Friday, July 22, 2011

CERNAK, 24 Juli 2011


PRINCESS JIHAN



Princess Jihan lama tak berkunjung wilayah utara Kerajaan Istiqlal yang disebut Uthar Prada. Tapi sebuah kabar buruk yang didengarnya tadi subuh membuatnya ingin pergi ke sana. Princess Jihan pun menghampiri Raja Haedar.



“Ayahanda, izinkan aku berkunjung ke Uthar Prada hari ini,” pinta Princess Jihan.


“Ayah tidak ingin melarangmu pergi kesana. Tapi kamu juga tahu, di sana baru saja dilanda bencana badai semalam,” cegah Raja Haedar.


“Justru itu yang membuat aku ingin ke sana. Tolong izinkan aku, Ayahanda. Aku ingin memberi semangat kepada rakyat yang tengah sedih setelah dilanda bencana,” bujuk Princess Jihan.


Raja Haedar berpikir sebentar. Ia tahu benar watak keras Princess Jihan yang sulit sekali dilarang jika ada keinginan. Untung saja keinginan Princess Jihan selama ini selalu hal yang baik-baik.


“Aku berjanji akan pulang secepatnya, jika diizinkan pergi ke sana,” ucap Princess Jihan.


“Baiklah, kamu boleh pergi. Bawalah beberapa pengawal terbaik,” ucap Raja Haedar.


“Alhamdulillah.” Princess Jihan pun tersenyum senang.


Ia segera bersiap untuk pergi ke Uthar Prada. Princess Jihan mengajak dua dayang setianya ikut serta, Dayang Mawar dan dayangMelati. Tak lama kemudian Princess Jihan berangkat dengan pasukan khusus menuju Uthar Prada. Sebelumnya pasukan khusus kesehatan dan pangan telah berangkat terlebih dahulu diutus Raja Haedar.


Perjalanan menuju Uthar Prada sangat jauh. Untung saja Dayang Mawar dan dayang Melati selalu dapat menghibur Princess Jihan. Mereka berdua terus bermaian berbalas pantun tanpa ada yang mau mengalah sebentar pun.


“Burung gelatik terkena luka. Wajahku cantik banyak yang suka,” kata Dayang Mawar.


“Air cuka pastilah masam rasanya. Orang yang suka pastilah tertutup matanya,” ledek Dayang Melati.


Princess Jihan tertawa ketika melihat wajah Dayang Mawar yang langsung cemberut. “Kalau cemberut begitu mana bisa dibilang cantik,” kata Princes Jihan.


Dayang Mawar pun buru-buru tersenyum. Tapi tiba-tiba wajahnya jadi tegang ketika tiba-tiba terdengar teriakan dari kepala pasukan di bagian depan rombongan. Begitu pula wajah Princess Jihan dan Dayang Melati.


“Di depan ada beberapa jejak kuda. Kami yakin itu rombongan perampok di sekitar sini,” lapor seorang parjurit. “Princess harap tenang di dalam kereta ini. Sebaiknya tidak usah keluar. Juga para dayang.”


Tak lama kemudian rombongan terhenti. Benar saja, tiba-tiba berdatangan dari segala penjuru puluhan orang berawajah bengis. Sebagian ada yang menutup wajahnya. Dayang Melati dan Dayang Mawar yang melihat dari jendela kereta langsung panik. Apalagi ketika ada seorang perampok yang berhasil mendekati jendela kereta.


“Auw! Tolong!” Dayang Melati dan Dayang Mawar berteriak ketakutan sambil memeluk Princess Jihan.


Untungnya ada pengawal yang langsung menghalau penjahat itu hingga jatuh. Pengawal itu langsung berteriak ke dalam kereta.


“Para dayang ini bagaimana sih? Mestinya kalian yang melindungi Princess Jihan. Bukan kalian yang ketakutan dan minta lindungan kepada Princess Jihan!”


Wajah Dayang Mawar dan Dayang Melati pun bersemu merah. Dalam situasi apapun, tugas mereka adalah memang melindungi Princess Jihan.


Tak berapa lama para pengawal kerajaan berhasil melumpuhkan para penjahat itu. Sebagian penjahat ada yang terkapar di tanah, ada juga yang lari masuk ke hutan, dan beberapa diikat oleh para pengawal.


Princess Jihan keluar dari kereta karena merasa keadaan sudah aman. Dayang Mawar dan Dayang Melati pun turut serta.


“Mengapa kalian mengganggu kami?” tanya Princess Jihan sambil mendekati seorang penjahat.


Penjahat yang ditanya hanya diam sambil tertunduk lesu.


“Huh, dasar! Badan besar, tampang seram, tapi beraninya mengganggu kaum perempuan seperti kami! Tapi kami tidak takut. Lihat nih!” Dayang Melati kemudian pergi menghampiri semak-semak. Ia lalu mengambil tiga ekor ulat dari sebagian ranting.


“Nah, kalau kamu memang sok jagoan. Coba tahan ini!: Dayang Melati memasukkan ulat-ulat itu ke bagian dalam baju si penjahat dari bagian leher belakang. Benar saja! Penjahat bertubuh besar dan berwajah seram itu langsung pucat dan berjingkrak-jingkrak.


Dayang Mawar dan Dayang Melati tertawa geli melihatnya. Apalagi penjahat itu kemudian bersimpuh memohon ampun agar ulat-ulat itu dibersihkan oleh temannya.


Princess Jihan kemudian meminta kepala pengawal membebaskan semua penjahat itu.


“Ingat, jika kalian ketahuan berbuat jahat lagi di kerajaan ini, maka hukuman berat akan menunggu kalian!” ancam Princess Jihan.


Beberapa tawanan langsung bersimpuh. “Terima kasih atas ampunannya. Maafkan kami!”


Mereka pun kemudian masuk ke dalam hutan. Beberapa orang penjahat yang tadi tampak terkapar pun langsung sehat dan berlarian ke hutan. Ternyata mereka tidak benar-benar terkapar. Tapi pura-pura terkapar agar tidak ditahan.


Setelah meneruskan perjalanan hampir setengah hari ke arah utara, akhirnya rombongan Putri Jihan tiba di Uthar Prada. Wilayah itu berada di pesisir pantai. Kebanyakan penduduknya hidup sebagai nelayan.


Tiga bulan yang lalu ketika Princess Jihan dating ke Uthar Prada, keadaannya masih sangat teratur dan tentram. Semua tertata rapi. Tapi sekarang wilayah itu porak poranda setelah diserang badai.


Princess Jihan melihat beberapa petugas kesehatan dan penduduk membantu mengangkat para korban yang luka berat dan ringan ke tenda khusus. Ada juga tempat khusus untuk mereka yang wafat dan belum dikenali keluarganya.


“Huhuhuhuhu … hiks!”


Langkah Princes Jihan terhenti. Seorang anak perempuan tampak menangis di dekat sebuah pohon kelapa yang tumbang.


“Adik, mengapa menangis sendiri di sini?” tanya Princess Jihan sambil menghampiri.


“Aku … kehilangan … keluargaku. Bingung … mencari Ibu, Bapak dan Adik,” kata anak perempuan itu.


Princess Jihan memegang telapak tangan anak itu, lalu mengajaknya berdiri. “Mari ke tenda khusus biar kita lebih mudah menemukan keluargamu,” ajak Princess Jihan.


Mereka pun berjalan ke tenda khusus, Baru beberapa langkah seorang perempuan sebaya Princess Jihan menyambut mereka.


“Alhamdulillah. Wahida, kamu di sini? Aku mencarimu ke mana-mana. Keluargamu sudah berkumpul. Ayo kutemukan kamu. Mereka ada di sana,” kata perempuan itu.


Mata anak bernama Wahida itu langsung bercahaya karena senangnya. “Terima kasih, Kak Farah,” kata Wahida.


Princess Jihan hanya melihat dari jauh Wahida diantar menemui keluarganya. Lepas dari mengamati Wahida, Princess Jihan terus mengamati sosok Farah. Ya, gadis itu tampak gesit membantu orang-orang yang kesulitan dan membutuhkan bantuan.


Ketika ada anak kecil yang mengaduh, Farah langsung menghiburnya. Ketika ada yang kehausan, Farah langsung mengambilkan air minum. Ketika ada yang susah berajalan, Farah langsung memapahnya. Princess Jihan juga melihat ketika Farah mendapatkan sebuah roti, malah dibagikannya kepada korban yang sedang ingin makan.


“Siapakah dia? Apakah dia dari tim bantuan kesehatan kerajaan. Tapi mengapa dia tidak mengenakan seragam khusus?” tanya Princess Jihan.


Dayang Melati dan Dayang Mawar yang mendengar itu langsung bergerak mencari informasi.


“Farah adalah penduduk asli wilayah ini. Dia adalah juga korban bencana. Keluarganya semua selamat. Tapi seluruh harta bendanya hilang disapu badai,” lapor Dayang Melati.


“Farah adalah gadis yang sangat soleha. Menurut orang-orang, dia selalu mengucapkan Hamdalah di setiap awal kalimat yang diucapkannya,” tambah Dayang Mawar.


“Oh iya? Coba panggil dia ke mari. Aku ingin bicara dengannya,” pinta Princess Jihan.


Dayang Mawar dan Dayang melati pun menjemput Farah untuk menemui Princess Jihan.


“Bagaiamana kabarmu dan keluargamu, Farah?” tanya Princess Jihan setelah bertemu Farah.


“Alhamdulillah, kami semua dalam lindungan Allah,” jawab Farah.


“Mengapa kamu tidak beristirahat saja di tenda ini seperti yang lain? Mengapa justru sibuk membantu para petugas kesehatan kerajaan?” tanya Princess Jihan lagi.


“Alhamdulillah, Allah telah emberiku kekuatan untuk bisa membantu di sini. Kalau aku hanya duduk istirahat, aku malah nanti banyak melamun memikirkan kesedihan kami. Aku lebih suka sibuk membantu semua yang ada di sini,” jawab Farah.


“Kamu sungguh luar biasa, Farah. Aku harap kamu nanti ikut pulang denganku. Ajaklah seluruh keluargamu untuk menginap di istana kerajaan. Aku tahu rumah kalian hancur. Jadi menginap semntara di istana sampai rumah kaian dibangun kembali,” ajak Princess Jihan.


“Alhamdulillah, kami cukup betah walaupun tinggal sementara di tenda ini. Bukannya aku ingin membantah permintaan Princess Jihan ….”


“Tak apa jika kamu tidak mau. Tapi maukah kamu menjelaskan, mengapa kamu selalu mengucapkan hamdalah setiap kali bicara?” tanya Princess Jihan.


“Alhamdulillah, Ayah yang telah mengajarkannya kepadaku. Kata ayahku, agar kita selalu bersyukur dengan rejeki yang diberikan oleh Alah sekecil apapun. Kadang kala kita lupa mengucapkan hamdalah ketika mendapatkan rejeki, padahal semua rejeki yang kita terima datangnya dari Allah. Dengan membaca hamdallah, aku juga jadi terbiasa untuk tidak sombong atau hidup berlebihan,” jelas Farah.


Princess Jihan benar-benar kagum dengan kemuliaan hati Farah.


“Farah. Maukah kamu menjadi sahabatku?” tanya Princess Jihan lagi.


“Alhamdulillah, aku senang sekali. Tapi mengapa Princess Jihan memilih bersahabat denganku? Aku ini hanya orang biasa.”


“Tidak, Farah. Kau sangat istimewa buatku.” Princess Jihan kemudian memberikan selendangnya kepada Farah. “Ini tanda persahabatan dariku. Tolong diterima.”


Farah menerimanya dengan hati senang.


“Alhamdulillah, kamu mau menjadi sahabatku …,” ucap Princess Jihan sambil mendekap Farah.


Dayang Mawar dan Dayang Melati tersenyum senang melihat dua sahabat baru itu …. Alhamdulillah.

Friday, July 15, 2011

Cernak, 17 Juli 2011


Hari Pertama


Oleh Benny Rhamdani



Inilah hari pertamaku di kelas baru. Kelas enam SD Teladan Palembang. Sebelumnya, aku adalah murid SD Idaman Bandung. Aku harus pindah sekolah karena papa ditugaskan menjadi kepala cabang sebuah bank di Palembang.
Harusnya aku masuk sekolah kemarin. Sama seperti murid-murid lainnya. Tapi, aku tidak mau berangkat ke sekolah baruku. Mendadak aku sakit perut, tubuhku demam dan aku tak mau bangun dari tempat tidur.

Menurut Papa, aku sakit karena ketakutan yang berlebihan harus jadi murid baru. “Tidak usah takut, Aga,” ucap Papa.

“Aga takut nanti dikerjai sama murid-murid yang lama,” aku memberi alasan.

“Dikerjai itu biasa. Malah akan membuat kenagan indah. Asal tidak mencelakimu, ya lakukan saja,” tambah Mama.

Papa lalu bercerita pengalaman menjadi murid saat SD dulu. Papa pernah dikerjai, tasnya dimasukkan kodok. Akhirnya Papa pura-pura pingsan. Teman-teman baru Papa kelabakkan. Niatnya mau mengerjai Papa, justru mereka yang dikerjai Papa. Saat mereka panik dan ketakutan karena melihat papa pingsan, tahu-tahu Papa pura-pura kesurupan. Membuat seisi kelas tambah panik. Baru, ketika wali kelas datang, Papa tidak pura-pura.

“Kamu nanti bias memkai cara Papa kalau ada yang mengerjai,” saran Mama seusai Papa bercerita.

Aku mengangguk dan setuju. Makanya hari ini aku tidak takut lagi berangkat ke sekolah baruku. Bahkan Papa dan Mama hanya mengantar sampai pintu gerbang. Berikutnya, aku mencari kelasku sebelum bel masuk berbunyi..

“Heh, kamu anak baru ya? Cari kelas berapa?” seorang anak lelaki bertubuh gendut mendekatiku.

“Kelas enam,” jawabku.

“Oh itu yang di ujung dekat perpustakaan,” tunjuknya.

“Oh, terima kasih.” Aku langsung meninggalkannya. Tentu saja aku tidak langsung percaya petunjuknya. Anak itu pasti mengerjai aku. Dia pasti tidak menunjuk kelas enam. Mungkin kelas yang ditunjuk itu sebenarnya kelas empat atau ima. Atau mungkin gudang. Ah, kebetulan ada sosok guru. Aku pun menemuinya. “Pak Guru, maaf. Saya murid baru ingin mencari kelas enam. Bisa dibantu, Pak Guru?” tanyaku.

“Kelas enam di ujung sana, dekat perpustakaan!” tunjuk Pak guru. Sama seperti yang ditunjuk anak gendut tadi.

“Oh, itu. Terima kasih.”

“Ya, sama-sama. Dan perlu kamu tahu, saya bukan Pak Guru. Saya pegawai tata usaha sekolah.”

“Oh, maaf.” Ku jadi malu dan buru-buru pergi ke ruang kelas yang ditunjuk tadi. Ufh! Rupanya anak gendut tadi nggak menerjai aku. Aku saja yang sudah berprasangka. Ternyata kelas yang ada di hadapanku ini memang kelas enam.

“Selamat pagi. Aku murid baru di kelas enam. Apakah aku bias tahu kursi yang kosong di kelas ini?” tanyaku ketika bertemu dengan seorang murid perempuan.

“Oh, kamu ya murid baru pindahan dari Bandung itu? Bu Wanti, wali kelas kita, kemarin sudah bilang. Namamu Aga Priatna, kan? Oh iya namaku Salsa. Mungkin kamu bias duduk dengan si Pitak. Tuh, yang di sisi kiri dekat jendela. Cuma bangku sebelahnya yang masih kosong,” kata Salsa.

Aku mengucapkan terima kasih. Tapi aku ragu-ragu ketika mendekati anak lelaki yang dipangil Pitak oleh Salsa. Tampannya seperti anak nakal dan jahil. Mungkinkah ia akan menerjaiku nanti?

“Maaf, namaku Aga. Murid baru. Katanya …”

“Ya, kamu boleh duduk denganku. Bu Wanti sudah bilang kemarin. Silakan. Namaku Pitak. Sebenarnya nama asli Ahmad Taufik. Tapi biasa dipanggil Pitak. Namamu Aga, kan?” katanya sambil tersenyum.

“Iya.” Aku menyimpan tasku hatri-hati, lalu duduk perlahan. Ya, siapa tahu mereka sudah kompak akan mengerajiku. Mereka meletakkan kursi yang patah atau ada permen karetnya. Jadi aku mesti hati-hati.

“Kamu kenapa tegang? Jangan takut, di sini tidak ada yang menggigit,” ujar Ahmad Taufik.

Ya, aku akan memanggilnya begitu. Rasanya tidak enak memanggilnya Pitak. Aku tak menyahuti gurauan Ahmad Taufik. Aku duduk di tempatku sambpai bel berbunyi.

Bu Wanti masuk kelas dan kemudian memperkenalkanku. Hm, ternyata tidak ada acara-acara konyol seperti yang kubayangkan. Semua biasa saja. Malah Bu Wanti langsung mengajar. Saat isitirahat tiba, aku tidak melihat tanda-tanda teman baruku akan mengerjai aku. Mereka hanya menyapaku seperlunya lalu sibuk pergi ke kantin.

Ahmad Taufik mengajakku ke kantin sekolah juga, tapi aku menolaknya. Lima menit kemudian, aku menyesal karena perutku terasa lapar. Akhirnya aku menyusul ke kantin seorang diri. Letak kantin ternyata dekat dengan ruang guru. Dan sangat penuh! Aku jadi bingung. Heh, tapi itu Ahmad Taufik….?

“Ahmad Taufik!” aku berteriak memangilnya. Tapi teman sebangkuku itu tidak menoleh. “AHMAD TAUFIK!” aku berteriak lebih keras lagi. Beberapa murid di sekitar kantin menoleh ke arahku. Mungkin karena keras suaraku.

Tapi orang yang kumaksud tidak menoleh. “AHMAAAAAD TAUFIIIIK!” Aku berteriak lagi lebih keras dan panjang.

“Ada apa, nak?” Aku terkejut mendengar suara di belakangku. Saat menoleh, aku melihat sesosok tubuh tegap berkumis dengan papan nama di dada kanannya bertuliskan: AHMAD TAUFIK.

“Ma …af … Bapak ….” “Bapak wakil kepala sekolah di sini. Nama bapak adalah Ahmad Taufik ….”

“Ta … ta …pi saya bukan memnggil bapak. Saya memanggil itu … teman saya di kelas enam,” kataku sambil menunjuk ke arah kantn.

“Ooooh .. ya sudah. Kalu begitu temui saja. Jangan teriak-teriak,; kata bapak wakil kepala sekolah sambil meninggalkanku. Aku pun buru-buru mendekati Ahmad taufik yang kumaksud.

“Wah, kamu hebat bisa bicara dengan gur paling galak di sekolah ini. Nah, lain kali jangan panggil nama lengkapku. Karena nama lengkapku sama dengan bapak wakil kepala sekolah. Panggil saja aku Pitak. Aku nggak akan marah kok!” katanya kemudian.

Aku manggut-manggut. Kalian tahu apa reaksi Mama dan Papa ketika kuceritakan pengalaman petamaku di sekolah baru? Mereka tertawa. Hehehe, aku juga!

HORE, 17 Juli 2011


Menanam Pohon Yuuuuuk!


Jika engkau berpikir untuk satu tahun ke depan, semailah sebiji benih.

Jika engkau berpikir untuk sepuluh tahun ke depan, tanamlah sebatang pohon.


Kalimat bijak di atas adalah pepatah Cina yang sudah ada sejak 500 tahun sebelum Masehi. Di masa yang amat lalu itu ternyata orang sudah menyadari arti penting pohon.Hal ini bisa dibilang ironis, karena pada masa itu, jumlah pohon yang menutupi permukaan bumi relatif lebih banyak dari sekarang. Pun, tingkat pembangunan yang menyebabkan polusi masih belum setinggi saat ini. Namun demikian, keberadaan sebatang pohon sudah disadari betul manfaatnya, tercermin dari kata-kata bijak di atas tadi.


Mengapa sebatang pohon begitu penting artinya, sampai-sampai dipandang sebagai “bekal yang cukup” untuk hidup sepuluh tahun ke depan? Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah karena sebatang pohon mampu memberikan banyak manfaat. Di masa lalu, pohon adalah penyedia naungan, makanan, dan kayu bakar bagi manusia. Kini, di masa yang bentuk kehidupannya lebih kompleks, peran pohon pun juga bertambah.Berikut beberapa alasan mengapa pohon sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.


1. Mengurangi efek rumah kaca. Efek rumah kaca disebabkan oleh polutan gas CO2 yang lepas ke udara dan terakumulasi di atmosfer. Pohon adalah “pelahap” CO2 yang rakus.


2. Meningkatkan kualitas air tanah. Pepohonan mengurangi aliran permukaan (run-off), karena akarnya menyerap air yang jatuh ke tanah. Lebih banyak air yang terserap ke dalam tanah artinya lebih banyak kesempatan untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas air tanah. Hal ini juga mengurangi tercemarnya air tanah oleh bahan kimia yang ada di permukaan tanah.


3. Pepohonan membersihkan udara yang kita hirup. Partikel debu, CO, SO2, dan polutan-polutan lain akan diserap oleh tanaman sehingga kita bisa menghirup udara yang lebih baik kualitasnya.


4. Udara yang kering dan panas bisa diatasi dengan menanam pohon. Pepohonan akan menambah kelembaban atmosfer dan pada akhirnya bisa mengurangi konsumsi air (misalnya untuk menyiram tanaman).


5. Mengurangi erosi tanah khususnya di lahan miring. Ketika hujan turun, akar pohon akan menyerap air. Jika tak ada yang menyerap, air yang mengalir di permukaan akan membawa serta lapisan tanah, khususnya lapisan atas tanah yang subur.


6. Jika diperhitungkan secara keseluruhan, pepohonan yang tumbuh di suatu kota bisa “mendinginkan” kota tersebut. Kota adalah pulau panas (heat island) yang suhunya 5—9 derajat lebih tinggi dari daerah suburban. Dan setiap tahun, kota cenderung melakukan ekspansi ke daerah suburban. Dengan demikian pulau panas yang tercipta lama kelamaan makin besar. Pepohonan khususnya yang bertajuk besar mampu mendinginkan kota melalui bayangan tajuknya dan proses evapotransipasi yang melepaskan uap air ke udara.


7. Pepohonan yang ditanam di dekat badan air mencegah pendangkalan dan penyempitan badan air.



8. Kondisi perkotaan yang kumuh dan gersang bisa diperbaiki dengan menanam pepohonan dan membuat taman kota.


9. Mengurangi stress. Setelah lelah melakukan seharian, tentunya sangat nyaman jika sesampainya di rumah kita disambut oleh hijaunya taman yang asri.


10. Kondisi bumi yang makin panas, rupanya juga berpengaruh pada temperamen orang yang semakin keras dan brutal. Hal ini utamanya terjadi di daerah perkotaan yang memang lebih sedikit memiliki area berpohon. Pepohonan bisa menyediakan lingkungan yang lebih sejuk, nyaman dan rileks. Kondisi ini secara psikologis akan membantu “mendinginkan” temperamen manusia perkotaan.


11. Penanaman pohon dan semak-semak akan secara signifikan menurangi polusi suara, khususnya untuk rumah-rumah yang terletak di tepi jalan raya yang sibuk.


12. Pepohonan juga berpotensi menghasilkan angin sepoi-sepoi dari gesekan dedaunan yang memberikan efek nyaman bagi penghuni rumah.


13. Bayangan tajuk pohon bisa mengurangi efek silau dari jalan dan lapangan parkir plus membuatnya lebih sejuk.


14. Serasah daun pohon yang berguguran ketika melapuk dan membusuk akan membentuk lapisan humus yang menyuburkan tanah dan meningkatkan kualitas media tanam bagi tanaman lainnya.


15. Kita sedang ingin membentuk badan? Aktivitas merawat pohon (memupuk, memangkas, menggemburkan tanah, dan menyapu daun-daun keringnya) bisa menjadi olahraga ringan yang membantu menyehatkan dan membentuk tubuh.


16. Dengan menanam pohon, berarti Kita mewariskan sesuatu yang berarti bagi anak cucu kita kelak.


(ben/net)