Friday, November 22, 2013

Cernak, 24 November 2013



Hati Nayla

oleh Benny Rhamdani



Di kelasku kedatangan murid baru. Namanya Nayla. Anaknya sih cantik, tapi menyebalkan. Bayangkan, di hari pertama dia sudah membuat semua anak membencinya.

"Sebenarnya aku tidak suka sekolah di sini. Sekolah ini kampungan," katanya dengan nada keras di saat istirahat.

Kalimatnya itu tentu saja membuat kami yang mendengar langsung mendelik. Memang sekolah kami bukan sekolah favorit, tapi menurut kami, sekolah ini sama sekali tidak kampungan. Lagi pula kalau kampungan, buat apa dia sekolah di sini?

"Aku pindah sekolah di sini karena diminta nenekku saja," lanjut Nayla. Lalu Nayla berjalan ke kantin sekolah kami. Dia terus meledek, "Apaan sih ini? Kantinnya kok cuma menjual gorengan. Mana burger, sosis?"

Uuuuh, rasanya aku ingin menyumpal mulutnya dengan pisang goreng Bik Mirah yang besar-besar itu. Kalau memang dia tidak suka, buat apa ke kantin? Lagi pula, kalau dia tidak suka bukan berarti dia bisa menghina sesukanya, kan?

Lalu ketika pelajaran olahraga, kami mengganti seragam. Nayla tentu saja belum punya kaos seragam olahraga karena dia murid baru. Pak Guru menyarankan Nayla membeli di koperasi.

"Tapi, Pak, seragamnya jelek. Apa boleh saya pakai seragam dari sekolah yang dulu? Lebih ngejreng gitu lho," kata Nayla.

"Tentu saja tidak boleh," kata Pak Erwin tegas.

Rasain! Aku senang melihat muka Nayla langsung pucat mendengar bentakan Pak Erwin.

Nayla pun ke koperasi sekolah emngambil seragam olahraga kami. Saat memakainya, tampak sekali di wajahnya ia sama sekali tak menyukai kaos itu.

Pak Erwin lalu menyuruh kami berlari mengitari lapangan. Tiba-tiba saja Nayla terjatuh saat berlari. Aku langsung berpikir Nayla pura-pura melakukannya karena malas olaharaga.

"Ah, paling dia cari perhatian biar dikasihani," kata Alya, teman sebangkuku.

Kami pun membiarkan. Pak Erwin malah yang langsung menggotong Nayla ke ruang P3K. Tak lama kemudian Nayla sadar, lalu bersikap seperti biasanya.

Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Nayla. Tapi seminggu kemudian, saat pelajaran olahraga Nayla tidak diharuskan mengikuti pelajaran olahraga. Uh enaknya. Dia malah asyik duduk di bawah pohon yang teduh sambil minum sirup dingin, sementara kami lari-lari kepanasan di lapangan.

Oh iya, makin hari Nayla semakin menyebalkan. Dia pernah melempar permen karet ke rambut Alika yang keriting. Bisa dibayangkan betapa kerepotannya Alika harus melepas permen karet itu. Nayla juga sempat menyembunyikan alat tulis Edwar. Lalu dia pernah membawa tikus putih yang membuat kami ketakutan sampai naik ke meja.

Anehnya, betapapun menyebalkannya Nayla, tidak pernah dimarahi guru. Aku tidak tahu kenapa. Padahal kami sellau mengadu ulahnya itu ke guru kami.

Selain itu, aku heran Nayla sering sekali tidak masuk sekolah. Kadang dua hari, kadang tiga hari. Sekolah sepertinya mengistimewakan Nayla.

Aku baru tahu alasannya setelah berbulan-bulan kemudian.

"Nayla itu ternyata keponakannya kepala sekolah," bisil Imel.

"Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya kepada kita," sahut Alika.

"Iya. Menyebalkan!" kataku.

Tapi kami tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi. Paling-paling kami hanya mengadu ke orangtua kami. Ada juga ibu dari kami yang datang ke sekolah dan menghadap kepala sekolah, tapi kemudian ibu kami tak ada yang marah-marah atau mengambil sikap agar Nayla tidak menyebalkan. Semua tetap sama. Akhirnya, kami memutuskan untuk menjauhi Nayla.

"Biar saja, biar dia kapok," kata Alika.

"Iya. Kalau dijauhi, mungkin dia akan sadar kalau kelakuannya menyebalkan," kata Imel.

"Tapi sepertinya dia tak sadar juga meski sudah lama kita jauhi," kataku.

Imel dan Alika manggut-manggut.

Tiga hari kemudian Nayla tak masuk sekolah lagi. Kali ini bukan cuma dua hari. Tapi hampir seminggu. Setelah tanya ke sana-sini akhirnya aku emndapatkan jawabannya. Sebuah jawabannya yang tidak kuduga.

Aku mendengarnya langsung dari Imel.

"Ternyata Nayla punya penyakit kanker darah. Itu sebabnya tubuhnya lemah. Dia saat ini tengah sekarat," jelas Imel.

Hah! Aku kaget. Kalau begitu kenapa dia bertingkah menyebalkan? Ya, kenapa? Apa ada hubungannya?

Keinginantahuanku itu terjawab beberapa hari kemudian. Pak kepala Sekolah masuk ke kelas dengan wajah menunduk dan sedih.

"Anak-anakku, kawan kalian ... Nayla ... telah meninggal dunia. Sebelumnya, Nayla telah menyampaikan maafnya kepada bapak untuk kalian. Katanya, selama ini dia sengaja bertingkah menyebalkan karena dia tidak ingin menjadi sahabat kalian. Dia tidak ingin jika kalian bersahabat, lalu menjadi sedih saat Nayla meninggal. Nayla tahu penyakit sangat parah. Makanya Nayla juga tidak ingin bersedih dengan memiliki sahabat seperti kalian lalu berat meninggalkan kalian ..."

Aku terpana mendengarnya. Sungguh aku tidak tahu rahasia dibalik tingkah menyebalkan Nayla selama ini.

Nayla ... maafkan aku ya.

^_^

No comments: