Friday, November 16, 2012

HORE, 18 November 2012


Komik Indonesia Juga Hebat!


Kalian senang membaca komik Indonesia? Bukan hanya Jepang yang jago membuat komik lho. Yuk, kita mengenal komik Indonesia.

Komik Indonesia adalah komik yang berasal dari Indonesia, atau hasil karya seorang komikus Indonesia. Cara bercerita dengan menggunakan gambar sudah dikenal di Indonesia sejak zaman kerajaan-kerajaan di kepulauan nusantara.

Salah satu contoh cara bercerita menggunakan gambar ini pada masa purbakala adalah relief-relief yang terdapat pada candi-candi yang tersebar di seluruh Indonesia. Tidak ada kesepakatan yang pasti mengenai "gaya gambar" dan "gaya cerita" Komik Indonesia.

Beberapa komikus sepakat, Komik Indonesia adalah komik yang dibuat (cerita dan/atau gambarnya), diproduksi, disebarluaskan, oleh komikus & orang-orang Indonesia. dan DI INDONESIA.

Generasi 1930an

Merujuk kepada Boneff maka komik Indonesia pada awal kelahirannya dapat di bagi menjadi dua kategori besar, yaitu komik strip dan buku komik. Kehadiran komik-komik di Indonesia pada tahun 1930an dapat ditemukan pada media Belanda seperti De Java Bode dan D’orient dimana terdapat komik-komik seperti Flippie Flink and Flash Gordon.

Put On,seorang peranakan Tionghoa adalah karakter komik Indonesia yang pertama-tama merupakan karya Kho Wan Gie yang terbit rutin di surat kabar Sin Po. Put On menginspirasi banyak komik strip lainnya sejak tahun 30an sampai 60-an seperti pada Majalah Star(1939-1942) yang kemudian bertukar menjadi Star Weekly.

Sementara itu di Solo, Nasroen A.S. membuahkan karya komik stripnya yang berjudul Mentjcari Poetri Hidjaoe melalui mingguan Ratu Timur. Di awal tahun 1950-an, salah satu pionir komik bernama Abdulsalam menerbitkan komik strip heroiknya di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, salah satunya berjudul “Kisah Pendudukan Jogja”, bercerita tentang agresi militer Belanda ke atas kota Yogyakarta. Komik ini kemudian dibukukan oleh harian “Pikiran Rakyat” dari Bandung. Sebagian pengamat komik berpendapat bahwa inilah buku komik pertama-tama oleh artis komik Indonesia.

Generasi 1940-50an

Sekitar akhir tahun 1940an, banyak komik-komik dari Amerika yang disisipkan sebagai suplemen mingguan suratkabar. Diantaranya adalah komik seperti Tarzan, Rip Kirby, Phantom and Johnny Hazard. Kemudian penerbit seperti Gapura dan Keng po dari Jakarta, dan Perfects dari Malang, mengumpulkannya menjadi sebuah buku komik.

Ditengah-tengah membanjirnya komik-komik asing, hadir Siaw Tik Kwei, salah seorang komikus terdepan, yang memiliki teknik dan ketrampilan tinggi dalam menggambar mendapatkan kesempatan untuk menampilkan komik adapatasinya dari legenda pahlawan Tiongkok ‘Sie Djin Koei’. Komik ini berhasil melampaui popularitas Tarzan di kalangan pembaca lokal. Popularitas tokoh-tokoh komik asing mendorong upaya mentransformasikan beberapa karakter pahlawan super itu ke dalam selera lokal. R.A. Kosasih, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Komik Indonesia, memulai karirnya dengan mengimitasi Wonder Woman menjadi pahlawan wanita bernama Sri Asih.

Masih banyak lagi karakter pahlawan super yang diciptakan oleh komikus lainnya,diantaranya adalah Siti Gahara, Puteri Bintang, Garuda Putih and Kapten Comet, yang mendapatkan inspirasi dari Superman dan petualangan Flash Gordon.

Generasi 1960-70an

Adapatasi dari komik asing dalam komik Indonesia mendapatkan tentangan dan kritikan dari kalangan pendidik dan pengkritik budaya. Karena itu penerbit seperti Melodi dari Bandung dan Keng Po dari Jakarta mencari orientasi baru dengan melihat kembali kepada khazanah kebudayaan nasional. Sebagai hasil pencarian itu maka cerita-cerita yang diambil dari wayang Sunda dan Jawa menjadi tema-tema prioritas dalam penerbitan komik selanjutnya. R.A. Kosasih adalah salah seorang komikus yang terkenal keberhasilannya membawa epik Mahabharata dari wayang ke dalam media buku komik. Sementara itu dari Sumatra, terutamanya di kota Medan, terdapat pionir-pionir komikus berketrampilan tinggi seperto Taguan Hardjo, Djas, dan Zam Nuldyn, yang menyumbangkan estetika dan nilai filosofi ke dalam seni komik. Di bawah penerbitan Casso and Harris, artis-artis komik ini mengeksplorasi cerita rakyat Sumatra yang kemudian menjadi tema komik yang sangat digemari dari tahun 1960an hingga 1970an.

Banyak dipengaruhi komik-komik dengan gaya Amerika, Eropa, dan Tiongkok. Sebagian besar memanfaatkan majalah dan koran sebagai medianya, meskipun beberapa karya seperti Majapahit oleh R.A. Kosasih juga mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam bentuk buku.

Tema yang banyak muncul adalah pewayangan, superhero, dan humor-kritik.

Generasi 1990-2000an

Ditandai oleh dimulainya kebebasan informasi lewat internet dan kemerdekaan penerbitan, komikus mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi gayanya masing-masing dengan mengacu kepada banyak karya luar negeri yang lebih mudah diakses. Selain itu, beberapa judul komik yang sebelumnya mengalami kesulitan untuk menembus pasar dalam negeri, juga mendapat tempat dengan maraknya penerbit komik bajakan.

Selain itu beberapa penerbit besar mulai aktif memberikan kesempatan kepada komikus muda untuk mengubah image komik Indonesia yang selama ini terkesan terlalu serius menjadi lebih segar dan muda.

Ada dua aliran utama yang mendominasi komik modern Indonesia, yaitu Amerika (lebih dikenal dengan comics) dan Jepang (dengan stereotype manga).

(ben/net)

CERNAK 18 November 2012

Hilangnya Koki Istana

Sudah waktunya dapur istana menyiapkan makan siang. Namun, sang kepala koki istana,  Pak Kiko, belum juga datang. Para pembantu Pak Kiko segera melaporkan hal tersebut pada Patih Garda.
“Kalian sudah lama bekerja dengan Pak Kiko. Pasti kalian tahu masakan yang biasa disajikan untuk keluarga istana. Tak perlu menunggu Pak Kiko. Masaklah segera!” Patih Garda malah membentak.
Tujuh koki pembantu Pak Kiko segera memasak. Hidangan itu lalu disajikan di meja makan.
“Aku tidak melihat Pak Kiko menyapa kami siang ini. Kemana Pak Kiko?” tanya Pangeran Sulung kepada pelayan.
“Pak Kiko belum juga datang ke istana. Kami tidak tahu apa yang terjadi dengannya,” jawab si pelayan.
“Jadi, semua makanan kali ini bukan masakan Pak Kiko?” tanya Putri Bungsu.
“Ayolah, kalian semua makan saja,” bujuk Raja Sagalaya.
Namun, baru beberapa suap makanan, tiba-tiba Pangeran Sulung meletakkan sendok dan garpunya. Begitu juga Putri Bungsu. Ada yang kurang dari hidangan itu.
Mengetahui ada yang tidak beres, Patih Garda memanggil ketujuh koki pembantu. Semua langsung gemetar ketakutan.
“Ampuni kami, Patih. Kami sudah memasak hidangan tersebut seperti biasa kami lakukan bersama Pak Kiko. Tidak ada bumbu yang kami kurangi atau tambahkan,” kata salah seorang koki.
“Mungkin saja tanpa sepengetahuan kami, Pak Kiko punya bumbu rahasia,” kata pelayan yang lain.
Tiba-tiba, seorang pengawal istana melapor pada Patih Garda. Ia membawa segulung surat yang ditemukannya di pintu gerbang istana. Segera Patih Garda membaca isi surat itu.
“Baginda Raja yang Mulia, koki istana telah kami culik. Jika ingin dikembalikan dengan selamat, serahkan dulu seratus karung emas pada kami. Kami tunggu tebusan itu di hutan perbatasan sebelah selatan sore ini. Dari kami, Gerombolan Macan Hitam.”
Raja Sagalaya terkejut mendapat laporan dari Patih Garda. Tebusan yang mereka minta sangat banyak. Namun, Raja Sagalaya tak punya pilihan lain. Raja sekeluarga sangat menyayangi Pak Kiko.
“Baginda, izinkan hamba yang mengatur semuanya,” pinta Patih Garda.
“Baiklah, kuserahkan tugas ini padamu,” titah Raja Sagalaya.
Bergegas Patih Garda membawa sepasukan prajurit berkuda, juga seratus karung berisi keping emas yang diangkut dalam beberapa gerobak. Rombongan itu lalu bergerak menuju hutan di sebelah kerajaan.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba sebuah anak panah melesat dan menancap di salah satu karung pada gerobak paling depan. Sepucuk surat terikat di pangkalnya.
“Patih Garda yang bijaksana, suruhlah prajuritmu berhenti sampai di sini. Biarkan Patih sendiri yang membawa gerobak-gerobak itu. Dari kami, Gerombolan Beruang Hitam.”
Patih Garda menuruti permintaan itu. Ia meneruskan perjalanan dengan tenang seorang diri. Hingga di perbatasan, ia bertemu dengan puluhan lelaki bertampang seram.
“Hahaha …, kami bangga kerajaan ini mau mengeluarkan seratus karung emas hanya untuk ditukar dengan seorang koki,” teriak si Brewok, kepala gerombolan penjahat.
“Jangan terlalu lama. Serahkan segera koki kami!” seru Patih Garda.
Seorang penjahat segera menarik Kiko yang terikat tangannya ke hadapan Patih Damar. Namun sebelum menyerahkan Pak Kiko, mereka membuka ikatan karung dalam gerobak yang ada di bagian depan. Setelah yakin karung itu berisi kepingan emas, Pak Kiko diserahkan kepada Patih Garda.
Namun, ketika Patih Garda mendapatkan Pak Kiko, ia tiba-tiba berteriak, “Serang!”
Aha! Rupanya, hanya sepuluh karung di gerobak depan saja yang berisi kepingan emas. Sembilan puluh karung lainnya berisi prajurit istana yang gagah perkasa. Mereka langsung menyerbu dan menangkap gerombolan penjahat itu.
Perjalanan pulang, Patih Garda dan Pak Kiko duduk bersisian di kereta perang.
“Kalau boleh tahu, apakah Pak Kiko punya bumbu rahasia saat memasak? Tadi siang, semua pembantu Pak Kiko tak ada yang bisa memasak selezat Pak Kiko,” tanya Patih Garda.
“Ada, namanya bumbu cinta. Aku selalu menanamkan rasa cinta pada pekerjaanku. Aku juga menanamkan rasa cinta pada keluarga kerajaan,” jawab Pak Kiko.
Patih Rangga manggut-manggut. Rupanya, bumbu rahasia Pak Kiko sangat sederhana, yakni memasak dengan penuh cinta.
******

Friday, November 09, 2012

ARENAKKPK, 11 November 2012


Kisah Melati di Belanda

Judul Story in Holland 2
Penulis Yasmin
124 halaman


Melati pindah ke Belanda agar mendapat pengobatan yang lebih canggih. Memang, Melati memiliki kendala belum bisa berjalan seperti teman-teman seusianya.

Ternyata, ketika di Belanda. Melati harus menghadapi tantangan demi tantangan. Apalagi, Melati belum bisa bahasa Belanda.

Melati memang menakjubkan! Penyakit kelumpuhan otak yang dideritanya tak membuat dia terpuruk menangisi nasib. Melati tetap ceria seperti anak-anak lain dan bersemangat mengikuti terapi untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Bahkan, Melati tak lupa beribadah, lho. Meskipun kadang-kadang harus memakai tisu basah untuk berwudhu. Subhanallah!

 Tak Cuma untuk menjalani terapi, Melati juga bersekolah dan berlibur.Buku KKPK kali ini benar-benar inspiratif.


Geus Rama Saruf, SD Az Zagra, Palembang

HORE, 11 November 2012


Jika Ingin Jadi Detektif




Detektif adalah seseorang yang melakukan penyelidikan terhadap suatu kejahatan, baik sebagai detektif polisi maupun sebagai detektif swasta. Detektif swasta biasanya bekerja secara komersial dan memerlukan lisensi. Secara informal, terutama dalam kisah-kisah fiksi, detektif sering digambarkan sebagai seorang tanpa lisensi yang mengusut suatu tindakan kriminal. Contoh detektif fiksi terkenal antara lain adalah Sherlock Holmes (karangan Sir Arthur Conan Doyle) dan Hercule Poirot (karangan Agatha Christie).

Menjadi detektif, atau lebih tepatnya, mempelajari keahlian detektif, bisa dilakukan siapa saja, tanpa mengenal usia. Ilmu atau keahlian detektif ini bahkan akan sangat bermanfaat, untuk membantu pekerjaan kita. Pekerjaan sebagai pengacara, auditor, atau wartawan! Atau apapun, termasuk ibu rumah tangga. Suatu saat kita ingin tahu, apakah tumpukan surat kita di meja dipindahkan orang atau tidak; apakah lemari kita dibuka orang lain secara diam-diam; apakah anak kita berbohong atau tidak, bahkan juga mengorek keterangan orang lain tanpa orang itu menyadarinya.
Keahlian detektif seseorang, akan semakin meningkat seiring pengalaman memecahkan persoalan. Teknologinya pun semakin baik, dan setiap orang yang memiliki minat kuat dalam masalah detektif, akan terus mencari teknik-teknik baru, metode baru, yang lebih baik dan cepat.

Keahlian detektif, misalnya:

- Kemampuan daya ingat, meskipun dengan pandangan sekilas. Ini antara lain berguna ketika kita menemui kasus tabrak lari, dan nomor polisi kendaraan menjadi fakta penting. Selain itu juga disertai kemampuan memanggil kembali ingatan yang lama; 


- Kejelian dan cermat terhadap hal-hal detil. Sherlock Holmes adalah 'pakar' dalam detil dan kecermatan---dengan catatan, jika Holmes itu sosok yang nyata. (Tetapi saya meyakini Holmes itu nyata!). Dalam setiap memecahkan masalah, Sherlock Holmes selalu melakukan observasi---pengamatan langsung di lapangan. Contoh lain, dalam kasus Saksi Bisu, Hercule Poirot pernah hampir buntu menghadapi kasusnya. Baru setelah ia mereview kembali, dan mengingat detilnya, ia berhasil menemukan pelaku pembunuhan.

- Kemampuan meng-interogasi. Semakin tinggi kemampuan interogasi yang dimiliki seseorang, ia akan mudah mengorek fakta, 'fakta' palsu, atau keterangan dari seseorang---tanpa orang itu menyadarinya. Kemampuan ini juga beriringan dengan keahlian menggunakan teknik pembuktian terbalik dalam menginterogasi seseorang. “Pandai-pandailah memancing pertanyaan dengan fakta yang salah, maka ia akan memberikan fakta sebenarnya”. Memang tidak selalu berhasil, tetapi bisa dicoba.

- Kemampuan bernegosiasi. Ini masih berkaitan dengan kemampuan meng-interogasi. Kemampuan bernegosiasi sangat penting, dalam praktik-prakti di lapangan, dimana dibutuhkan keberanian menembus kebekuan seseorang, menghadapi orang keras kepala, dan sebagainya.

- Pengetahuan terhadap hukum perundang-undangan yang berlaku.

- Kemampuan menganalisa. Ini penting untuk menguji kebenaran fakta---baik fakta benda atau fakta lisan. Detektif yang baik tidak pernah berangkat dari titik motif; selalu harus dari fakta-fakta. Sherlock Holmes mengajari kita bagaimana metode ilmiah (scientific method, metode eliminasi atau eksklusi, mempersempit pencarian, dan mempermudah memecahkan masalah. Memang membingungkan, apakah Holmes itu 'ilmuwan yang nyasar jadi detektif', ataukah 'detektif dengan sambilan ilmuwan'? Dalam suatu kisahnya, Holmes menulis artikel tentang tanaman atau obat-obatan di sebuah jurnal. Dengan pikiran yang sangat logis, Holmes bisa disebut seorang matematikawan. Dengan percobaan-percobaannya di laboratorium, Holmes juga bisa disebut fisikawan atau kimiawan. Ada penemuannya yang dipakai kepolisian Scotland Yard.

Metode eliminasi atau eksklusi, maksudnya dengan menyingkirkan hal-hal yang sudah pasti mustahil---setelah diuji dengan fakta dan observasi. Hercule Poiro mengajari kita bagaimana memecahkan masalah dengan metode kesimpulan deduksi. Untuk meningkatkan kemampuan analisa, ada banyak hal yang harus dipelajari---tidak hanya metode deduksi, induksi, atau kombinasi keduanya. Ada pula metode analisa yang diperkenalkan Rene Descartes, yang dikenal dengan Analisa Cartesian, dan sebagainya. Anda bisa mempelajarinya dari internet atau buku-buku yang ada.

- Kemampuan penting lainnya, diantaranya teknik penyamaran, teknik mengikuti/membuntuti seseorang, teknik melacak/tracking, maupun pengetahuan forensik sederhana dalam kasus kriminal. Contoh pengetahuan forensik sederhana; seseorang yang ditemukan meninggal dengan leher membiru, dipastikan meninggal kehabisan nafas.

(ben/net)