Saturday, April 25, 2015

Cernak, 26 April 2015

Sebentar Lagi




oleh Benny Rhamdani


Sudah sejak tiga hari lalu Ibu membuat aturan yang membuat aku tersiksa.

"Sebentar lagi UAS. Ibu tidak mau kamu SMS-an atau BBM-an dulu. Mulai hari ini BB kamu ibu pegang dulu sampai UAS selesai," begitu kata Ibu.

"Tapi aku perlu untuk tanya-tanya teman-teman," kilahku kecewa.

"Kalau mau tanya, kamu boleh pakai telepon rumah. Tapi seperlunya," jawabku.

"Tapi kalau buka Facebook di komputer masih boleh kan, Bu?" pintaku.

"Itu juga tidak boleh. Dilarang main Facebook dan games dulu sampai UAS selesai," tambah Ibu.

Ya, ampun. Lalu aku harus melakukan apa? Masa sih belajar terus?

"Baca buku KKPK juga istirahat dulu. Hanya boleh baca buku pelajaran," Ibu masih menambah aturan.

Ingin rasanya aku teriak. Masih ada tiga buku KKPK baru yang belum aku baca di lemari buku kamarku.

"Tenang, Sania. UAS tidak lama," kata Ayah yang ikut bicara.

Aku terdiam. Tidak mungkin memprotes aturan Ibu. Salahku juga. Semester lalu nilaiku turun. Aku keasyikan main Facebook. Bukannya belajar. Aku juga malah melahap habis buku KKPK terbaru, bukannya menghapal buku pelajaran. Tapi teman-temanku yang lain juga masih melakukan hal yang sama denganku.

Esok harinya di sekolah aku mengadukan hal itu kepada sahabatku, Winda.

"Apa? Jadi ibumu melarang juga? Wuah, kalau begitu sama dengan aku dong," kata Winda. "Mulai hari ini aku tidak bawa BB dan tidak boleh membuka komputer kecuali untuk mengerjakan tugas."

"Kamu sedih?" tanyaku.

"Tadinya sih sedih. Tapi sekarang nggak. Aku pikir, kadang-kadang kita harus menahan diri dengan hal-hal yang kita sukai.Apalagi yang bisa mengacaukan nilai pelajaran kita," tambah Winda.

"Ih, kamu kayak orangtua deh."

"Soalnya aku melihat sendiri ayahku. Kamu tahu kan, Ayah tuh suka banget memancing di hari Minggu. Tapi saat aku sakit atau ada keperluan, Ayah berhenti memancing. Begitu juga Ibu. Tahu sendiri ibuku itu suka sekali olahraga sepeda. tapi saat hamil adikku, ibuku menghentikannya," jelas Winda.

"Jadi?"

"Ya, jadi kita juga boleh dong bersabar menghentikan hobi kita. Apalagi UAS itu kan sebnarnya buat kita juga. Bukan buat orang lain. Dari pada aku kesal, nanti malah malas belajar. Atau menghapal setengah hati, aku ikuti saja aturan Ibu," tambah Winda.

Aku manggut-manggut. "Iya juga sih. Kalau kita belajar dengan rajin menjelang UAS ini, nilai kita akan bagus. Kalau nilai kita bagus, Ibu pasti senang. Ayah juga. Kalau mereka senang, kita bisa minta apa saja. Aku pengen beli beberapa judul KKPK terbaru," kataku.

"Huaaa! Buku KKPK kamu kan sudah banyak!" sergah Winda.

"Biar. Aku ingin punya semua judul," kataku.

Setelah itu kami ngobrol soal KKPK. Hatiku pun lega. Inilah enaknya punya sahabat. Bisa saling meringankan pikiran dan beban di hati. Kini aku mau menerima aturan Ibu. Aku yakin Ibu bermaksud baik dengan aturannya itu.

^_^

No comments: