Friday, October 09, 2009

Cernak, 11 Oktober 2009


Detektif Sok Tau!


Oleh Benny Rhamdani

Namanya Doni. Badannya kecil, tapi merasa otaknya paling besar. Maksudku, dia merasa paling pintar di kelas. Mungkin di seluruh dunia. Setiap orang ditanyai setiap hari, barangkali mereka punya masalah. Doni bilang, dia siap membantu.


Memang sih Doni anak pintar. Rankingnya selalu bergantian denganku di kelas. Tapi aku tidak pernah merasa sok pintar seperti Doni. Seperti hari ini. Tiba-tiba saja dia merasa orang yang paling dapat memecahkan teka-teki hilangnya sepatu Bram di teras mushola.


“Jam berapa sepatumu hilang?” Doni sok menyelidik. Aku yang duduk tak jauh dari Bram hanya geleng-geleng kepala.


“Waktu habis olahraga tadi. Anak-anak lain kan ganti pakaian di toilet, karena penuh aku ganti di mushola,” jawab Bram yang masih tanpa alas kaki.


Ada siapa saja waktu itu?”


“Aga dan Hesa. Tapi mereka masuk dan keluar bareng denganku.”


“Selain mereka?”


“Yang kulihat hanya mereka. Kalau di luar aku nggak tahu.”


“Sudah kamu lapor ke guru piket?”


“Sudah. Tapi guru piket belum tentu nyari sepatuku.”


“Ya iyalah.”


Aku tertawa geli. Buat apa sih heboh begitu? Bram itu anak orang kaya. Pasti papa dan mamanya nggak akan susah mengeluarkan uang untuk membeli sepatu baru. Lagian, yang kutahu Bram itu sepatunya banyak sekali. Kalau aku jadi dia, mungkin aku akan lupa mana sepatuku.


“Tenang ya, Bram. Sepatumu pasti akan segera kutemukan. Pulang nanti kamu nggak akan nyeker seperti sekarang,” janji Doni.


“Aku tadi sudah telepon supirku supaya mengambil sepatu lainnya di rumah. Jadi kalau nggak ketemu, aku pulang nggak akan nyeker kok,” kilah Bram.


“Masalahnya, aku penasaran. Mengapa hanya sepatumu yang hilang? Sepatu Aga dan Hesa tidak diambil.”


Aku menahan tawa lagi. Ya iyalah. Yang kuatahu sepatu Hesa dan Aga sepatu sekolah biasa. Tidak semahal punya Bram.


Doni bergerak. Jam istirahat. Aku jadi penasaran ingin tahu apa yang dilakukannya. Kubuntuti Doni. Ternyata dia pergi ke mushola. Dia mengamati teras sekitar mushola. Doni kemudian melihat-lihat sekitar mushola. Membuka tong sampah, balik rak sepatu sampai ke tanaman dekat mushola.


Sepertinya Doni gagal menemukan petunjuk. Dia kemudian ke sisi lapangan. Didekatinya Aga dan Hesa. Aku pura-pura mendekati Yuli yang sedang bercerita tentang artis dengan teman-teman lainnya di dekat mereka.


“Sungguh, aku nggak tahu apa-apa,” kata Aga.


“Maksudku apakah sepatu Doni benar-benar hilang atau dia pura-pura saja,” jelas Doni.


“Aku yakin benar-benar hilang. Soalnya, kami membuka sepatunya bersamaan. Masuk juga bareng, tapi pas keluar sepatunya tidak ada di tempat,” jelas Hesa.


“Hmmm!” Doni kelihatan bingung.


Salah sendiri. Kenapa sok-sokan jadi detektif.


“Apa kalian tidak melihat sesuatu yang aneh atau mencurigakan?” Doni bertanya lagi.


“Apa ya? Oh aku tahu. Saat masuk, lantai teras mushola agak kotor. Lalu saat keluar tampak bersih dan basah. Pasti habis dipel Pak Mahmud,” kata Aga kemudian.


“Wah, ini pasti kuncinya. Bisa jadi Pak Mahmud pelakunya!” seru Doni.


“Nggak mungkin!” teriakku.


Ketiga anak lelaki itu terkejut karena mendengar suaraku yang menyela obrolan mereka.


“Pak Mahmud orang yang soleh. Dia baik sekali. Dia nggak mungkin mencuri sepatu Bram. Buat apa? Dia nggak punya anak lelaki sebaya kita,” jelasku.


“Salsa, rupanya kamu juga ikut-ikutan jadi detektif ya? Pantas dari tadi mengekori aku,” ledek Doni. Dia memang paling suka menggodaku.


“Huh!” aku mendengus. “Pokoknya, aku nggak mau kalian menuduh Pak Mahmud.”


“Ya, kita buktikan saja. Kita cari Pak Mahmud saja dulu,” ajak Doni.


Aku mengikutinya mencari Pak Mahmud. Tapi dicari kemana-mana tidak ada. Akhirnya kami bertanya ke guru piket. Rupanya, jawabannya di luar dugaan. Pak Mahmud tadi minta ijin ke luar sekolah karena keponakannya ada yang kecelakaan.


“Tuh, kan. Pasti itu alasan saja untuk keluar dari sekolah. Mungkin Pak Mahmud menjual sepatu itu ke penadah barang curian,” simpul Doni saat kami meninggalkan guru piket.


“Aku tetap yakin, Pak Mahmud tidak mencuri,” kataku tegas.


Bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. Kudengar bisik-bisik Doni ke beberapa teman bahwa dia sudah menemukan siapa pencuri sepatu Bram. Tentu saja teman-teman sekelas jadi heboh. Tapi aku sudah meminta Doni jangan menyebut nama Pak Mahmud sebelum benar-benar terbukti.


Pelajaran matematika dimulai. Kami berkutat dnegan soal ulangan yang diberikan Pak Amilus. Kira-kira sepuluh menit menjelang pelajaran matematika berakhir, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar. Pak Amilus membuka pintu. Ternyata yang muncul Pak Mahmud.


“Maaf, Pak. Tadi saya diberitahu guru piket kalau Bram kehilangan sepatunya di teras mushola. Sekali lagi maafkan saya. Sepatu Bram tidak dicuri. Tadi sewaktu saya mengepel teras mushola, secara tidak sengaja air di ember tumpah dan kena sepatu Bram. Lalu saya jemur di atas genteng mushola. Pas, saya mau bilang ke Bram, tahu-tahu saya ditelepon oleh saudara saya. Keponakan saya ada yang kecelakaan. Saya segera ke rumah sakit. Untunglah lukanya tidak parah, jadi saya bisa segera ke sekolah,” jelas Pak Mahmud panjang lebar.


Pak Mahmud kemudian memberikan sepatu di tangannya kepada Bram. Dia meminta maaf kepada Bram sambil menundukkan kepala. Bram langsung memaafkan.


Aku bernafas legas.


Saat pulang sekolah, aku langsung menghampiri Doni. “Lihat, Pak Mahmud bukan pencuri, kan?” kataku.


“Tapi pelakunya Pak Mahmud. Titik!” Doni tak mau kalah.


Huh, dasar detektif sok tau!

^-^

Thursday, October 08, 2009

Hore, 11 Oktober 2009

Hujan Aneh di Penjuru Dunia


Kalian pernah membayangkan hujan yang turun bukan butiran air? Ya, dfi antara kalian pasti ada yang pernah membayangkan hujan duit. Hehehehe. Tapi tahukah kalian, bahwa di dunia ini pernah terjadi banyak hujan yang bukan air? Ada hujan ikan, hujan air merah, hujan uang, hujan laba-laba … wow!



Biar kalian tidak penasaran, yuk kita simak ceritanya.


Hujan Ikan


Hujan ikan diceritakan dalam Cerita Rakyat Honduras. Namun, juga terjadi secara nyata di Departamento de Yoro, Honduras, antara bulan Mei dan Juli. Saksi mengatakan bahwa fenomena ini dimulai dengan awan gelap di langit, diikuti dengan kilat, guntur, angin kencang dan hujan lebat selama 2 - 3 jam. Setelah hujan berhenti, ratusan ikan ditemukan hidup di tanah. Orang mengambil ikan - ikan ini dan memasaknya. Sejak 1998, Festival Hujan Ikan dirayakan setiap tahun di kota Yoro.



Kejadian hujan ikan ini pernmah pula terjadi di Singapur pada 1861 lho. Hal tersebut membuat beberapa pelukis tergerak mengabadikan kejadian tersebut dalam sebuah lukisan.

Kabarnya, hujan ikan ini terjadi akibat badai hebat di luat yang kemudian bergerak ke daratan. Badai itu membawa sejumlah ikan dan mengempaskannya di daratan. Itu sebabnya terjadi hujan ikan.


Hujan Laba-laba


Pada 6 April 2007, hujan laba-laba jatuh dari langit Provinsi Salta, Argentina. Seorang warga negara Argentina Christian Oneto Gaona, menjadi saksi adanya hujan laba-laba, juga menjadi orang pertama di dunia yang mampu “menangkap“ hujan ajaib ini melalui kamera.



Christian dan teman-temannya sepakat untuk melakukan perjalanan ke Propinsi Salta selama liburan Paskah mereka. Sekitar pukul 15.00 waktu setempat, pada tanggal 6, mereka mulai mendaki Gunung San Bernardo. Dua jam kemudian, mereka menemukan, tanah di sekeliling mereka telah diselimuti beragam warna laba-laba, masing-masing berukuran kurang lebih 4 inci.Lalu mereka menengadah dan melihat banyak laba-laba jatuh dari atas langit.


Semua orang terperangah. Christian baru teringat bahwa dia membawa kamera. Dengan terburu-buru dia memotret beberapa laba-laba yang jatuh dari langit dan laba-laba lain yang sedang membuat jaring-jaringnya. Laba-laba tersebut terlihat sangat menakutkan, merayap kemana-mana, dan jaring dimana-mana. Ini lebih menyerupai film fiksi science daripada suatu kenyataan, kata Christian.


Hujan Uang Koin


Sebenarnya ada banyak kejadian hujan uang koin yang tercatat dari berbagai penjuru dunia. Pada 1940 hampir 1000 koin jatuh di kawasan Meshchera, Russia dalam sebuah bencana badai. Yang mengejutkan, semua koin berasal dari abad ke-16. Aneh sekali!


Pada 1956, uang koin menimpa anak-anak di Hanham, Inggris, ketika mereka pulang sekolah. Pada 1982, sejumlah anak di Manchester, Inggris, menyerbu took untuk membeli cokelat. Penjaga toko mengira anak-anak itu telah mencuri kotak amal. Tapi anak-anak itu semua berkata mendapatkan uang yang jatuh dari langit.


Hujan Merah


Tidak ada yang mengerti apa yang sedang terjadi, Pada saat itu, 25 Juli 2001, hujan lebat dengan air berwarna merah menghujani negara bagian Kerala di India. Hujan itu berlangsung hingga September 2001. Lebih dari 500.000 meter kubik air hujan berwarna merah tercurah ke bumi. Pada mulanya ilmuwan mengira air hujan yang berwarna merah itu disebabkan oleh pasir gurun, namun para Ilmuwan menemukan sesuatu yang mengejutkan, unsur merah di dalam air tersebut adalah sel hidup.



Hujan yang pertama jatuh di distrik Kottayam dan Idukki di wilayah selatan India. Bukan hanya hujan berwarna merah, 10 hari pertama dilaporkan turunnya hujan berwarna kuning, hijau dan bahkan hitam. Setelah 10 hari, intensitas curah hujan mereda hingga September. Hujan tersebut turun hanya pada wilayah yang terbatas dan biasanya hanya berlangsung sekitar 20 menit per hujan. Para penduduk lokal menemukan baju-baju yang dijemur berubah warna menjadi merah seperti darah. Penduduk lokal juga melaporkan adanya bunyi ledakan dan cahaya terang yang mendahului turunnya hujan yang dipercaya sebagai ledakan meteor.


Semula ilmuwan mengira itu ada hubungannya dengan makluk luar angkasa. Ternyata berasal dari sejenis ganggang di daerah tersebut yang terbawa badai.


(ben)

Friday, October 02, 2009

Hore, 4 Oktober 2009


Aku Bangga Pakai Batik


Wah, pada 2 Oktober lalu di pelbagai penjuru banyak sekali masyarakat Indonesia yang memakai batik. Kalian tahu kenapa? Ya, karena sejak hari itulah dicanangkan Hari Batik Nasional.


Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB. UNESCO menunjuk batik Indonesia sebagai mahakarya warisan budaya manusia pada 2 Oktober 2009.




Mulanya Khusus Perempuan


Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa "amba" yang berarti menulis dan "nitik". Kata batik sendiri meruju pada teknik pembuatan corak - menggunakan canting atau cap - dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna corak "malam" (wax) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah wax-resist dyeing. Jadi kain batik adalah kain yang memiliki ragam hias atau corak yang dibuat dengan canting dan cap dengan menggunakan malam sebagai bahan perintang warna. Teknik ini hanya bisa diterapkan di atas bahan yang terbuat dari serat alami seperti katun, sutra, wol dan tidak bisa diterapkan di atas kain dengan serat buatan (polyester).

Kain yang pembuatan corak dan pewarnaannya tidak menggunakan teknik ini dikenal dengan kain bercorak batik - biasanya dibuat dalam skala industri dengan teknik cetak (print) - bukan kain batik.

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini.

Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.


Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.


Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa.


Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.



Membuat Batik


Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya.

Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda.

Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.


Jenis Batik

Batik ada dua jenis pembuatan. Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.

Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.



Saat ini batik tidak hanya untuk pakaian saja, tapi juga bisa kita temukan pengunaannya untuk segala macam. Ada untuk sandal, sepatu, bahkan ada juga Al quran berhiaskan batik lho.

Nah, kalian sebagia masyarakat Indonesia tentunya harus ikut melestarikan batik ini. Jangan sampai batik ini punah atau diakui negara lain sebagai seni budaya mereka. Pokoknya, kita harus bangga dengan batik!

(ben)

Friday, September 25, 2009

CERNAK, 3 Oktober 2009



Kegembiraan Princess Humayra



Musim kemarau yang singkat telah berakhir. Hujan mulai mengguyur istana dan sekelilingnya. Princess Humayra merasa senang karena rakyat di negerinya telah melewati masa-masa sulit mendapatkan air bersih.


“Alhamdulillah, hujan mulai turun. Semoga hujan ini membawa berkah untuk seluruh rakyat,” doa Princess Humayra di hendela kamarnya.


“Princess Humayra, hujan belum turun di semua tempat negeri ini. Bahkan ada sebuah desa yang sudah sangat kekeringan,” tiba-tiba terdengar suara burung kecil di dekat Princess Humayra.


“Opps! Assalammualaikum, burung kecil. Kukira siapa?” kata Princess Humayra sambil tersenyum.


“Waalaikumsalam. Maaf aku mengejutkan Princess karena tidak mengucapkan salam dulu,” burung kecil tersipu malu.


“Benarkah kabar yang kau sampaikan tadi?” tanya Princess Humayra.


“Ya, aku mendengar dari beberapa temanku yang terbang ke sana. Namanya Desa Silamaya. Letaknya di sebelah barat kerajaan,” jelas burung kecil.


“Kalau begitu aku akan mengunjungi desa itu segera,” ucap Princes Humayra.


Keesokan harinya atas seizin Baginda Raja Akbar, Princess Humayra melakukan perjalanan dengan rombongan pengawal. Mereka membawa serta persediaan air dan makanan untuk bantuan.


Begitu memasuki Desa Simalaya, Princess Humayra merasa sedih melihat pemandangan di depannya. Tanah-tanah kering kerontang. Pepohonan tak bisa tumbuh di atasnya. Warga desa banyak yang terserang penyakit.


“Padahal beberapa bulan sebelumnya desa ini baru saja melewati panen dan merayakannya bermewah-mewahan,” jelas seorang pengawal.


Princess Humayra segera menemui Kepala Desa. Tapi keadaan Kepala Desa sedang sakit. Tak banyak yang bisa diharapkan darinya..


“Kalau begitu, kita langsung bergerak membantu warga desa ini,” ajak Princess Humayra kepada pra prajurit. “Pertama-tama, kita harus mencari sumber air untuk dibagikan kepada warga desa,” ucap Princess Humayra.


“Kami siap mengerjakan!” jawab para parjurit.


Tanpa membuang banyak waktu para prajurit segera bekerja. Tapi dari pagi hingga waktu shalat zuhur tiba, mereka belum menemukan satu sumber air pun.


“Kita harus mencari sumber air dari desa terdekat, lalu memasang pipa hingga ke desa ini,” saran seorang prajurit.


“Baiklah, itu saran yang bagus. Tapi sebaiknya kalian shalat zuhur dulu dan berdoa agar kita diberi kemudahan,” kata Princess Humayra.


Usai shalat zuhur dan makan siang, sebagian prajurit mengantar Princess Humayra menuju ke desa terdekat. Namanya Desa Kiarani.


“Subhanallah, desa ini hijau sekali,” kata Princess Humayra saat memasuki desa itu.


Kepala Desa menyambut kedatangan Princess Humayra dengan senang hati. Dia malah menawarkan warganya untuk ikut membantu Desa Simalaya.


Akhirnya, para prajurit membuat pipa panjang dari sumber air di Desai Kiarani menuju Desa Simalaya. Jumlahnya tak banyak, tapi untuk sementara cukup membantu warga Desa Simalaya.


“Alhamdulillah, sekarang warga desa bisa menggunakan air bersih untuk masak,” kata Princess Humayra senang.


“Pak Kepala Desa, bagaimana desa ini bisa terhindar dari kekeringan? Padahal letaknya bersebelahan dengan Desa Simalaya,” tanya Princess Humayra.


“Yang utama kami selalu berusaha menjaga alam dan lingkungan hidup di desa kami. Selain itu, kami biasa beristighfar kepada Allah agar senantiasa diampuni kesalahan kami. Bisa saja dalam bertani, beternak, ataupun pekerjaan lainnya kami melakukan kesalahan, baik sengaja maupun tidak,” jelas Kepada Desa.


“Istighfar? Ya, selama bekerja membangun pipa tadi, aku mendengar warga Desa Kiarani terus beristighfar. Rupanya memang sudah menjadi kebiasaan mereka,” kata Princess Humayra.


“Begitulah adanya, Princess Humayra,” kata kepala Desa.


Princess Humayra pun merenung beberapa saat.Princess Humayra kemudian mengumpulkan warga Desa Simalaya. Juga Kepala Desanya.


“Mulai hari ini, seluruh warga desa ini harus meniru desa sebelah. Mereka sangat mencintai dan menjaga kelestarian alam. Sehingga ketika musim kemarau tiba mereka tidak dilanda bencana kekeringan,” kata Princess Humayra.


“Siap!” seru warga desa.


“Kalian juga harus memperbanyak istighfar kepada Allah, agar desa ini senantiasa dilindungi Allah,” tambah Princess Humayra.


Sejak itu warga desa mulai melaksanakan titah Princess Humayra. Mereka mengucapkan astagfirullahhaladzim saat berdoa, saat bicara, saat bekerja dan saat-saat lainnya yang memungkinkan.


Mereka juga mulai menjaga kelestarian alam di sekitar mereka. Pengalaman telah mengajarkan mereka untuk mencintai lingkungan hidup.


Tiga hari kemudian, hujan turun di Desa Simalaya. Semua warga bersuka cita.


“Alhamdulillah, Allah mendengar doa kami,” kata warga desa.


Kegembiraan warga desa itu juga dirasakan warga desa lainnya, bahkan sampai juga ke telinga Princess Humayra yang sudah kembali ke istana.


“Aku berharap warga Desa Simalaya mau belajar dari ujian berat yang baru saja mereka lewati. Semoga Allah selalu bersama mereka. Astagfirullahhaladzim. Amin,” doa Princess Humayra.


Berbulan-bulan kemudian Desa Simalaya kembali subur. Saat panen raya di pertanian, warga desa tak merayakannya dengan bermegah-megahan lagi. Mereka menggunakan harta bersama untuk membangun sebuah bendungan. Suatu hari kelak bendungan itu akan berguna sebagai persediaan pengairan di kala musim kemarau.

^-^

Friday, September 11, 2009

Hore, 13 September 2009

Yuk, Kita Kenali dan Jaga Bersama!


Kalian tentunya sudah tahu bahwa negeri kita ini kaya sekali dengan corak seni dan budaya. Maka, tidak heran jika banyak bangsa luar yang mengagumi, bahkan ingin memilikinya. Sayangnya, kita sendiri malas mengenalnya, sehingga sering kali kita jadi tidak menjaganya.


Nah, biar kalian tahu lebih banyak corak seni budaya nusantara yuk ikuti cerita tentang tiga seni dan buidaya berikut ini.


Angklung Pernah Dilarang Penjajah


Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari Tanah Sunda, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.


Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.


Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.


Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Selanjutnya dinyanyikanlah lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung.


Dalam perkembangannya, angklung menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.


Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

besar.


Tari Pendet Penyambut Tamu


Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalah I Wayan Rindi pada 1967.


Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis.


Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.


Reog yang Perkasa


Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan.


Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok , namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15.


Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping.

Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.


Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Tentu saja tidak semua orang bisa melakukannya. Hanya orang perkasa yang bisa.


Nah, karena kalian sudah mengenalnya, sekarang kita jaga yuk seni dan budaya kita. Jangan sampai bangsa lain yang malah mengakuinya kelak.

(ben)

Sunday, September 06, 2009

Cernak, 13 September 2009


Nikmat Bersyukur


oleh Benny Rhamdani

Princess Humayra sesekali senang menyamar menjadi rakyat jelata. Dia ingin menyaksikan sendiri kehidupan rakyatnya. Sebab, ada kalanya hal yang disampaikan oleh para pejabat kerajaan tidak sesuai kenyataan.

Hari ini Princess Humayra menyamar sebagai pedagang roti keliling.

“Roti-roti! Siapa mau beli?” teriaknya sambil membawa keranjang roti.

“Penjual roti! Aku mau beli roti. Boleh aku lihat rotinya,” panggil seorang wanita setengah baya.

Princess Humayra mendekatinya. “Silakan dilihat,” kata Princess Humayra.

“Huh, rotinya kecil-kecil dan tidak menarik. Aku tidak jadi beli ah,” kata wanita itu kemudian.

“Walaupun kecil-kecil, tapi roti ini sangat lezat dan penuh gizi,” jelas Princess Humayra.

“Aku tidak percaya kecuali aku diberikan satu roti gratis untuk kucoba,” kata wanita itu.

Princess Humayra memberikan satu roti kepada wanita itu. Tanpa mengucapkan terima kasih sepatah kata pun, wanita itu langsung memakannya.

“Ah, rasanya tidak enak. Aku tetap tidak mau beli,” kata wanita itu walaupun telah menghabiskan roti pemberian Princess Humayra.

Belum sempat Princess Humayra pergi, tiba-tiba lewat seorang lelaki tua penjual manisan.

“Penjual manisan! Aku mau beli manisan. Boleh aku lihat manisannya,” panggil wanita setengah baya itu.

Penjual manisan kemudian mendekat sambil membuka keranjangnya.

“Alhamdulillah. Silakan dilihat dulu,” kata penjual manisan.

“Ah, manisannya kecil-kecil dan kurang wangi. Ku tidak mau membeli kalau tidak boleh mencoba,” kata wanita itu.

“Alhamdulillah jika ibu mau mau mencobanya,” kata penjual manisan itu sambil memberikan satu manisan untuk dicobai wanita itu.


“Huh, tidak manis sama sekali. Aku tidak jadi beli ah,” kata wanita itu.

“Alhamdulillah. Terima kasih atas kometar ibu,” kata penjual manisan tak marah sama sekali.

Lelaki itu meneruskan langkahnya berkeliling menjual manisan. Princess Humayra mengikuti penjual manisan itu. Dia sangat kagum dengan kebaikan hati si penjual manisan.

“Pak, boleh aku bertanya sedikit?” pinta Princess Humayra sambil berjalan.

“Alhamdulillah, tentu saja boleh,” jawab penjual manisan sambil berhenti di sebuah bangku taman.

“Mengapa bapak selalu mengucapkan hamdalah?” tanya Princess Humayra.

“Alhamdulillah kau menanykannya. Aku mengucapkan hamdalah setiap kali aku mendapatkan sesuatu yang pastiya dari Allah juga. Sesuatu itu tidak mesti benda, tapi juga salam, sapaan, pertanyaan, pujian dan kritikan dari orang-orang,” kata penjual manisan.

“Tapi bapak juga mengucapkan hamdalah saat memberi manisan tadi. Padahal bukan sedang menerima,” kata Princess Humayra.

“Saat memberi, aku bersyukur kepada Allah karena dilimpahkan rejeki sehingga bisa memberi kepada orang lain. Itu sebabnya aku mengatakan hamdalah,” kata penjual manisan.

Princess Humayra mengucapkan terima kasih karena sudah memetik satau pelajaran dari penjual manisan itu.

“Alhamdulillah jika kau sudah mengerti. Sekarang, ayo ikut aku ke lapangan di utara. Di sana sedang ada perayaan. Pasti akan banyak pembeli dagangan kita,” ajak penjual manisan.

Mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan ke lapangan utara.

Di lapangan utara Pincess Humayra langsung menjajakan dagangannya bersama penjual manisan. Dalam waktu tak berapa lama, dagangan mereka habis terjual.

“Alhamdulillah, dagangan ini habis lebih cepat dari yang aku perkirakan,” ucap penjual manisan.

“Sekarang bapak mau ke mana?” tanya Princess Humayra.

“Alhamdulillah aku ingin segera pulang. Anakku yang terkecil panas badannya pagi tadi. Aku ingin membawanya ke tabib tapi belum punya uang. Alhamdulillah

Princess Humayra minta izin mengikuti penjual manisan ke rumahnya. Penjual manisan itu tidak keberatan sama sekali.

Setelah berjalan agak jauh, Princess Humayra sampai juga di rumah penjual manisan yang sederhana. Dia tinggal bersama isterinya yang pembuat manisan, juga tiga anaknya.

Seisi rumah itu menyambut kedatangan Princess Humayra dengan ramah.

“Si bungsu tambah tinggi panasnya. Sebaiknya segera dibawa ke tabib,” lapor isteri penjual manisan.

Penjual manisan pun membawa anaknya ke tabib dengan menggendong karena tak punya kendaraan. Princess Humayra ikut mengantar

Untunglah pasien yang berobat tidak banyak, sehingga si bungsu bisa segera ditangani oleh si tabib.

“Aduuuuh! Sakiiiit! Aduuuh!”

Tiba-tiba terdengar suara jeritan orang kesakitan di sebuah tempat tidur. Princess Humayra melihatnya sebntar karena merasa mengenal suaranya. Oow! Ternyata wanita yang tidak jadi membeli roti dan manisan tadi siang.

“Kasihan wanita itu. Perutnya kesakitan karena terlalu banyak makan,” jelas si tabib tanpa diminta.

Penjual manisan pun kembali ke rumah dengan perasaan lega. Princess Humayra pun pamit karena harus segera pulang.

“Terimalah oleh-oleh dari kami ini,” kata isteri penjual m,anisan memberikan sekeranjang manisan.

“Alhamdulillah, semoga Allah membalas kebaikan keluarga ini,” ucap Princess Humayra menerimanya.

Begitu sampai di istana, Princess Humayra segera menyampaiakn peristiwa yang dialaminya kepada Baginda Raja Akbar.

“Alhamdulillah, puetriku telah mendapat pelajaran berharga hari ini,” kata Baginda Raja Akbar.

“Sebagai rasa syukur, aku ingin mengirim hadiah untuk penjual manisan itu,” ucap Princess Humayra.

Keesokan paginya keluarga penjual manisan terkejut ketika serombongan pegawai kerajaan mendatangi mereka. Selain perabotan baru, kerajaan juga menghadiahkan kereta kuda.

“Hadiah ini dari Princess Humayra yang menyamar sebagai penjual roti kemarin,” jelas pegawai yang mengantar.

Keluarga penjual manisan sangat terharu. Mereka terus mengucapkan hamdalah beulang-ulang sambil menitikkan air mata bahagia.

^-^

Friday, September 04, 2009

HOre, 6 September 2009

Makanan Khas Nusantara Saat Puasa



Apakah makanan paling terkenal di saat buka puasa? Kolak. Ya, ada kolak pisang, kolak ubi, kolak kolang-kaling. Pokoknya banyak sekali jenis kolak. Tapi selain kolah amasih ada lho makanan yang sangat terkenal di saat puasa.


Indonesia yang luas, terkenal dengan berbagai ragam budayanya. Dalam hal ini, makanan adalah salah satunya. Antara makanan di daerah saytu dan lainnya ada ytang berbeda sama sekali, ada pula yang mirip tapi namanya berbeda. Yuk kita kenali!


Pisang Ijo yang Lezat


Es Pisang Ijo merupakan salah satu makanan khas dari Makasar, Sulawesi Selatan. Sesuai dengan namanya, makanan ini dibuat dari bahan utama pisang yang kemudian dicampur dengan es serta bahan-bahan yang lain. Tapi jangan salah mengira bahwa Es Pisang Ijo ini terbuat dari pisang hijau yang dicampur dengan es. Kata “ijo”nya berasal dari tepung pembungkus pisang yang berwarna hijau.


Es Pisang Ijo ini sebenarnya dibuat dari beraneka ragam makanan. Dalam penyajiaannya pisang raja yang terbungkus kulit berwarna hijau ini dipotong-potong. Sekilas kalau dilihat, kulit yang berwarna hijau itu seperti kulit pisang sungguhan. Namun ternyata setelah dicicipi rasanya kenyal-kenyal. Untuk menambah kelezatan, di atasnya dituangkan saos seperti bubur berwarna putih. Kemudian diberi es serut yang bisa bikin “mak nyus”. Dituangkan pula sirup berwarna merah muda sebagai penambah rasa manis.


Walaupun Es Pisang Ijo ini berasal dari Makasar, namun untuk menikmati Es Pisang Ijo ini kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke sana. Di beberapa kota besar kita sudah bisa menikmatinya. Harga yang dipatok pun tidak terlalu mahal. Hanya dengan uang Rp 3.500,- kita sudah bisa merasakan makanan khas dari Makasar ini. Benar-benar mak nyus.


Kicak yang Murah



Kalian pernah mendengar kicak? Eh, bukan cicak di dinding lho. Ini adalah satu makanan khas Yogyakarta yang hanya ada saat Ramadhan tiba. Kicak terbuat dari beras ketan yang dimasak dengan campuran parutan kelapa, gula, dan buah nangka. Agar aromanya mengundang selera, biasanya ditambah vanili atau daun pandan. Rasanya gurih, kenyal, dan sedikit manis. Awalnya bahan utama kicak terdiri ketela yang diparut.


Harga kicak cukup murah, setiap bungkus pembeli hanya membayar Rp1.000-Rp1.500. Meski sebenarnya tidak ada ketentuan harga yang pasti. Para pembeli bisa mengajukan harga sendiri, penjual yang akan menentukan porsinya.


Siput Hisap


Pernah mencoba siput hisap. Makanan ini banyak muncul di daerah Tanjung Pinang, Kepri, saat bulan puasa tiba. Masakan siput hisap ini bahan utamanya berupa siput berukuran kira-kira sebesar kelingking hingga jempol jari tangan orang dewasa.


Warnanya hitam dengan buntut yang runcing. Saat dimasak, buntutnya yang runcing itu dipotong supaya isinya bisa dihisap. Kalau buntutnya tidak terpotong dengan baik, isi siputnya yang gurih itu tidak bisa dihisap. Siput hisap ini dimasak seperti memasak gulai tapi kuahnya sedikit saja. Kemudian, rasa pedasnya dilebihkan dan terkadang dicampur dengan daun ubi kayu. Ada juga yang menambah rasa pedasnya dengan cabe rawit yang ditumbuk kasar. Bagi yang belum pernah mencoba mungkin akan heran melihat masakan ini. Tapi bagi yang sudah pernah merasanya, melihatnya dari jauh pun sudah membuat air liur mengalir.


Siput yang sudah masak itu diambil badannya dan dihisap dari bagian depannya. Mirip seperti makan gonggong. Bedanya kalau gonggong isi badannya dicungkil keluar sebelum dimakan, kalau siput hisap tak perlu dicungkil. Sebab, ukurannya lebih kecil dari gonggong dan bisa langsung dihisap saja.


Tak banyak lagi orang yang bisa mengolah siput ini, apalagi karena untuk mengolahnya cukup sulit. Siput ini hidup di rawa bakau yang berlumpur dan langkah pertama yang harus dilakukan adalah membersihkannya dari lumpur. Setelah itu baru bisa diolah lebih lanjut sesuaui dengan selera dan rasa masing-masing.


Lamang Tapi yang Aduhai



Lamang Tapai, makanan khas di Sumatra bagian tengah (Sumbar, Jambi, Riau) terbuat dari beras ketan. Makanan ini biasanya banyak dibuat untuk buka puasa di bulan ramadhan, jelang Maulid Nabi Muhammad SAW atau untuk penganan pada pesta perkawinan. Namun penganan ini juga dapat ditemui di pasar-pasar tradisional, walau keberadaannya sangat jarang.


Lamang/lemang dari ketan putih dimasak dengan media bambu, santan dengan garam dan daun pandan secukupnya. Bambu untuk membakar lemang biasanya adalah jenis khusus yang diperuntukkan untuk itu. Bagian dalamnya dilapisi dengan daun pisang, kemudian ketan putih dimasukkan sesuai takarannya bersama santan kelapa. Proses selanjutnya adalah membakar bambu tersebut dengan posisi agak miring.


Sementara tapai terbuat dari ketan hitam. Proses fermentasinya dibantu oleh ragi yang bisa dibeli di pasar-pasar. Ketan, ragi dan gula pasir dicampur dengan sedikit air pada wadahnya. Proses peragian biasanya akan memakan waktu satu hingga satu setengah hari.


Kedua jenis makanan ini biasanya disuguhi bersama-sama; lamang - tapai. Perpaduan rasa legit dari lamang dan manis menggigit dari tapai menjadikan makanan ini terasa aduhai, asoy geboy.



Nah, kalau kalian sukanya apa? Mpek-mpek, model, atau tekwan?


(ben)


Wednesday, September 02, 2009

cernak, 6 September 2009


Dua Tamu Istimewa


Oleh Benny Rhamdani


Princess Humayra mendapat kabar akan kedatangan dua tamu dari kerajaan tetangga. Mereka adalah Princess Salihara dan Princess Priyanka. Karena Princess Humayra belum pernah mengenal mereka, dia meminta seorang menteri menceritakan tentang dua calon tamunya.


“Apakah Pak Menteri tahu seperti apa sifat mereka?” tanya Princess Humayra.


“Ya, tentu saja aku tahu,” jawab Pak Menteri.


Princess Salihara bertubuh gemuk. Dia sangat suka sekali makan dan tidur. Dia terkenal sangat pemalas. Kemanapun dia berjalan, di sekitarnya harus ada dayang-dayang yang membawakannya makanan.


Princess Priyanka bertubuh kurus. Dia lebih suka berdandan dibandingkan makan. Dia terkenal karena senang sekali karena sebentar-bentar haru berganti pakaian. Kemanapun dia pergi, di dekatnya harus ada dayang-dayang yang membawakan pakaian ganti.


Princess Humayra berterimakasih atas penjelasan Pak Menteri. Dia kemudian mempersiapkan diri menyambut mereka. Satu jam kemudian kedua tamu Princess Humayra tiba di depan pintu istana.


“Assalammualaikum. Selamat datang di istana kami,” sambut Princess Humayra


Kedua princess hanya mengangguk sedikit sebagai balasan salam. Tapi Princess Humayra tak kesal. Dia mengajak kedua tamunya ke ruang tengah.


“Kalian pasti lelah sekali di perjalanan. Silakan duduk istirahat sambil menikmati jamuan seadanya,” ucap Princess Humayra.


Princess Salihara langsung mengambil kue yang dihidangkan meskipun di mulutnya masih penuh makanan.


“Pfuah! Kue apa ini? Kok rasanya asam begini,” tanya Princess Salihara.


“Ini namanya kue kayu manis. Kita tidak bisa memakannya begitu saja,” jelas Princess


“Begini caranya. Bismillahirohmanirohim,” ucap Princess Humayra sambil memotong kue lalu meletakkannya di atas tiga piring kecil. Kue itu kemudian disiram saus strawberry yang manis.


“Nah, sekarang kita makan bersama yuk!” ajak Princess Humayra sambil membaca basmalah sebelum menyuapkan kue ke mulutnya.


Princess Salihara langsung menghabiskan kuenya. Sementara, Princess Priyanka hanya menggigitnya sedikit.


“Bagaimana kalau kita sekarang bermain di taman istana?” ajak Princess Humayra agar kedua tamunya senang.


“Aku mau saja. Tapi aku tidak membawa gaun di taman,” kata Princess Priyanka.


“Pakai saja punyaku. Ada beberapa gaun untuk di taman yang belum pernah kupakai,” kata Princess Humayra.


Mereka menuju kamar pakaian yang besar. Princess Priyanka langsung memilih gaun yang disukainya.


Princess Salihara tak ikut berganti pakaian. Dia terus asik makan. Tak peduli sedikit pun dengan gaunnya yang terkena cokelat dan aneka selai.


Princess Humayra hanya mengambil penutup kepala yang lebar agar wajahnya tak kepanasan. “Bismillahirohmanirohim,” ucapnya sambil mengenakan topi lebar.


“Aduh, resletingnya susah sekali. Sepertinya rusak,” keluh Princess Salihara.


“Mari kubantu,” kata Princess Humayra. “Bismillahirohmanirohim,” ucapnya sebelum menarik resleting. Nah! Ternyata tidak rusak seperti dikatakan Princess Salihara.


“Ayo kita ke taman!” ajak Princess Humayra kemudian.


Ketiganya menuju taman istana. Di taman itulah terhampar aneka tanaman berbunga, serta beberapa tumbuhan berbuah.


Princess Salihara langsung memetik bunga tercantik yang dilihatnya.Wah, padahal Princess Humayra belum mengizinkannya untuk memetik. Tapi Princess Humayra tak mau marah.


Princess Priyanka malah mencari tanaman berbuah. “Siapa tahu ada buah enak yang bisa kumakan,” katanya.


Lihat, ada apel emas!” seru Princess Priyanka sambil menujuk ke sebuah apel berwarna emas.


Princess Humayra dan Princess Salihara segera mendekat.


“Oh itu buah apel emas yang hanya tumbuh setahun sekali. Siapa saja yang memakannya akan membuat wajahnya cantik berseri,” jelas Princess Humayra.


“Kalau begitu buah itu untukku karena aku yang menemukannya,” teriak Princess Priyanka.


“Tidak bisa. Aku juga melihatnya, jadi buah itu harus dibagi denganku,” kata Princess Salihara


Pluk! Tiba-tiba apel emas itu jatuh ke tanah. Princess Salihara dan Princess Priyanka langsung bergumul di tanah memperebutkan buah apel emas itu.


“Sudah, tidak usah berkelahi. Malu sama pengawal dan dayang-dayang yang melihat,” pinta Princess Humayra.


Princess Salihara dan Princess Priyanka pun berhenti berkelahi. Princess Humayra kemudian mengambil apel emas itu, lalu memotongnya menjadi dua.


“Kurasa yang paling adil adalah membagi apel ini menjadi dua,” kata Princess Humayra sambil membagi belahan apel itu kepada dua tamunya.


Begitu apel emas itu diterima, Princess Salihara dan Princess Priyanka langsung memakannya hingga tak bersisa. Setelah itu mereka menunggu reaksi yang terjadi pada wajah mereka.


“Kok, tidak ada reaksi apa-apa?” tanya Princess Salihara dan Princess Priyanka.


“Tentu saja tidak akan terjadi apa-apa. Sebab tadi kalian langsung menghabiskannya tanpa membaca basmalah dulu,” jelas Princess Humayra.


Princess Salihara dan Princess Priyanka tersipu malu.


“Tapi apakah apel emas tadi benar-benar bisa membuat wajah cantik sepertimu?” tanya Princess Salihara.


“Terus terang aku belum pernah memakan apel emas itu sedikit pun. Aku punya kalimat ajaib yang diajarkan ibuku. Sehingga, aku selalu dilindungi dari keburukan dan diberikan kebaikan oleh Allah,” jelas Princes Humayra.



“Kalimat apakah itu?” tanya Princess Priyanka.


“Bismilahhirohmanirohim,” jawab Princess Humayra singkat.



Princess Salihara dan Princess Priyanka tersadarkan. Pantas saja sejak tadi Princess Humayra mengucapkan basmalah.


“Insya Allah, kami juga akan mengikuti jejakmu,” janji Princess Priyanka.


“Aku juga. Terutama jika aku mau makan,” kata Princess Salihara.


“Jika kita mengucapkan basmalah sebelum makan, Allah juga akan menjaga makanan kita,” kata Princess Humayra tersenyum, senang.


^-^