yang aku kaget, teman-teman baruku menertawaiku ketika aku menyebut namaku di depan kelas.

“Namaku Puteri Andini. Panggil aku Puteri,” kataku.
“Hahahaha.” Mereka kompak  tertawa bersama.

Aku tentu saja bingung. Kutengok wali kelas baruku.

“Duduklah. Sebaiknya kamu cari nama pengganti yang lain. Karena di kelas ini sudah ada lima murid bernama Puteri,” kata Bu Ryana.
Aku duduk. Lagi-lagi aku kaget mendengar  teman sebangku baruku menyebutkan namanya.

“Hai, namaku Puteri Salsa. Panggil aku Puput. Soalnya dikelas ini ada yang namanya Salsa juga,” katanya.

Aku tersenyum sambil memikirkan nama baru untukku. Tapi susah. Aku tak mau dipanggil Andi. Seperti nama lelaki. Dipanggil Dini juga tak mau karena kakakku biasana dipanggil begitu di rumah. Nanti kalau ada orang mencari nama Dini ke rumahku, bingung deh kami.

 “Hanya satu orang yang dipanggil Puteri. Tuh yang gede dan galak di pojok sana.  Tiga lagi diberi nama Laras, Cinta, dan Widya. Sesuai nama belakangnya,” jelas Puput.

“Aku ingin dipanggil puteri saja,” kataku mantap.

“Wuah, kamu bisa berurusan dengan Puteri galak itu,” kata Salsa.

Aku tidak takut, kataku dalam hati.

Saat istirahat, beberapa anak mencoba memanggilku Andin dan Dini. Tapi aku meminta mereka tetap memanggilku Puteri.  Itu nama depan pemberian nenekku tersayang.

“Sebaiknya kamu ganti nama,” tiba-tiba Puteri galak menghampiriku. “Jangan sampai nanti membingungkan.”
“Tapi aku tidak bingung.”
“Huh, anak baru kok belagu.”
“Aku tidak belagu. Puteri adalah nama dari nenekku. Aku senang dipanggil nama yang sama dengan nenekku,” jawabku.
Ya itulah aku. Sedikit keras kepala. Hehehe.

Lalu, semuanya berubah ketika aku dijemput pulang sekolah. Yang menjemput Pak Ibun, supir keluarga kami. Pak Ibun memakai mobil yang ada poster besar rumah makan kami Mpek-Mpek Puteri.

“Oh, ayah kamu yang punya rumah makan mpek-mpek tyerkenal itu ya?” Tanya Salsa.

“Iya. Kamu pernah mampir?” tanyaku.
“Sering.” Wuah, nanti aku boleh minta diskon dong.”
“Hehehe, minta sama mamaku ya. Aku kan bukan pemiliknya.”

Salsa cengengesan.

Besoknya kabar itu tersiar cepat.
“Hai Puteri mpek-mpek,” sapa Pueteri halak pagi-pagi.

Tak lamakemudian beberapa anak lelaki memanggil dengan nama yang sama. “Hai Puteri mpek-mpek, bagi dong mpek-mpeknya,” ledek mereka.

Agak kesal sih mendengarnya.  Di sekolah lamaku dulu banyak anak-anak pemilik rumah makan mpek-mpek. Mungkin di sini cuman aku.

Sampai di rumah aku mengadu ke pada Mama. Jawaban Mama sudah kuduga.

“Tidak ada yang salah dengan panggilan mereka. Kamu kan memang Puteri Mpek-mpek. Lama-lama juga terbiasa dengan panggilan itu. Teman-teman Mama juga memanggil Ibu Mpek-mpek, tapi Mama nggak marah kok,” kata Mama.

Setelah dipikir-pikir, aku juga baru sadar. Untuk apa aku kesal. Dari pada aku kesal, mendingan aku jalan-jalan.

Aku kemudian pergi ke toko buku. Di tengah jalan aku terkejut melihat Puteri galak ke luar dari sebuah rumah makan. Ya, Rumah makan khusus ikan belida. Namanya rumah makan belida Puteri. Aku bertanya kepada tukang parkir di depannya.

“Pak, apakah ini rumah makan punya Puteri yang tadi itu?” tanyaku.

“Iya, itu anaknya pak Masri,” jawabnya.

Aha!
Esok paginya, aku sengaja datang lebih awal. Teman-teman baruku berdatangan dan menyapaku dengan Puteri Mpek-mpek. Say Puteri galak masuk, dia juga menyapaku,” Hai Puteri mpek-mpek. Rajin banget datangnya.”

“Selamat pagi juga Puteri Belida,” jawabku.

Tiba-tiba sesisi kelas tertawa.

Puteri Belida menatapku, ingin marah. Tapi aku tidak takut. Tubuhku sedikit lebih besar darinya.

Sejak saat itu ada dua nama Puteri di kelasku. Satu Puteri Mpek-mpek, satu lagi Puteri Belida.  Hahaha, sama-sama makanan khas kota Palembang.

^_^

HORE, 17 Juni 2012


Museum Makanan Unik

Negara Amerika memiliki banyak hal-hal unik, termasuk dalam hal makanan. Salah satu toko roti di Amerika, Peanut Butter & Co bahkan membuka museum unik yang diberi nama Nutropolitan Museum of Art yang dibuka hanya untuk merayakan seni selai kacang dan sandwich. Ternyata bukan hanya Nutropolitan Museum of Art saja satu-satunya museum unik yang berisi tentang informasi makanan. 
Museum dibuat, selain untuk belajar pengetahuan umum tentang suatu hal, juga sebagai daya tarik sebuah kota agar wisatawan berkunjung lho.  Nah, inilah 5 museum makanan lainnya di dunia yang unik dan tentu saja menarik untuk kita kunjungi nantinya



The Currywurst Museum, Berlin, Jerman
Mueseum ini berisi tentang makan-makanan ringan yang menjadi budaya di Jerman. Di museum ini pengunjung akan menikmati ruang rempah-rempah, dimana mereka bisa mencicipi dan mencium aroma campuran Currywurst yang berbeda.

The National Dairy Shrine Museum, Fort Atkinson, Amerika
Industri Dairy Produk memiliki sejarah yang panjang di tanah Amerika. Di museum ini pengunjung akan mendapatkan informasi yang beragam tentang sejarah es krim, menjelajahi evolusi teknologi pembuatan susu, dan informasi seputar dairy produk lainnya.

 





 The National Mustard Museum, Midleton
Di museum ini menawarkan 5600 jenis mustard. Dari sejarah memorabilia tentang mustard hingga ke bumbu-bumbu yang paling popular lainnya di seluruh dunia.


 The Idaho Potato Museum, Blackfoot, Amerika
Wilayah Idaho sudah lama dikaitkan dengan industri kentang. Di museum ini berusaha menampilkan bagaimana kentang Idaho ditanam dan dipanen dan memberikan informasi tentang sejarah kentang Idaho.

 The Shinyokohama Ramen Museum, Yokohama, Jepang
Berbicara Ramen tentu identik dengan kota Jepang. Di museum ini memberikan informasi tentang ramen dimulai dari kota pelabuhan di Jepang. Di museum ini menampilkan sebuah pameran yang menampilkan berbagai jenis ramen baik tradisional dan modern. Pengunjung dapat mencatat perbedaan yang detail dalam seluruh jenis ramen yang ada di Jepang.
 Kalian setuju nggak, kalau di Palembang kita tercinta ini dibangun museum makanan empek-empek? Rasanya seru ya. Biar kalau ada tamu yang datang, dan ingin tahu tentang empek-empek, tinggal kita ajak ke sana.
 (ben/net)

Friday, June 08, 2012

Cernak, 9 Juni 2012


Pencuri yang Aneh
Oleh Benny Rhamdani


Museum di kotaku heboh. Sebuah lukisan tua yang harganya mahal dicuri kemarin malam. Yang membuat seisi kota, pencurinya meninggalkan kertas bertuliskan puisi di dekat lukisan itu. Koran-koran pun memuat puisi itu.
“Siapa saja yang bisa memecahkan teka-teki puisi ini segera hubungi kantor polisi terdekat. Dia akan mendapat hadiah,” kata Pak Walikota.
Ini dia isi puisinya.
Bila matahari terbenam di sana tak ada apa-apa       
Kau tak pernah tahu lawannya senja
Aku bukan beringin
Aku terayun-ayun
Kau tahu bentuk bulan bukan?

Ayahku seorang polisi. Dia bertugas semalam. Dan pagi ini baru pulang ke rumah. Itu pun untuk sarapan saja. Mungkin sebentar lagi akan berangkat.
“Ayah, siapa pelaku pencurian itu?” tanyaku saat sarapan.
“Pasti dia seorang penyair gagal. Makanya dia mencuri, mengundang kehebohan,” kata Ayah.
“Jadi belum ketemu pencurinya?” tanyaku.
“Belum. Kalau pun pencurinya ketemu, lukisan itu belum tentu masih ada padanya. Mungkin sudah dijual,” kata Ayah. “Padahal Pak Walikota menyukai lukisan itu.”
Aku manggut-manggut. Lalu kubaca sekali lagi.
Hari ini aku libur sekolah. Jadi setelah sarapan aku pergi ke rumah sahabatku, Doni.
“Willy, kau tahu pencurian itu kan?” tanya Doni.
“Ya.”
“Ayahmu bilang apa?”
“Kau tahu, ayahku jarang cerita soal kasus-kasus yang jadi tugasnya  di rumah,” jawabku.
“Bagaimana kalau kita pecahkan sandi di puisi itu?” ajak Doni.
“Yuk!” Aku juga tertarik. “Kita mulai dari baris pertama. Bila matahari terbenam di sana tak ada apa-apa. Menurutmu artinya apa?
“Sepertinya dia mau kasih tahu, jangan pergi ke tempat matahari terbenam karena tidak ada apa-apa.”
“Memangnya tempat matahari terbenam di mana? Singapur? Jepang?”
“Barat.”
“Berarti di timur?”
“Belum tentu. Bisa juga di Selatan dan utara.”
“Iya juga sih. Kalau di timkur, itu kira-kira timurnya siapa?”
Doni menggeleng. “Kita baca kaliamat selanjutnya.  Kau tak pernah tahu lawannya senja. Lawan sengaja itu pagi. Kurasa itu artinya memang timur.”
“Mungkin bagian timur dari museum,” kataku menebak.
Aku bukan beringin. Aku terayun-ayun. Apa ini ya?” kata Doni. “Di sebelah timur museum yang kutahu ada padang ilalang. Ya ilalang bukan beringin. Dan terayun-ayun.”
“Ayo kita kesana!”
Kami bergegas mengayuh sepeda ke lapangan ilalang di timur Museum. Begitu sampai di sana kami kaget karena melihat ada beberapa mobil polisi juga. Kulihat juga ada juruberita dari televise. Mereka parkir di dekat sebuah rumah caravan tua. Aku tahu di sana tinggal seorang janda tua yang sakit-sakitan. Mungkinkah dia pencurinya?
“Ayah!” Aku memanggil ayahku.
“Willy, ngapain kamu ke sini?” tanya Ayah.
“Aku dan Doni  tadi memecahkan sandi puisi itu. Apa benar pelakunya di rumah caravan itu?”
“Bukan. Di sana ada Bu Jones yang sedang sakit parah. Dia tak mungkin masuk ke museum dan mencuri. Sepertinya pencuri itu meminta kami mendatangi Bu Jones dan mengobatinya,” jelas Ayah.
Ah, berarti pencuritu baik hatinya.

 “Lalu apa arti kalimat terakhir pusisi itu?” tanyaku ke pada Ayah.
“Kami belum tahu. Di caravan itu sama sekali tak ada yang berhubungan dengan bulan,” kata Ayah.
Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Dulu, aku senang sekali melihat bulan. Bukan di langit. Tapi pantulannya di genangan air.
“Ayah, apakah di sini ada sumur atau danau kecil?” tanyaku.
“Ya danau tua bekas penggalian. Kenapa?” tanya Ayah.
“Kurasa kalimat terakhgir itu ada hubungannya. Kita bisa melihat bentuk bulan di genangan air,” jelasku. “Seperti permainan anak-anak.”
Ayah tersenyum. Dia langsung meminta beberapa temannya berlari menuju ke danau buatan. Aku dan Doni ikutan. Tak berapa lama kemudian, Ayah dan teman-temannya menemukan sebuah kotak kayu di sisi danau. Di sanalah lukisan itu disimpan. Lalu pencurinya?
Pencurinya tidak diketahui. Tapi dia menulis puisi di dekat lukisan itu.
Aku pengelana
Mungkin aku sudah melangkah jauh
Tanpa bentuk tak usah kau tahu
Titip salam untuk Bu Jones.
Sampai bertahun-tahun pencuri itu tidak diketahui. Bahkan sampai aku besar menjadi seorang polisi, atak satu pun yang berhasil menemukan pencurinya.

^_^

ARENA KKPK, 9 JUNI 2012

 Serunya Peri Gigi




Judul: Peri Gigi
Penulis: Zakia
124 halaman


Kamu pakai behel nggak? Aku sih nggak. Jadi kayaknya seru ya kalau kita baca anak yang pakai behel. Dulu ada buku KKPK yang judulnya Tragedi Behel. Ceritanya lucu banget. Sekarang ada lagi cerita anak yang pakai behel. Judulnya Peri Gigi.

Ceritanya tentang Talia yang memakai behel. Behel Talia tiba-tiba terlepas dan terbang kesana kemari. Talia juga tiba-tiba bertemu dengan peri-peri gigi yang cantik jelita. Di manakah Talia berada? Mengapa Talia berada di sana, dan mengapa behel Talia bisa terlepas dari giginya?

Cerita tentang behel kali ini sedikit fantasi. Jadi tambah peri-peri gitu. Dengan membaca buku ini kita jadi pengen pakai behel juga. Hehehe. Tapi kalau sama dokter gigi nggak usah, ya jangan dipakai. Ap[alagi harga behel kan mahal.

Selain itu, masih banyak lagi cerpen seru lainnya. Ada cerita detektif petualangan, dan banyak lagi. Penasaran, kan. Ayo baca semua ceritadi buku ini! Mumpung liburan, sebaiknya diisi dengan kegiatan membaca cerita-cerita seru yang penuh pelajaran.


Geus Rama Syarif, 10 thn, SD Az Zahra Palembang

HORE, 9 Juni 2012



Mengenal Pak A.T Mahmud, Pencipta Lagu Anak

Sebagai anak Sumatera Selatan, kita harus bangga lho. Kita punya seorang pencipta lagu anak yang sangat legendaris  bernama Masagus Abdullah Mahmud atau lebih dikenal dengan nama A.T. Mahmud.  Pak A.T Mahmud lahir di Kampung 5 Ulu Kedukan Anyar, Palembang, Sumatera Selatan, 3 Februari 1930 – meninggal di Jakarta, 6 Juli 2010 pada umur 80 tahun.

Karir mencipta Pak A.T Mahmud  ketika pada Januari 1963 ia mendaftarkan diri pada Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jakarta untuk melanjutkan pendidikan sampai sarjana. Pada tahun yang sama ia dipindahtugaskan ke Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK) di Jalan Halimun, Jakarta Selatan.

Di SGTK seolah ia menemukan lahan subur untuk mengembangkan bakat musiknya, khususnya mencipta lagu anak-anak. Ia pun meninggalkan kuliah bahasa Inggris, keluar dari FKIP, dan menekuni musik. Pimpinan sekolah sendiri senang akan musik. Guru Seni Musik pandai bermain piano dan . Siswa SGTK turut memberikan dorongan baginya untuk mengarang lagu anak-anak.
Tiap kali siswa SGTK melakukan latihan praktik mengajar, ada yang memerlukan lagu dengan tema tertentu menurut tugasnya. Pada masa itu, mencari lagu anak-anak yang sesuai dengan anak-anak agak sulit. Siswa yang memerlukan lagu baru datang kepadanya meminta dibuatkan lagu.  Pak A.T Mahmud pun mencoba. Lagu yang telah dibuat, diajarkan pada anak-anak TK saat praktik mengajar. Ternyata, lagu itu disukai. Hal ini membesarkan hatinya dan membuatnya makin tekun mengarang lagu anak-anak.
Memetik Gitar





Di rumah pada waktu senggang,  Pak A.T Mahmud mencoba mengarang lagu anak-anak sambil memetik gitar miliknya. Lagu anak-anak tentu berbeda dengan lagu untuk orang dewasa. Di mana bedanya? Pada pikiran, perasaan, dan perilaku anak itu sendiri. Ia pun mempelajari lagu anak-anak yang telah ada, seperti lagu-lagu Ibu Sud, Pak Dal, dan pencipta lagu anak-anak yang lain.

Saat tinggal di Kebayoran Baru, Mahmud sering mengajak anaknya bermain ke Taman Puring. Di sana ada ayunan, jungkat-jungkit, dan lapangan yang cukup luas sehingga anak-anak dapat melakukan permainan lain, seperti main lempar bola atau kejar-kejaran. Roike yang saat itu baru berumur 5 tahun senang sekali bermain ayunan. Ia begitu menikmati permainan itu dan menjaga agar anaknya tidak sampai mengalami kecelakaan. Perasaan Roike dan pesan agar hati-hati sehingga tidak mengalami itu ia tuangkan ke dalam lagu Main Ayunan.




 
Inspirasi lagu Pelangi hadir ketika ia mengantar anaknya, Rika, yang masih berusia lima tahun sekolah di TK. Di tengah perjalanan, Rika berteriak, "Pelangi!" sambil menunjuk ke arah langit. Ia mulai menyanyikan pelangi, mencari kata-kata yang tepat yang menjadi pikiran anak kecil, selanjutnya ketika tiba di rumah, ia iringi dengan gitar dan jadilah sebuah lagu.

Lahirnya lagu Ambilkan Bulan terjadi ketika anaknya Roike tengah bermain di beranda rumah. Saat itulah ia melihat ke langit dan melihat bulan. Segera ia berlari dan menggandeng lengan ayahnya diajak ke luar. Tiba-tiba si anak berkata, "Pa, ambilkan bulan." Jelas saja A.T. Mahmud bingung. Awalnya kejadian itu berlalu begitu saja. Namun, permintaan si anak terus terngiang di telinganya. Minta bulan, untuk apa? Dengan mencoba menerawang dunia dan bahasa anak, A.T. Mahmud pun menuliskan permintaan itu dalam bait-bait lagu. Tadinya "ambilkan bulan pa" diubah menjadi "ambilkan bulan bu" sehingga terkesan lebih lembut.

Lain lagi dengan lagu Amelia. Amelia adalah nama seorang anak kecil yang riang, sering bertanya, tidak bisa diam, lincah, dan ingin tahu banyak hal. Amelia adalah anak dari Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup pada masa Orde Baru. Emil Salim tak lain adalah sahabat waktu kecil Mahmud ketika sama-sama sekolah di Sekolah Menengah Umum Bagian Pertama (SMU, setingkat SLTP), di Palembang. A.T. Mahmud melukiskan sifat Amelia dalam lagunya sebagai gadis cilik lincah nian, tak pernah sedih, riang selalu sepanjang hari.

Dorongan untuk membuat lagu datang pula dari guru-guru. Salah satunya adalah Ibu Rosna Nahar. Para siswa pun senang dengan lagu-lagu ciptaannya. Ia kemudian membentuk kelompok paduan suara siswa SPG. Lagu ciptaannya terus bertambah, dan mulai tersebar di Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar terdekat, kemudian melebar di sekolah-sekolah lain. Radio Repulik Indonesia (RRI) memintanya membantu mengisi acara anak-anak pada sore hari, dengan memperkenalkan lagu lama maupun baru. Kesempatan ini ia pergunakan untuk memperkenalkan lagu ciptaannya sendiri.

Lagu Pilihanku


Atas usul  Pak A.T. Mahmud, tahun 1969 TVRI menambah acara lagu anak yaitu Lagu Pilihanku. Jika Ayo Menyanyi berbentuk pelajaran untuk menyanyikan lagu baru, maka Lagu Pilihanku bersifat lomba. Jumlah peserta lima orang yang dipilih melalui tes. Untuk testing, calon peserta harus melapor diri pada Kepala Sub Bagian Pendidikan, yang kemudian akan memperoleh Surat Peserta Testing. Testing dilakukan oleh dua orang yang ditunjuk koordinator acara, berlangsung di studio TVRI. Acara ini ditayangkan dua kali sebulan, bergantian setiap seminggu sekali dengan Ayo Menyanyi.

Setelah kedua acara di atas berlanjut dan berkesinambungan selama 20 tahun, pada tahun 1988, atas suatu kebijaksanaan pimpinan TVRI, seluruh tim diminta mundur dari kedua acara tersebut. Untuk beberapa saat acara Ayo Menyanyi dengan nama lain dilanjutkan dengan pembawa acara seorang artis, yang berlangsung tidak lama. Kemudian, pembawa acara digantikan seorang artis lain. Itu pun hanya bertahan sebentar, kemudian untuk seterusnya menghilang sama sekali dari tayangan di layar TVRI.

Kehadiran acara Ayo Menyanyi dan Lagu Pilihanku, ternyata telah menarik minat kalangan perusahaan rekaman untuk merekam lagu anak-anak pada piringan hitam. Tercatat nama perusahaan rekaman, seperti: Remaco, Elshinta, Bali, Canary Records, Fornada, J&B Records. Lagu-lagu ciptaan A.T. Mahmud pun mendapat perhatian. Di samping lagu-lagu ciptaan pencipta lainnya, ada sekitar 40-an lagu A.T. Mahmud tersebar pada tujuh piringan hitam antara tahun 1969, 1972, dan tahun-tahun sesudah itu,

Setiap kali mendengar lagu ciptaannya dinyanyikan, yang pertama-tama terbayang adalah peristiwa atau cerita bagaimana lagu itu tercipta dalam ruang, waktu, dan pelaku yang melatari. Atas dasar itu pulalah dikatakan bahwa lagu ciptaannya bersumber pada tiga hal, yang berdiri sendiri atau saling memengaruhi. Pertama: bersumber pada perilaku anak itu sendiri. Kedua: pada pengalaman masa kecilnya. Ketiga: pesan pendidikan yang ingin ia sampaikan pada anak-anak.
Nah, sekarang kita punya tugas agar anak-anak tetap menyanyikan lagu anak-anak. Salah satunya adalah karya cipta Pak A.T Mahmud ini.
(ben/net)

Friday, June 01, 2012

CERNAK, 3 JUNI 2012

Sahabat Terbaik

oleh Benny Rhamdani

Semua berawal ketika hujan deras sore itu ...

"Maaf."
Sarah menengok. Seorang perempuan sebaya dengannya tersenyum ramah. "Ya?" tanya Sarah.

"Namamu Sarah, kan?tanya perempuan itu."Namaku Winda."
"Benar. Hai Winda," Sarah menimpal sambil tersenyum.

Mereka berada di koridor Gelanggang Kota, sebuah bangunan luas yang sering dijadikan aneka kegiatan anak-anak dan remaja. Di sana banyak tempat kursus dan latihan. Dari mulai olahraga, bela diri, menari, dan sebagainya. Hujan membuat mereka tertahan pulang.

"Aku penggemarmu. Kamu yang suka nulis buku KKPK, kan?" tanya Winda.

Sarah tersipu. "Iya. Terima kasih sudah mau baca bukuku."

"Kamu di sini les apa?" tanya Winda senang melihat Sarah ternyata sangat ramah. tidak seperti yang ditakutinya.

"Aku les bahasa Inggris. Ya, suatu hari nanti aku ingin menulis buku berbahasa Inggris. Jadi bisa kuterbitkan di luar negeri," jelas Sarah. "Kalau kamu?"

"Aku les menggambar," jawab Winda. "Kamu melihat gambar-gambarku?"

"Ya, tentu saja," jawab Sarah.

Winda mengeluarkan kertas gambar dari tasnya. Sarah terbelalak melihat gambar karya Winda.

"Ini keren sekali," puji Sarah membuat Winda tersipu.

Hujan mengecil.

"Aku ingin membuat buku juga. Tapi aku tidak bisa menulis ceita," kata Winda.

"Bagaimana kalau kita kerja sama. Aku yang menulis cerita, kamu yang menggambarnya," ajak Sarah.

"Oh, bisa begitu ya?" Winda bingung.

"Nanti, kutanya editor bukuku."

"Senangnya. Terima kasih ya. Aku boleh minta nomor teleponmu?"

Sarah mengangguk, lalu memberi kartu namanya. Ada nomor HP-nya di sana. "Ini buatmu. Aku les setiap Selasa dan Kamis," kata Sarah.

"Aku Kamis dan Sabtu. Berarti Kamis depan kita ketemu lagi ya," kata Winda.

Hujan pun reda. Ayah Sarah datang dengan sepeda motor menjemputnya. Winda pulang sendiri berjalan kaki ke arah yang berlawanan.

 Seminggu kemudian mereka bertemu sebelum jam masuk les.

"Winda, aku sudah tanya sama kakak editor bukuku. Katanya, kita boleh kerja sama kalau gambarmu dianggap bagus. Aku yang menulis, kamu yang menggambarnya. Tapi kakak editor mau menilai dulu gambar kamu. Kalau bagus kita bisa kerja sama," jelas Sarah.

"Aduh, aku kok jadi deg-degan ya. Gambarku nggak sebagus yang di buku-bukumu. nanti malah merusak bukumu," ucap Winda.

"Ayo, biarkan kakak editor yang menilai. Katanya, gambarmu cukup discan lalu dikirim lewat e-mail. Mari aku bantu. Datanglah hari Minggu ke rumahku."

"Ah, sungguh aku boleh ke rumahmu?" Winda tak percaya.

"Iya tentu saja. datang pukul sepuluh ya. Kalau pagi, aku biasanya olahraga menemani ayah dan ibuku."

Winda mengangguk mantap.

Hari Minggu Sarah menunggu di teras depan sejak setengah sepuluh sambil membaca buku.  Pukul sepuluh Sarah masih belum melihat Winda datang. Sepuluh menit kemudian dia kaget karena ada mobil sedan mewah berwarna putih parkir di depan rumahnya. Tak lama kemudian Sarah melihat Winda turun dengan tergesa-gesa.

"Sarah, maaf aku terlambat. Pak Atmo tadi sakit perut. Jadi aku harus menunggunya benar-benar sehat agar bisa mengantarku," kata Winda.

"Tak apa. masuklah. Pak Atmo ajak masuk saja."

"Pak Atmo akan pulang lagi. Nanti kalau mau pulang, aku bisa telepon untuk menjemput," kata Winda.

"Masuklah. Maaf ya, rumahku kecil. Apalagi kamarku," ajak Sarah ke kamar.

 Mereka masuk ke kamar sarah. Winda kemudian membuka I-pad. Dia menunjukkangambar-gambarnya yang sudah discan.

"Gambar-gambarmu luar biasa," puji Sarah. Dia lalu mengirimkan gambar-gambar itu kepada editor bukunya.

Tiga hari kemudian sarah mendapat kabar gembira. Gambar-gambar Winda dinilai bagus dan bisa diterbitkan bersama tulisan Sarah. Langsung saja sarah menelepon winda. Keduanya bersorak bareng.

Sesudahnya, Sarah langsung menulis satu cerita tentang petualangan di Paris. Sarah belum pernah ke Paris. Tapi dia bisa menulis cerita tentang Paris dengan baik karena sering membaca buku tentang Paris. Setelah cerita ditulis, sarah memberikannya kepada Winda.

Winda membaca cerita Sarah. Dia semakin kagum dengan Sarah. Namun dia menemukan satu kesalahan di naskah itu. Buru-buru Winda menelepon sarah.

"Sarah, ada yang salah di naskahmu. Di Paris orang tidak menggunakan dollar untuk belanja. Di sana memakai Euro," kata Winda.

"Terima kasih, Winda. Nanti aku perbaiki lagi sebelum dikirim," kata Sarah senang.

Dua minggu kemudian Winda menyelesaikan gambar-gambarnya. sarah bertambah kagum dengan Winda.

"Gambarmu sangat mirip seperti kota Paris yang aku lihat di Internet," kata Sarah.

"Aku kan dulu tinggal di sana sewaktu kecil. Cuma setahun mengikuti Papa," jelas Winda.

"Oh, pantas!"

Dua hari kemudian mereka mengirimkan naskah dan gambar ke penerbit buku. Sebulan kemudian buku mereka dinyataklan akan diterbitkan.

Saat buku itu kemudian terbit, persahabatan Sarah dan Winda semakin erat. Bahkan mereka selalu menerbitkan buku berdua. Benar-benar persahabatan yang penuh arti.

^_^


ARENA KKPK, 3 JUNI 2012

Ssst, Rahasia!
Judul: Rahasia Reyko
Penulis: Avie
124 halaman

 

Yang namanya rahasia memang selalu bikin penasaran. Dan aku yakin semua anak punya rahasia. Ada yang harus dirahasikan karena bisa membuat kita malu, ada juga dirahasiakan karena membahayakan orang lain.

Rahasia itu kadang bikin aku penasaran. Makanya, aku langsung ingin membaca buku berjudul Rahasia Reyko ini.  Saat pelajaran olahraga, tiba-tiba Reiko bersembunyi ke UKS. Dia punya rahasia! Rahasianya itu hanya boleh diketahui anak perempuan. Jadi, jangan sampai anak laki-laki tahu. Rahasia apa yang disembunyikan Reiko? Mengapa hanya anak perempuan yang boleh mengetahui?
Ceritanya dari awal sangat membuat aku penasaran. Apalagi cara bercerita tokoh-tokohnya juga menarik.
Mudah-mudahan setelah ini peulisnya mau menulis lagi cerita yang bikin penasaran begini. Selain tentang rahasia, buku KKPK ini bercerita juga tentang persahabatan. Ya cerita yang tak pernah habis diceritakan di KKPK, tapi tetap selalu menarik.

Nah, jika sahabat kamu menyimpan satu rahasia kepadamu, apakah kamu akan menjaganya?


Balkis Shafira, SD IBA Palembang

HORE, 3 JUNI 2012

Ke Pasar Yuk!
Kalian pernah mengantar Ibu ke  Pasar 16 Ilir, Pasar Induk Jakabaring, Pasar Kuto, Pasar Plaju, Pasar 26 Ilir, dan Pasar Gubah?  Nah, tahukah kalian bahwa semua yang disebut itu masuk ke dalam kelompok pasar tradisional? Apa bedanya ya dengan pasar modern.

Pasar adalah tempat bertemunya calon penjual dan calon pembeli barang dan jasa. Di pasar antara penjual dan pembeli akan melakukan transaksi. Transaksi adalah kesepakatan dalam kegiatan jual-beli. Syarat terjadinya transaksi adalah ada barang yang diperjual belikan, ada pedagang, ada pembeli, ada kesepakatan harga barang, dan tidak ada paksaan dari pihak manapun.


Pasar Tradisional
 



 
Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar. Bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar.


Kebanyakan di dalam pasar menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar.

Beberapa pasar tradisional yang "legendaris" antara lain adalah pasar Beringharjo di Yogyakarta, pasar Klewer di Solo, pasar Johar di Semarang. Pasar tradisional di seluruh Indonesia terus mencoba bertahan menghadapi serangan dari pasar modern.

Pasar Modern

Pasar modern tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun pasar jenis ini penjual dan pembeli tidak bertransakasi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode). Pasar modern berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual, selain bahan makanan makanan seperti; buah, sayuran, daging; sebagian besar barang lainnya yang dijual adalah barang yang dapat bertahan lama. Contoh dari pasar modern adalah hypermarket, pasar swalayan (supermarket), dan minimarket.

Pasar Terapung

Pasar Terapung adalah sebuah pasar tradisional yang seluruh aktivitasnya dilakukan di atas air dengan menggunakan perahu. Suasana pasar terapung yang unik dan khas adalah berdesak-desakan antara perahu besar dan kecil saling mencari pembeli dan penjual yang selalu berseliweran kian kemari dan selalu oleng dimainkan gelombang sungai. Kebanyakan para pedagang adalah wanita. Menariknya, di Pasar terapung ini juga masih berlaku barter antar pedagang. Tak ada organisasi pedagang sehingga jumlah mereka yang berjualan tak terhitung. Mereka datang untuk berjualan, dan bubar dengan sendirinya ketika matahari pagi mulai terik.
Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pada pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung atau pembagian pedagang berdasarkan barang dagangan. Pasar ini unik karena selain transaksi dilakukan di atas perahu, pedagang dan pembelinya juga tidak terpaku di suatu tempat, tetapi terus bergerak mengikuti arus sungai. Keunikan ini membuat pasar terapung ini disebut sebagai Pasar Balarut.

Pasar Terapung yang terkenal di Indonesia berada di provinsi Kalimantan Selatan. Pasar Terapung di Kalsel ini mulai melakukan aktivitas transaksi jual beli pada subuh hingga pukul 10 pagi. Dari beberapa Pasar Terapung di Kalimantan Selatan, yang menjadi objek wisata terkenal adalah Pasar Terapung Muara Kuin di Banjarmasin dan Pasar Terapung Lok Baintan di Sungai Tabuk, Banjar.

Pasar Terapung juga ditemukan di Thailand, Kamboja dan Vietnam.
 
Nah, kalian lebih suka pergi ke pasar yang mana?
 
(ben/net)

Saturday, May 26, 2012

ARENA KKPK, 27 MEI 2012

Novel dari Film Ambilkan Bulan
 
 
 Judul: Ambilkan Bulan
 Penulis: Shara
 124 halaman


Pernah dengar lagu Ambilkan Bulan? Itu lagu anak-anak lama karya Pak A.T  Mahmud. Dan ternyata pencipta lagu ini berdarah Palembang lho. Karena sedikit anak-anak sekarang yang tahu lagu itu, akhirnya lagu itu dijadikan film anak-anak yang akan tayang di bioskop akhir Juni nanti.

Nah, Shara, penulis KKPK diminta menulis novel berdasarkan skenario film itu. Hasilnya ternyata keren. Maklum deh, Shara kan udah punya banyak buku KKPK yang best seller. Terus, ceritanya tentang apa ya?

Lewat dunia maya, Amelia berhasil menemukan sepupunya, Ambar, yang tak pernah dikenalnya. meskipun mamanya tak mengizinkan, Amelia bersikeras ingin berlibur ke rumah Ambar di desa, sekaligus ingin bertemu dengan kakek dan neneknya yang ternyata masih hidup.

Di sanalah Amelia dan teman-teman barunya mengalami petualangan menegangkan ketika mereka tersesat di Hutan Sentanu yang angker. Benarkah di hutan itu ada genderuwo seperti kepercayaan warga di takuti setengah mati oleh semua orang itu? Oh iya, di buku ini juga ada  cerita kejahatan para penebang hutan liar lho. Jahat ya mereka.

Sebelum nonton filmnya, yuk kita baca novel KKPKnya. Mudah-mudahan nanti akan banyak lagu dan film anak-anak yang benar-benar untuk anak-anak ya.

Balkis Shafira, SD IBA Palembang

CERNAK, 27 MEI 2012

Gadis Kecil
oleh Benny Rhamdani


Sejak tadi gadis itu mengamati lelaki tua yang sedang melukis di sudut taman kota. Karena tertarik, gadis kecil itu menghampiri lelaki tua itu.

"Selamat sore, Pak. Namaku Laura. Boleh aku melihat lukisan bapak?" tanya Laura sambil melihat bidang kanvas.

"Namaku Pak Loyd. Silakan saja kalau ingin melihat. Lukisanku hampir jadi sebentar lagi," katanya.

Laura memerhatikan lukisan Pak Loyd. Lukisan suasana tman kota yang sedang ramai di sore hari.

"Aduh lucunya anak kecil di bawah air mancur itu," kata Laura menunjuk bagian lukisan. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke air mancur di taman. "Kapan ya anak kecil itu datang?"

"Seminggu yang lalu ketika aku melukis di sini. Aku memang bukan pelukis sekali jad," kata Pak Loyd.

"Ah, seandainya anak kecil itu datang lagi ke air mancur, aku ingin mencubit pipinya. Gemas," ujar Laura.

 "Mana bisa. Anak kecil itu bernama Regina. Dia meninggal enam hari lalu karena sakit," jelas Pak Loyd dengan mata menerawang,

"Oh, kasihan sekali," kata Laura sambil kembali memerhatikan lukisan. "Dan wanita cantik ini siapa ya? Lihat pakaiannya indah sekali."


"Aku melukisnya tiga hari yang lalu. Dia juga sudah meninggal dua hari yang lalu," kata Pak Loyd.


"Ah, mengapa Pak Loyd melukis orang yang akan meninggal?" tanya Laura.


"Aku hanya menulis orang-orang di taman ini yang ada cahaya di wajahnya. Entah mengapa, kemudian mereka meninggal,"  Pak Loyd menjelaskan.


"Aku jadi merinding," kata Laura. "Aku mau jalan-jalan dulu di taman ya."


Laura mengelilingi taman. Dia tersenyum setiap kali berpapasan dengan orang. Tapi semua sepertinya sedang sibuk jadi tak membalas senyuman Laura.




Laura duduk di dekat air mancur. Ia merasakan percikan air yang sejuk ke wajahnya.


"Ah sudah hampir malam. Aku harus pulang," kata Laura tersadar. Dia berjalan menuju pintu gerbang taman. Tapi dia tak menemukannya. Laura mengitari taman tapi tak ada satu pun pintu ke luar taman.

"Oh, mengapa orang-orang bisa keluar masuk taman ini, sementara aku tak menemukan bentuk pintu tamannya?" Laura bingung.

Laura bertanya kepada orang-orang yang lewat. Tapi mereka tak mau menjawab pertanyaan laura. Akhirnya, Laura memutuskan menemui Pak Loyd yang hampir selesai melukis.

"Pak Loyd, aku ingin pulang. tai mengapa aku tak bisa pulang?" tanya Laura. Dia memerhatikan lukisan Pak Loyd. "Mengapa aku ada di lukisanmu?"

"Laura, aku bisa mengantarmu pulang. Tapi tidak ke rumahmu. Kamu akan kuantar pulang ke tempat lain yang tak kalah indahnya dengan taman ini," kata Pak Loyd.

"Mengapa?" tanya Laura masih bingung.


"Kau sudah meninggal sehari yang lalu. Sore ketika kamu menyeberang jalan, sebuah mobil menabrakmu. Supirnya mengendarai mobil sambil menggunakan handphone. Itu sebabnya aku juga melukismu," kata Pak loyd.


Laura ingin menangis. Tapi tak bisa. Jadi dia sudah meninggal ... ah.


"Kamu akan berkumpul bersama-sama kakek-nenekmu yang sudah meninggal lebih dulu," kata Pak Loyd sambil mengulurkan tangannya.


Laura memegang tangan pak Loyd. Lalu dia merasakan dirinya terbang perlahan ke langit. Ya, dia sudah meninggal sehari yang lalu akibat kecerobohan seorang pria.




 ^_^