Friday, October 17, 2014

Cernak 19 Oktober 2014

Annabelle


Oleh Benny Rhamdani


Semua gara-gara film horor itu. Judulnya Annabelle, sama dengan namaku. Film tentang boneka hantu yang berbuat keji. Jadilah teman-teman di kelas mengolok-olokku.

"Selamat pagi, boneka hantu," sapa Radit.

"Takut, ada boneka hantu!" seru Cintya dan anggota geng-nya.

"Tolong jangan hantui keluarga kami ya, Annabelle," ledek Fiona.

Semula aku biasa saja. Tapi lama kelamaan jadi kesal karena mereka juga meledekku di pesan singkat handphoneku, di Facebook dan lainnya. Bahkan ada yang berulang kali mengirimku gambar-gambar ledekan boneka Annabelle.

Ketika aku mengadu kepada ibu dan ayah, mereka hanya memintaku sabar. Kata mereka, nanti juga teman-teman bosan. Tapi buktinya sudah sebulan, mereka belum juga berhenti meledekku.Karena itulah aku jadi malas mengikuti acara wisata sekolah akhir pekan ini.

Bu Suzanna kemudian bertanya kepadaku karena mengundurkan diri dari acar wisata sekolah. "Mengapa kamu tidak akan ikut, Anna?" tanyanya.

"Aku ingin pergi asalkan teman-teman berhenti mengolok-olokku sebagai hantu boneka,"  jawabku.

Bu Suzanna tersenyum kecil. Lalu dia bercerita tentang dirinya yang juga menerima perlakuan sama ketika masih kecil.  Gara-gara namanya sama dengan bintang horor yang sangat terkenal  bernama Suzanna.   "Memang awalnya menyebalkan. Tapi lama kelamaan, selama kita tidak menanggapinya, mereka akan berhenti dengan sendirinya," jelas Bu Suzanna. 

Aku terdiam.

"Nanti Ibu akan buat peraturan buat kita semua, dilarang saling mengolok," sambung Bu Suzanna.

"Baiklah, Bu. Aku ikut kalau deikian," jawabku.

Kemudian di kelas Bu Suzanna membuat larangan agar anak-anak tidak saling mengolok-olok teman. Siapa saja yang ketahuan akan tidak diperkenankan ikut wisata sekolah, Ternyata cara Bu Suzanna itu ampuh.  Tidak ada lagi yang mengolek-olokku. Rupanya mereka benar-benar ingin mengikuti wisata sekolah ke Pantai Tanjung Lesung.

Akhir pekan kami berangkat menuju ke Pantai Tanjung lesung. Perjalanan dengan bus sekitar lima jam yang melelahkan. Namun begitu sampai kami semua merasa gembira karena tempatnya yang indah.

Kami tinggal di beberapa villa yang berdekatan.  Satu villa diisi lima anak. Aku satu villa Cintya dan tiga teman gengnya.

"Waduh, kita satu  villa dengan boneka hantu," ledek Cintya ketika kami masuk villa.

"Eh, bukankah kita dilarang saling mengolok?" tanyaku.

"Ya, sekarang boleh, Annabelle Hantu. Karena kita sudah sampai di  tempat wisata sekolah, bukan ?" cibir Cintya.

Kuputuskan untuk tidak mendengar olek-olek mereka. Karena hari sudah sore, kami segera bersiap ke pantai memburu pemandangan indah matahari tenggelam.Setelah puas aku kembali ke villa sendirian karena Cintya dan kawan-kawannya masih ingin makan di restoran.

"Aaarh!" aku menjerit kaget ketika masuk kamar melihat sebentuk boneka menyeramkan.

Lalu, rentetan tawa panjang terdengar. Muncullah Fiona dan dua teman lainnya di balik pintu. Kemudian mereka lari sambil membawa boneka seram itu. Rupanya dia sengaja  menakut-nakutiku.

Aku berusaha bersabar. Dan saat acara malam hari aku agak tidak nyaman karena Fiona menyebarkan berita keterkejutanku kepada semua orang. Aku cuma duduk di dekat pantai sendirian.

"Aku akan menolongmu ...."

Tiba-tiba aku mendengar suara itu. Tapi tak ada orangnya.Aku jadi ketakutan dan kembali ke kamarku. Dan langsung tidur.

Entah pukul berapa. Rasanya masih tengah malam. Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan yang nyaring di villaku. Rupanya dari mulut Cintya dan kawan-kawan. Mereka kemudian lari keluar villa menuju vilaa Bu Suzanna. Aku pun ikut keluar. Kulihat ada juga beberapa anak yang keluar dari villa masing-masing. Termasuk Fiona.

"Ada apa ini?" tanya Bu Suzanna.

"Aku bermimpi buruk ketemu boneka Annabelle," jawab Cintya sambil ketakutan.

Yang lain mengatakan hal yang sama. Bahkan cerita di mimpi mereka sama semua.

"Siapa di sini yang melanggar janji tidak saling mengolok-olok teman?" tanya Bu Suzanna.

Ternyata mereka yang mengolok-olokku semua mengangkat tangan.

"Cobalah minta maaf kepada yang kalian olek-olok itu. Lalu kembali tidur. Kalau masih takut, tidur saja di villa Ibu."

Beberapa orang yang mengolok-olokku langsung minta maaf. Tentu aku maafkan.Tapi sampai sekarang aku masih bingung, mengapa mereka bisa bermimpi  hal yang sama? Lalu siapa yang membisikku tadi? Aku curiga sedikit kepada Bu Suzanna karena sepertinya guruku itu sempat mengedip padaku dan matanya terlihat berwarna keunguan. Apakah Bu Suzanna yang ....



















 



Friday, October 10, 2014

Cerpen, 12 Oktober 2014

Saputangan Ungu

oleh Benny Rhamdani



Mendekati gerbang sekolah aku melihat saputangan itu tergeletak di jalanan. Tadinya aku melewati saputangan itu. Tapi melihat warnanya yang ungu, aku langsung mundur dua langkah, lalu mengambil saputangan itu. Aku tak sempat melihat saputangan itu, langsung kumasuki ke saku. Bel tanda masuk berbunyi.

"Pagi, Mel," sapaku kepada Imel yang sudah duduk di bangkunya. Aku menyimpan tasku, lalu duduk di kursiku yang menurutku snagat keras. Hm, coba boleh bawa sofa dari rumah. Pasti aku lebih senang lagi belajar di kelas, atau tidur. Hehehehe.

"Selalu datang bersamaan dengan bel berbunyi. Padahal rumahmu paling dekat, Tya," kata Imel.

"Ya, begitulah kalau rumah dan sekolah begitu dekat," jawabku tersenyum.

Bu Nurki masuk kelas. Kami memberi salam, dan semuanya berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Saat istirahat aku baru teringat saputangan yang kutemukan tadi pagi. Tepatnya ketika aku merogoh saku untuk membayar keripik kentang yang kubeli. 

Aku membentangkan saputangan itu. Barangkali ada sulaman nama pemiliknya.

"Sapu tanganmu? Tumben bawa saputangan," tanya Imel.

"Bukan. Aku nemu tadi di dekat gerbang. Kayaknya terjatuh."

"Ih, jijik deh kamu! Saputangan kan biasa buat lap ingus. Siapa tahu orang yan punya itu penyakitan," sahut Imel bergidik.

"Saputangan sebagus ini mana mungkin buat lap ingus. Dan ini masih terlipat bagus. Belum dipakai."

"Jadi mau kamu ambil saputangan itu?"

Aku menggeleng. "Aku ingin mengembalikannya. Tapi siapa yang punya ya?" aku bingung.

"Pasang saja di mading. Aku kan pengurus mading," kata Imel.

"Ide bagus!"


Aku menyerahkan saputangan itu kepada Imel. Segera saja Imel mengajakku ke mading, membukanya, lalu menuliskan 'telah ditemukan sapu tangan ungu. hubungi Imel kelas 6', lalu saputangan itu ditempel di mading.

Kami berdiri beberapa saat di dekat mading. Beberapa murid yang lewat membaca pengumuman baru itu, tapi kemudian berlalu. Sampai bel istirahat usai tak ada yang menyapa kami.

"Mungkin yang punya belum membaca. Kita tunggu pulang sekolah saja ya," kata Imel.

Kami kembali ke kelas. Lagi-lagi belajar. Ya tugas kami memang belajar, kan? Biar pandai dan bisa mengejar cita-cita kami.

Suasana belajar yang menyenangkan membuat waktu tak terasa. bel pulang pun berbunyi. Aku dan Imel kembali ke mading. Berdiri di sampingnya. Saat bubaran begini akan makin banyak murid yang melewati mading. Mungkin pemilik saputangan ungu itu akan melihatnya. Lalu, karena kami ada di samping mading segera minta dikembalikan.

Sampai murid terakhir pulang, tak ada yang menghampiri kami.

"Mungkin besok. Sekarang kita pulang saja yuk! Aku lapar," kata Imel.

"Hahaha, dasar. Pantas saja kamu gendut."

Kami berjalan bersama menuju pintu gerbang.

"Neng Imel!" 

Aku kaget dan menoleh. Pak Broto, satpam sekolah kami menghampiri.

"Neng Imel yang menemukan saputangan ungu itu?" tanya Pak Broto.

"Iya. Ada murid yang mencari kepada Bapak?" tanya Imel.

"Ng ... nggak ada. Tapi ... sebenarnya ... saputangan itu punya saya," jawab Pak Broto agak malu-malu.

Aku hampir tertawa. Kupikir saputangan berwarna ungu itu punya murid perempuan yang centil dan lucu. Ternyata punya Pak Broto.

"Itu saputangan hadiah ulangtahun dari anak saya yang masih TK tadi pagi," tambah Pak Brto buru-buru mungkin melihat keherananku.

"Oh iya, Pak. Selamat ulangtahun ya, Pak," kata Imel dan aku.

Imel berlari ke mading, mengambil saputangan ungu. Saputangan itu diserahkan kepada Pak Broto yang langsung berterimakasih.

"Neng Imel dan Neng Tya, jangan bilang siapa-siapa saya punya saputangan ungu ya."

Kami buru-buru mengangguk dan pulang. Tentu saja aku mati-maian menahan tawa. Dan tawaku pecah ketika sampai di rumah. Ibu heran melihatku tertawa begitu keras. Tapi aku sudah janji tak akan menceritakannya kepada siapapun. Ya ... kecuali sama kamu.

^_^

Hore, 12 Oktober 2014



Kamuflase, Apakah itu?



Kalian pernah mendengar kata  'kamuflase'? Kamuflase adalah suatu metode yang memungkinkan sebuah organisme atau benda yang biasanya mudah terlihat menjadi tersamar atau sulit dibedakan dari lingkungan sekitarnya. Contohnya adalah belang pada harimau, zebra, belalang, dan seragam tempur motif loreng pada tentara modern. Kamuflase memang suatu bentuk tipuan dan penyamaran.

Kata kamuflase dalam bahasa Indonesia dipinjam dari bahasa Belanda, yang pada gilirannya meminjam dari bahasa Perancis, 'camoufler' yang berarti 'menyamarkan'.

Kamuflase Militer

Dalam peperangan di masa lampau kamuflase tidak banyak digunakan. Pasukan-pasukan di abad ke-19 cenderung mengenakan warna-warna yang cerah dan berani, serta rancangan-rancangan yang mencolok. Semua ini dimaksudkan untuk membuat lawan kecil hati, meruntuhkan mental dan nyali, menarik anggota baru, memperkuat ikatan dalam kesatuan atau mempermudah identifikasi satuan dalam kabut.



Pasukan perintis yang lebih kecil  pada abad ke-18 adalah orang-orang pertama yang mengadopsi warna-warna hijau dan coklat pucat. Pasukan-pasukan besar mempertahankan warnanya hingga akhirnya diyakinkan untuk menggantinya. 

Setelah menderita banyak korban, tentara Britania di India pada 1857 mencelup warna celana mereka yang merah menjadi warna-warna netral, mulanya dengan warna lumpur yang disebut khaki (dari bahasa Urdu yang berarti 'berdebu'). Ini hanyalah upaya sementara, dan baru menjadi standar di kalangan dinas militer di India pada tahun 1880-an. Tapi setelah Perang Boer Kedua pada 1802, seragam seluruh tentara Britania distandarkan dengan warna ini untuk seragam tempur mereka.

Amerika Serikat segera mengikuti Britania, mengadopsi warna khaki pada tahun yang sama. Rusia mengikutinya, sebagian, pada 1908. Tentara Italia menggunakan grigio-verde ("kelabu-hijau") di Pegunungan Alpen dari 1906 dan seluruh tentara pada 1909. Jerman mengadopsi warna feldgrau ("kelabu lapangan") pada 1910.

Tentara-tentara lainnya tetap mempertahankan warna-warna yang lebih cerah. Pada permulaan Perang Dunia I Perancis mengalami kekalahan besar karena pasukannya mengenakan celana merah sebagai seragam mereka. Warna itu diubah pada awal 1915, sebagian karena korban yang jatuh dan sebagian lagi karena warna merah diproduksi di Jerman. Tentara Perancis juga mengadopsi jaket dengan warna baru "biru cakrawala". Tentara Belgia mulai menggunakan seragam khaki pada 1915.


Kamuflase Hewan
Kamuflase warna  adalah kamuflase yang paling umum dimiliki oleh hewan. Lebih sedikit lagi hewan yang dapat merubah warna tubuh berbeda untuk menyesuaikan dengan warna sekitarnya.

Prinsip dasar kamuflase adalah perubahan warna menyerupai keadaan sekitar. Tentu saja keadaan lingkungan sekitar hewan berubah dari waktu ke waktu. Banyak hewan yang mempunyai kemampuan special beradaptasi yang memungkinkan mereka melakukan perubahan warna mengikuti perubahan warna lingkungan sekitar.


Beruang kutub contohnya.  Mereka sebenarnya memiliki kulit berwarna hitam. Namun nampak putih karena mereka mempunyai bulu rambut translucent. Ketika cahaya jatuh pada bulu, cahaya akan sedikit dibengkokkan. Hal ini memantulkan cahaya ke sekitarnya. Sebagian ada yang sampai di kulit, sebagian lagi dipantulkan keluar, menghasilkan warna putih. 

Perubah warna yang sangat terkenal, chameleon (bunglon), merubah warna kulitnya dengan mekanisme yang sama. Perubahan dimulai ketika mata mengamati lingkungan sekitar. Respon dari mata kemudian disampaikan ke otak, dan otak menggerakkan otot-otot chromatophore sehingga merubah warna kulit tubuh menyerupai sekitarnya.

Tapi perubahan warna kulit demi tujuan untuk kamuflase. Beberapa species Chameleon merubah warna kulitnya lebih karena perubahan mood. Bukan karena mereka bergerak ke lingkungan dengan nuansa warna yang berbeda. Perubahan mood, seperti terkejut, stress, takut, diekspresikan dengan perubahan warna kulit tubuhnya.

(ben/net)


ARENA KKPK, 12 Oktober 2014

Kisah Bintang Muda


Judul: Young Superstar
Penulis Kelly

120 halaman


Mercy adalah bintang muda yang sedang tenar. Selain penyanyi, dia juga berprofesi sebagai bintang film dan model iklan. Kesibukannya saat ini semakin bertambah saat diminta menjadi juri kompetisi menyanyi. Kini Mercy harus menghadapi banyak hal. Mulai dari audisi yang melelahkan, para kontestan yang selalu bertengkar, sampai pada penentuan siapa yang harus dieliminasi setiap minggunya. Semua remaja, termasuk para kontestan, ingin jadi seperti Mercy. Mereka menyangka menjalani kehidupan Mercy bagaikan melintasi jalan mulus dengan mobil mewah berkecepatan tinggi. Akankah para calon superstar muda ini menyadari rintangan tepat di depan hidung mereka? 

Cerita di buku ini menurut aku seru. Apalagi sekarang banyak sekali teman-teman yang ingin menjadi bintang. Dari buku ini kita akan tahu tidak mudah menjadi bintang. Tapi sebenarnya siapun bisa lho menjadi bintang.

Buat yang ingin menjadi bintang terkenal, sepertinya wajib memaca buku ini.


(Geus Rama S. Palembang)


Friday, September 26, 2014

Cernak, 28 September 2014




Judul : Hitam Putih

Pengarang
:

Penerbit : DAR Mizan


      112 halaman
Pada awalnya, acara menginap di Hotel Luxorious itu baik-baik saja. Tapi sejak bertemu dengan Ditha, seorang anak perempuan yang superduper-jutek, semua jadi menyebalkan. Anehnya, semua murid kelas 5 Urrania International School mengatakan kalau dia anak paling baik dan suka menolong.

Tetapi itu dulu. Ditha yang sekarang adalah Ditha yang menyebalkan dan teman paling egois yang pernah mereka temui. Sayangnya, pengurus acara justru mengadakan rolling kamar dan Ditha sekamar denganku. Tak ada yang lebih menjengkelkan selain sekamar dengan si jutek itu!
Eits, tunggu dulu. Kalau tiba-tiba Ditha berubah dari baik menjadi jutek, pasti ada yang telah terjadi. Tapi apa yang bisa mengubah kebaikan Ditha yang terkenal itu? Aku, Myra, dan Shaza sungguh penasaran. Apalagi ketika melihat seorang lelaki bertubuh pendek, seperti anak kecil, yang menghampiri Ditha saat acara di ballroom hotel itu! Siapa dia? Apa hubungannya dengan Ditha? Annet, teman yang menghuni kamar sebelahku sepertinya tahu. Tapi, dia enggan memberi tahu. Ah, bagaimana ini? Kalian juga penasaran? Kita paksa saja Annet mengaku!
(Geus Rama S)

Cernak, 28 September 2014


Awal Persahabatan


Setiap kali Gina berjalan menyusuri jalan, beberapa tetangga akan berbisik menyebut dirinya ‘si manja’. Memang sejak kecil, orang tuanya tidak pernah menolak apa pun yang diinginkan Gina. Dan Gina, pada gilirannya, selalu memastikan bahwa ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.


Ibu Gina yang bernama Bu Nytha, tiba-tiba melihat bahwa putrinya tidak siap untuk berbagi apa pun dengan teman-temannya - baik itu buku, mainan atau makanan. Bu Nytha juga menemukan sesuatu yang lain - kebanyakan anak tidak suka bermain dengan putrinya. Mereka mengatakan Gina suka memerintah mereka dan membuat mereka menangis.


Bu Nytha menyadari bahwa itu adalah kesalahannya juga. Gina bersikap seperti ini sebab memanjakannya dengan memberikan segala yang dia minta. Apakah Gina bisa berubah? Dia akan segera tahu. Gina sekarang masuk di sekolah yang tepat.


Semua orang di kelasnya mengakui bahwa Gina sangat cerdas. Tapi dia tak punya teman sampai Rita bergabung di kelas. Karena merasa orang baru , Rita tidak keberatan berada di bawah sayap Gina. Meskipun jadi pesuruh Gina! Tapi setidaknya Rita memiliki seseorang untuk bermain.


Suatu hari, Bu Guru memarahi Rita karena berhitung tanpa berpikir. Gadis kecil itu menangis karena seluruh kelas tertawa padanya. Meskipun Bu Gurudengan sabar menjelaskan cara melakukan perkalian, namun Rita tidak bisa mengerti.


Gina mengatakan kepada ibunya tentang Rita yang menangis di kelas. "Mengapa kamu tidak mencoba mengajarinya," tanya Bu Nytha. "Dia sangat menyukaimu. Jika kamu yang mengjari, mungkin dia akan cepat mengerti."


"Ibu, aku tidak punya waktu untuk berurusan dengan orang bodoh," kata Gina.

"Tapi Rita adalah temanmu. Jika bukan kamu, siapa lagi yang membantunya?" kata Bu Nytha. Lalu, Bu Nytha memberitahu Gina kisah semut dan burung merpati.

"Suatu hari seekor semut jatuh ke sungai dan dengan putus asa mencoba menyelamatkan diri. Seekor merpati yang duduk di pohon segera memetik daun dan menjatuhkan daun ke sungai dekat dengan semut. Semut itu naik ke atasnya dan menyelamatkan diri,” cerita Bu Nytha.

"Beberapa saat kemudian, penangkap burung datang dan berdiri di bawah pohon, bersiap-siap untuk melempar penangkap burung. Semut itu tahu dan langsung menyengat dia di kakinya. Penangkap burung berteriak kesakitan membuat merpati terbang pergi. "

"Apakah kamu memahami cerita ini, Gina?" tanya ibunya. "Artinya, jika kita melakukan kebaikan, kita akan mendapat kebaikan sebagai balasannya."

"Cerita yang konyol! Itu hanya untuk anak kecil. Aku bukan anak kecil lagi!" teriak Gina.




Bu Nytha memutuskan untuk bertindak keras. "Jika kamu tidak membantu, Ibu tidak akan membiarkan kamu menonton kartun selama seminggu."

Gina pun mau membantu Rita. Ternyata Rita lebih mudah diajari Gina. Guru senang karena Rita akhirnya memahami perkalian dan memuji di depan kelas. Rita sangat senang dan memberitahu semua orang bahwa Gina adalah teman yang baik. Tapi Gina lebih suka melupakan peristiwa itu sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan karena dia terpaksa melakukannya.

Sementara itu, Rita bertanya-tanya cara membalas kebaikan temannya. Kesempatan datang lebih cepat dari yang dia pikir.

Suatu hari, seorang anak perempuan mengolok-olok Gina sebagai anak manja. Tentu saja Gina marah, dia mendorongnya sampai terjatuh. Gina dilaporkan kepada Kepala Sekolah.

Kepala Sekolah menghukum Gina selama tiga hari harus mengumpulkan sampah setelah jam sekolah. Gina sedihi. Diatidak tahan memikirkan akan dihina. Sekarang yang ia inginkan adalah untuk tanah terbuka dan menelan sehingga dia tidak perlu menunjukkan wajahnya kepada siapa pun.

Setelah sekolah selesai, Gina tinggal sendirian. Dan kemudian dia melakukan apa yang dia tahan sepanjang hari - ia menangis dan menangis dan menangis.

Rita menemukan sahabatnya terisak-isak. Dia ikut menemani Gina dan membantunya membersihkan sekolah. Gina jadi teringat kisah semut dan burung merpati.

Sejak hari itu, Gina dan Rita berteman baik.

Hore, 28 September 2014






Kalian tahu fotografi kan? Iya, kita biasa menyebutnya kegiatan memotret atau membuat foto dengan kamera.Sekarang banyak lho anak-anak yang menyukai fotografi. Jika kamu tertarik boleh juga.



Foto yang baik adalah foto yang bila dilihat mampu memberikan kesan yang dalam bagi yang melihatnya atau menikmatinya. Agar hasil foto kita indah dipandang dan mampu memberikan kesan positif dari yang melihatnya, ada beberapa unsur penunjangnya.



Salah satunya adalah komposisi. Komposisi adalah bagaimana cara si pemotret meletakkkan obyek foto ke dalam bingkai foto pada jendela bidiknya. Ada aturan standar yang dikenal oleh fotografer professional terkait dengan komposisi foto ini.



Tidak ada yang sulit jika kita mau belajar. Nah, khusus fotografi untuk anak pemula, sebaiknya kita pelajari dulu hal-hal ini.

1. Selalu menggunakan strap (tali) kamera saat berkenalan dengan kamera untuk menghindari kemungkinan kamera terjatuh.



2. Belajar cara memegang kamera yang baik sejak awal. Memegang kamera dengan tepat akan membantu mengurangi guncangan pada kamera saat memotret dan menghasilkan foto yang baik dan tajam.



3. Memotretlah dari jarak dekat dengan subjek foto. Sering kali pemotret pemula (termasuk anak-anak) memotret subjek fotonya dari kejauhan sehingga tampak terlalu kecil di dalam foto.



4. Memulai hunting foto dari rumah sendiri. Mainan, orang tua, adik, binatang peliharaan, dan taman bisa menjadi subjek foto yang menarik.



5. Foto sebanyak mungkin. Dengan kamera digital, banyak ‘menjepretkan’ kamera tidak dipusingkan oleh jumlah rol film yang harus dibeli layaknya kamera analog.
 


6. Coba kita menilai foto-foto yang dihasilkan bersama dengan orangtua di depan komputer. Kita juga  dapat minta diajarkan teori-teori dasar fotografi.



7. Jika memungkinkan, ayo gabung  di klub atau tempat kursus fotografi . Hal ini akan semakin melatih kemampuan fotografinya. Jika dilakukan dengan teman-teman seusia, akan terasa lebih menyenangkan. Ya, belajar bersama memang lebih meneyangkan.



8. Di Internet banyak sekali panduan untuk belajar fotografi bagi pemula. Cobaah belajar dari sana. Tentu akan banyak manfaatnya.


Selamat memotret ya.





Friday, September 19, 2014

Cernak, 21 September 2014

Hantu Pohon Jamblang




“Kamu sudah dengar kabar hantu pohon jamblang, Raf?” tanya Dodo dalam perjalanan pulang sekolah.
Rafli menggeleng. ”Bagaimana ceritanya?” ia balik bertanya, tertarik juga mengetahui kabar aneh itu.
”Aku sendiri dengar dari orang-orang. Katanya, ada hantu di pohon jamblang sebelum warung Mang Adun,” papar Dodo bersemangat.
”Memangnya ada yang pernah melihat hantu itu?”
”Kang Mamat yang melihat. Malam itu, dia pengen beli obat nyamuk. Tahu-tahu, ada suara aneh dari pohon jamblang itu. Pas dilihat, ada bayangan menyeramkan. Sebelum dilihat lebih menyeramkan lagi, Kang Mamat langsung kabur. Ia tak jadi beli obat nyamuk ke warung Mang Adun, malah ke warung Mang Obi,” tutur Dodo.
”Dan, Kang Mamat langsung bercerita kepada orang-orang yang ada di warung Mang Obi?”
”Begitulah,” sahut Dodo.
Rafli manggut-manggut. Siang yang panas membuat langkahnya tergesa-gesa. Kali ini, Rafli tak langsung pulang, tetapi jalan lurus melihat pohon jamblang tua yang dibicarakan Dodo. Dengan saksama, Rafli memperhatikan pohon tua yang sering dipetiki buahnya bersama teman-temannya.
Bisa jadi yang dilihat Kang Maman bukan hantu. Dia pasti salah lihat, pikir Rafli. Untuk memastikannya, Rafli memutuskan untuk kembali melihatnya di malam hari.
Meski ada perasaan takut, Rafli keluar rumah setelah shalat Isya. Kebetulan, ia punya kepentingan membeli bolpoin ke warung Mang Adun. Dengan berbekal lampu senter besar, Rafli menuju pohon jamblang itu. Lampu senter pun dinyalakannya begitu sampai. Keberaniannya timbul begitu saja. Ia menyenter setiap dahan yang melintang.
Tetapi tak ada hal yang aneh!
Rafli bernapas lega. Ia lantas menuju warung Mang Adun. Biasanya meski malam hari, warung itu masih ramai. Selain barang yang dijualnya komplet, Mang Adun juga menyediakan bangku panjang untuk duduk-duduk pelanggannya. Di warungnya, orang juga bisa memesan kopi atau mie instan rebus.
”Mau tutup, Mang?” tanya Rafli setelah membeli bolpoin yang diperlukannya.
”Iya. Habis sepi. Sekarang, kalau malam yang beli cuma dari timur. Yang di barat pada takut ke sini gara-gara cerita hantu pohon jamblang. Padahal, di timur cuma ada lima rumah,” jawab Mang Adun lesu.
”Tetapi, saya nggak percaya. Buktinya, saya masih belanja ke sini. Memangnya, Mang Adun juga pernah lihat hantu di pohon itu?”
”Seumur hidup, Mamang belum pernah lihat hantu.”
Rafli mengangguk. Rasa penasarannya terhadap cerita hantu itu masih menggodanya. Jadi, yang pernah melihat hanya Kang Mamat, pikirnya.
Rafli segera ke rumah Kang Mamat di ujung jalan sebelah barat. Umur Kang Mamat mungkin terpaut lima tahun di atas Rafli. Setelah tamat SMP, ia bekerja di pabrik permen milik Pak Mumu. Saat ini, entah sudah pulang atau belum Kang Mamat.
Rafli mengetuk pintu rumah Kang Mamat. Bu Ningsih muncul dengan wajah terkejut ketika melihat tamunya. ”Disuruh Bapak ke sini, Raf?” tanya Bu Ningsih, ibu Kang Mamat.
”Ah, bukan. Saya mau ketemu Kang Mamat. Ada perlu sebentar.”
”Belum pulang. Mungkin sebentar lagi. Ditunggu saja di dalam kalau memang perlu,” ajak Bu Ningsih.
Rafli mengikuti Bu Ningsih masuk dan duduk di salah satu kursi di ruang tamu. Mata Rafli langsung melihat dua karung beras dan terigu di sudut ruangan. ”Baru belanja banyak ya, Bu?” tanya Rafli melanjutkan percakapan.
”Ah, bukan. Itu kiriman dari Mang Obi untuk Mamat. Katanya sih, hadiah. Tidak tahu hadiah apaan,” jawab Bu Ningsih polos.
Rafli mengerutkan keningnya. Mang Obi memberi hadiah untuk Kang Mamat? Wah, ini berita hebat! Semua orang tahu betapa kikirnya Mang Obi. Belanja di warungnya tidak boleh ditawar. Malah, kurang lima puluh rupiah saja pasti disuruh pulang. Sebaliknya, kembalian seratus rupiah akan digantinya dengan permen. Itu sebabnya warung Mang Obi selalu sepi. Orang-orang baru belanja di warung Mang Obi kalau barang yang akan dibelinya tidak ada di warung Mang Adun.
Lantas .… Tiba-tiba, Mang Obi berbaik hati memberi hadiah untuk Kang Maman?
Pikiran Rafli buyar ketika Kang Mamat mengucapkan salam sambil masuk ke rumah. Ia agak kaget melihat kedatangan Rafli, juga dua karung di sudut ruangan. Bu Ningsih segera menceritakan perihal karung itu kepada anaknya.
”Saya disuruh Ayah memanggil Kang Mamat. Katanya, Kang Mamat diminta menceritakan soal hantu di pohon jamblang itu kepada Ayah,” ujar Rafli berdusta. Hehehe … boleh, kan? Ini demi kebaikan, kok!
Kang Mamat tampak pucat. Ia terdiam lemas beberapa saat. Lalu, ”Sebenarnya, cerita hantu pohon jamblang itu bohong,” katanya gugup.
Rafli tidak terkejut. Ia sudah menduganya.
”Saya akan ceritakan semuanya. Tetapi tolong, jangan sampaikan kepada Pak Lurah,” pinta Kang Mamat sambil membayangkan wajah angker ayah Rafli yang menjabat Lurah. ”Semua ini rencana Mang Obi. Ia minta saya menyebarkan kabar soal hantu pohon jamblang itu, biar orang-orang tidak belanja lagi di warung Mang Adun. Terutama kalau sudah malam. Saya tergoda karena dijanjikan akan diberi apa yang saya mau. Tetapi, justru setelah itu, hati saya tidak tenang. Apalagi kalau ingat kebaikan Mang Adun. Beberapa kali saya dibolehkan ngutang kalau tidak punya uang,” papar Kang Mamat.
Rafli manggut-manggut. ”Saya tidak bisa banyak membantu. Tetapi sebaiknya, hadiah dari Mang Obi ini dikembalikan saja. Besok saya akan usul kepada Ayah agar menebang pohon jamblang itu. Soalnya, pohon itu memang sudah tua dan rapuh, bisa membahayakan orang yang lewat kalau tiba-tiba roboh. Jika pohon itu ditebang, cerita hantu pun akan hilang dengan sendirinya. Orang tidak takut lagi belanja ke warung Mang Adun,” kata Rafli.
”Begitu, ya?”
”Meski begitu, Kang Rahmat harus minta maaf sama Mang Adun. Dan urusan ini harus diselesaikan oleh Kang Mamat sendiri. Kasihan Mang Adun, warungnya jadi sepi gara-gara cerita tak benar Kang mamat,” tambah Rafli.
”Saya sungguh menyesal,” kata Kang Mamat lirih. Ya, itulah kalau tak pernah memikirkan akibatnya jika berbuat jahat pada orang lain.

KKPK, 21 September 2014

Kejutan Ultah



Judul: Shafa's BirthdayPenulis: Zakia Artanti112 halaman



Bagaimana ulangtahun kalian? Istimewa atau spesial?

Harusnya, kan , ulang tahun jadi hari yang istimewa. 

Harusnya, Shafa bersenang-senang bersama teman-teman, meniup lilin, memotong kue, berbagi kado, tapi mengapa ulang tahun Shafa justru banyak masalah? Shafa sedih. 

Kenapa sih, teman-temannya enggak memusuhinya lain kali saja, jangan pada hari ulang tahun Shafa. Belum lagi Bu Ningsih yang menagih tugas sekolah. 

Enggak ada waktu lain, memangnya. Apakah ulang tahun Shafa bukan hari yang istimewa lagi? Ataukah Shafa justru lupa kalau hari ini bukan hari ulang tahunnya?Ternyata ada satu rahasia di cerita ini. Lebih baik kamu baca aja sendiri ya.
(Geus Rama, Palembang)

Hore, 21 Sptember 2014

5 Tiara Paling Cantik di Dunia



Setiap perempuan tentu pernah bermimpi menjadi seorang putri dengan tiara atau mahkota di kepala. Bentuk tiara atau mahkota yang begitu indah memang mampu memancarkan kecantikan dan keanggunan seorang wanita, sehingga banyak wanita yang ingin untuk mengenakan dan memilikinya.

Secara tradisional, mahkota merupakan simbol dari kekuasaan, kejayaan, dan kemakmuran. Oleh karena itu, sejak dulu mahkota atau tiara menjadi simbol bagi keluarga kerajaan dan hanya bisa digunakan oleh anggota keluarga kerajaan tersebut.

Berikut ini adalah lima mahkota paling indah di dunia milik para keluarga kerajaan:





The Cameo Tiara milik Ratu Josephine (Swedia)
Sepeninggal Josephine dari Leuchtenberg pada tahun 1876, Cameo Tiara ini pun menjadi milik Raja Oscar II. Dari situ, Cameo Tiara ini terus diturunkan ke anggota kerajaan, hingga akhirnya pada tahun 1961 Cameo Tiara ini digunakancsebagai mahkota pernikahan oleh Princess Brigitta saat pernikahannya dengan Pangeran Johann Georg dari Hohenzolern.

Dari sinilah tradisi mengenakan Cameo Tiara sebagai mahkota pernikahan anggota keluarga kerajaan dimulai. Tiara ini juga pernah digunakaan saat pernikahan Princess Désirée pada tahun 1964, pernikahan Ratu Silvia pada 1976, dan pernikahan Putri Victoria di bulan Juni 2010 lalu.

The Burmese Ruby Tiara milik Ratu Elizabeth (Inggris)


Rakyat Birma, atau kini lebih dikenal sebagai Myanmar, memiliki kepercayaan bahwa rubi mampu melindungi pemiliknya dari kejahatan dan penyakit. Mereka meyakini ada 96 penyakit yang dapat menyerang manusia. Oleh karena itu, saat Ratu Elizabeth II menikah pada tahun 1947, mereka menghadiahkan 96 batu rubi kepadanya.

96 rubi ini kemudian dimanfaatkan untuk membuat sebuah tiara oleh Garrard pada tahun 1973 atas perintah Ratu Elizabeth. Tiara yang kemudian dikenal dengan nama The Burmese Ruby Tiara ini memilki desain seperti karangan bunga mawar merah dan tiap mawar memiliki rubi di bagian tengah serta beberapa berlian sebagai kelopaknya.

The Mellerio Floral Tiara milik Putri Sofia (Spanyol)





Tiara ini dibuat oleh pembuat perhiasan asal Prancis, Mellerio, pada tahun 1962. Tiara yang kemudian disebut sebagai The Mellerio Floral Tiara atau The Spanish Floral Tiara ini kemudian diberikan oleh Jendral Franco untuk Putri Sofia dari Yunani dan Denmark sebagai hadiah pernikahannya dengan Juan Carlos.

Tidak hanya digunakan sebagai tiara, The Mellerio Floral Tiara ini juga bisa digunakan sebagai kalung dan bros. Ratu Sofia sendiri pernah mengenakan tiara bermotif floral tersebut sebagai kalung pada pesta pre-weddingnya.

Kabarnya, tiara ini menjadi favorit para anggota kerajaan dan merupakan tiara yang paling banyak digunakan oleh anggota kerajaan, seperti Infanta Elena (putri tertua dari Raja Juan Carlos dan Putri Sofia), Infanta Christina (putri termuda dari Raja Juan Carlos dan Putri Sofia), serta Putri Letizia (istri dari Pangeran Felipe).

Gandik Diraja milik Malaysia



Tiara kerajaan yang dikenal sebagai Gandik Diraja ini dibuat dengan beberapa motif tradisional, yaitu sebuah bulan sabit dengan bintang ditengahnya dan motif awan berliuk atau dikenal sebagai Awan Larat.

Tiara ini merupakan bagian dari perhiasan kerajaan yang akan diturunkan dari ke ratu (Raja Permaisuri Agong) berikutnya yang terpilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun. Tiara ini juga dilengkapi dengan kalung yang diberi nama Kalung Diraja. Sama halnya dengan Gandik Diraja, Kalung Diaraja juga terbuta dari platinum dan berlian.

Cambridge Lover’s Knot Tiara milik Ratu Mary (Inggris)



Salah satu tiara yang paling terkenal karena keindahannya adalah The Cambridge Lover’s Knot Tiara, yang dibuat oleh Garrard pada tahun 1913 atas perintah Ratu Mary, istri dari Raja George V. Tiara ini terbuat dari mutiara besar berbentuk tetesan air yang digantung pada 19 berlian berbentuk bulat, dan dilengkapi dengan berlian berbentuk hati di atasnya.


Sepeninggal Ratu Mary pada tahun 1963, tiara ini kemudian diturunkan ke Ratu Elizabeth II. Selanjutnya, Ratu Elizabeth II memberikan The Cambridge Lover’s Know Tiara ini ke Putri Diana sebagai hadiah pernikahan pada tahun 1981. Putri Diana kemudian mengembalikan tiara ini ke Ratu Elizabeth setelah bercerai dengan Pangeran Charles pada tahun 1996.