Saturday, March 28, 2015

Cernak, 29 Maret 2015

Kisah Princess Lotusya




Princess Lotusya sangat senang bermain di sisi telaga di dekat istana.  Princess Lotusya bermain selalu ditemani dayang-dayang.

Suatu hari ketika Princess Lotusya sedang bermain sendiri, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari tengah telaga.

“Suara bayi siapa itu? Sepertinya dari tengah telaga,” kata para dayang.

Princess Lotusya segera mendayung sampannya ke tengah telaga.  Ia terkejut ketika melihat sebuah keranjang mengapung di telaga. Keranjang itu berisi seorang bayi. Princess Lotusya segera membawa bayi itu bersamanya ke sisi telaga.

“Aduh, bayi siapa ini?” tanya para dayang sambil mendekat.

“Sepertinya dia kehausan atau kelaparan. Kita harus membawanya ke istana,” ajak Princess Lotusya bingung.

Mereka kemudian kembali ke istana dengan tergesa-gesa. Langkah pertama yang dilakukan Princess Lotusya adalah menenangkan bayi itu. Seorang  pelayan istana kebetulan memiliki bayi pula yang sedang menyusui. Karenanya Princess Lotusya meminta  pelayan bernama Bu Yuka  untuk menyusui bayi itu.

“Baiklah, aku akan menyusuinya,” kata Bu Yuka sambil menggendong bayi lelaki itu.

Tapi ketika Bu Yuka melihat gelang di kak bayi itu, Bu Yuka langsung menolak menyusuinya.

“Maaf, Princess Lotusya. Bayi ini berasal dari Suku Berryz, sedangkan saya dari Suku Simyan. Peraturan suku kami adalah tidak boleh membantu suku mereka sekecil apapun,” kata Bu Yuka.

Princess Lotusya menarik napas. Dia memang pernah mendengar, di negerinya ada dua suku yang selalu berselisih. Keduanya sama-sama merasa suku paling unggul dari yang lain. Akhirnya, mereka justru saling memusuhi.

 “Bayi ini mungkin memang dari Suku Berryz. Tapi percayalah, bayi ini tidak tahu apa-apa soal permusuhan ayah, ibu, kakak, atau bahkan nenek moyangnya dengan suku lainnya. Dia juga tidak minta dilahirkan di Suku Simyan. Tolonglah dia. Anggaplah dia adalah bayimu sendiri,” kata Princess Lotusya.

Bu Yuka berpikir sebentar. Akhirnya, dia mau juga menyusui bayi yang masih menangis itu.

 Tak lama kemudian Princess Lotusya mengumumkan tentang penemuan bayi itu. Dia menjelaskan tentang cirri-ciri bayi itu. Tak lama kemudian seorang wanita datang mengakuinya.

“Dari mana aku bisa mengetahui bahwa itu bayimu?” tanya Princess Loutusya.

“Aku memberinya gelang bayi suku Berryz,” kata wanita itu.

“Bayi itu telah disusui oleh seorang ibu dari suku Simyan,” kata Puteri Lotusya.

“Aku tidak akan marah. Dia telah memberi makan anakku. AKu malah akan berterima aksih,” katanya. 

“Aku malah akan memberikan kalungku sebagai tanda terima kasih.”

 Princess Lotusya senang. Dia kemudian menceritakan kejadian sesungguhnya tentang kebaikan itu kepada seluruh rakyatnya. Betapa saling menolong walaupun berbeda suku adalah hal yang baik.

Lama kelamaan permusuhan antarsuku Berryz dan Simyan pun berakhir. Mereka kini hidup damai.

Hore Aku Tahu 29 Maret 2015


Apa itu Virus?



Kata virus berasal dari bahasa Latin virion yang berarti 'racun', yang pertama kali digunakan di bahasa Inggris tahun 1392. Definisi "agen yang menyebabkan infeksi penyakit" pertama kali digunakan tahun 1728, sebelum ditemukannya virus sendiri oleh Dmitri Iwanovsky tahun 1892.

Virus telah menginfeksi sejak zaman sebelum Masehi, hal tersebut terbukti dengan adanya beberapa penemuan-penemuan yaitu laporan mengenai infeksi virus dalam hieroglif di Memphis, ibu kota Mesir kuno (1400 SM) yang menunjukkan adanya penyakit poliomyelitis.

Raja Firaun Ramses V meninggal pada tahun 1196 SM dan dipercaya meninggal karena terserang virus smallpox.

Pada zaman sebelum Masehi, virus endemik yang cukup terkenal adalah virus smallpox yang menyerang masyarakat Tiongkok pada tahun 1000. Akan tetapi pada pada tahun 1798, Edward Jenner menemukan bahwa beberapa pemerah susu memiliki kekebalan terhadap virus pox. Hal tersebut diduga karena virus pox yang terdapat pada sapi, melindungi manusia dari pox. Penemuan tersebut yang dipahami kemudian merupakan pelopor penggunaan vaksin.

Pada tahun 1880, Louis Pasteur dan Robert Koch mengemukakan suatu "germ theory" yaitu bahwa mikroorganisme merupakan penyebab penyakit. Pada saat itu juga terkenal Postulat Koch yang sangat terkenal hingga saat ini yaitu Agen penyakit harus ada di dalam setiap kasus penyakit.

Penelitian mengenai virus dimulai dengan penelitian mengenai penyakit mosaik yang menghambat pertumbuhan tanaman tembakau dan membuat daun tanaman tersebut memiliki bercak-bercak.

Pada tahun 1883, Adolf Mayer, seorang ilmuwan Jerman, menemukan bahwa penyakit tersebut dapat menular ketika tanaman yang ia teliti menjadi sakit setelah disemprot dengan getah tanaman yang sakit.

Karena tidak berhasil menemukan mikroba pada getah tanaman tersebut, Mayer menyimpulkan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri yang lebih kecil dari biasanya dan tidak dapat dilihat dengan mikroskop.

Pada tahun 1892, Dimitri Ivanowsky dari Rusia menemukan bahwa getah daun tembakau yang sudah disaring dengan penyaring bakteri masih dapat menimbulkan penyakit mosaik. Ivanowsky lalu menyimpulkan dua kemungkinan, yaitu bahwa bakteri penyebab penyakit tersebut berbentuk sangat kecil sehingga masih dapat melewati saringan, atau bakteri tersebut mengeluarkan toksin yang dapat menembus saringan.

 Kemungkinan kedua ini dibuang pada tahun 1897 setelah Martinus Beijerinck dari Belanda menemukan bahwa agen infeksi di dalam getah yang sudah disaring tersebut dapat bereproduksi karena kemampuannya menimbulkan penyakit tidak berkurang setelah beberapa kali ditransfer antartanaman.

Patogen mosaik tembakau disimpulkan sebagai bukan bakteri, melainkan merupakan contagium vivum fluidum, yaitu sejenis cairan hidup pembawa penyakit.



Setelah itu, pada tahun 1898, Loeffler dan Frosch melaporkan bahwa penyebab penyakit mulut dan kaki sapi dapat melewati filter yang tidak dapat dilewati bakteri. Namun, mereka menyimpulkan bahwa patogennya adalah bakteri yang sangat kecil

Pendapat Beijerinck baru terbukti pada tahun 1935, setelah Wendell Meredith Stanley dari Amerika Serikat berhasil mengkristalkan partikel penyebab penyakit mosaik yang kini dikenal sebagai virus mosaik tembakau.

Virus ini juga merupakan virus yang pertama kali divisualisasikan dengan mikroskop elektron pada tahun 1939 oleh ilmuwan Jerman G.A. Kausche, E. Pfankuch, dan H. Ruska.

Pada tahun 1911, Peyton Rous menemukan jika ayam yang sehat diinduksi dengan sel tumor dari ayam yang sakit, maka pada ayam yang sehat tersebut juga akan terkena kanker. Selain itu, Rous juga mencoba melisis sel tumor dari ayam yang sakit lalu menyaring sari-sarinya dengan pori-pori yang tidak dapat dilalui oleh bakteri, lalu sari-sari tersebut di suntikkan dalam sel ayam yang sehat dan ternyata hal tersebut juga dapat menyebabkan kanker.

Rous menyimpulkan kanker disebabkan karena sel virus pada sel tumor ayam yang sakit yang menginfeksi sel ayam yang sehat. Penemuan tersebut merupakan penemuan pertama virus onkogenik, yaitu virus yang dapat menyebabkan tumor. Virus yang ditemukan oleh Rous dinamakan Rous Sarcoma Virus(RSV).

Pada tahun 1933, Shope papilloma virus atau cottontail rabbit papilloma virus (CRPV) yang ditemukan oleh Dr Richard E Shope merupakan model kanker pertama pada manusia yag disebabkan oleh virus. Dr Shope melakukan percobaan dengan mengambil filtrat dari tumor pada hewan lalu disuntikkan pada kelinci domestik yang sehat, dan ternyata timbul tumor pada kelinci tersebut.



Wendell Stanley merupakan orang pertama yang berhasil mengkristalkan virus pada tahun 1935. Virus yang dikristalkan merupakan Tobacco Mozaic Virus (TMV). Stanley mengemukakan bahwa virus akan dapat tetap aktif meskipun setelah kristalisasi.

Martha Chase dan Alfred Hershey pada tahun 1952 berhasil menemukan bakterofag. Bakterofag merupakan virus yang memiliki inang bakteri sehingga hanya dapat bereplikasi di dalam sel bakteri.


Arena KKPK, 29 Maret 2015

Petualangan Vira




Judul: Terbang kee Bulan
Penulis: Desy Rachmawati
112 halaman

"Ma, Putri Bulan itu ada enggak, sih, Ma?"
Vira suka sekali pelajaran IPA, sampai-sampai dia mencari tahu informasi mengenai planet. Vira selalu mencari tahu benda-benda luar angkasa tersebut pada kakak, ibu, dan teman-temannya di sekolah. Sampai suatu hari Vira bertemu Putri Bulan yang mengajaknya menari.
Waaah... seperti apa, ya, serunya Vira bertemu dengan Putri Bulan? Yuk, kita baca ceritanya bareng-bareng! Gara-gara baca KKPK yang ini, aku jadi semakain semangat belajar IPA lho.
(Geus Rama S, Palembang)

Friday, March 20, 2015

Hore Aku Tahu, 22 Maret 2015

Sejarah Sabun






Kalau kita mendengar kata “sabun cuci” dalam benak kita terbayang benda padat yang biasanya berbentuk batangan atau bentuk lain, atau cairan agak kental, atau bisa juga pasta atau krim, yang bila dicampur air dan digosok-gosok akan menghasilkan busa yang mampu membersihkan benda atau tubuh kita dari kotoran yang menempel. 

Benda ini dalam berbagai bahasa asing disebut sebagai “zeep” (Belanda) ”soap” (Inggris), “savon” (Perancis), “sapone” (Itali), “sabuni” (Swahili), ”sabun” (Turki), “jab√≥n” (Spanyol), “Seife” (Jerman) dan lain sebagainya.

Sejarah Awal Mula Pemakaian Sabun

Asal mula kebersihan pribadi dimulai dari sejak zaman pra-sejarah. Bahan mirip sabun yang ditemukan dalam bejana gerabah selama penggalian di situs Babylon kuno menunjukkan bahwa pembuatan sabun telah dikenal sejak 2800 SM. 

Ukiran pada bejana tersebut mengatakan bahwa lemak direbus bersama abu, yang merupakan metode pembuatan sabun, tetapi tak ada acuan tentang kegunaan “Sabun Cuci” itu sendiri. Bahan semacam itu di kemudian hari dipakai sebagai bahan pembantu penata rambut.

Kira-kira 4000 tahun yang silam, saat sabun belum dikenal, orang Hittite yang kini lebih dikenal sebagai orang Turki, biasa mencuci tangan dengan air yang diberi abu tanaman. Sementara itu, orang Romawi menggunakan lemak kambing yang dicampur dengan abu kayu api untuk menghasilkan sabun yang pada saat itu disebut sapo. 

Mereka menggunakan sapo untuk membersihkan badan dan mengobati luka. Orang Gaul di Eropa juga mengenal sapo. Bukan untuk mandi, tetapi untuk meminyaki rambut supaya mengkilat

Sampai abad ke-10, kebersihan dan ilmu pengetahuan masih terbengkalai. Baru setelah abad ke-10 orang mulai menyadari kaitan antara kebersihan dan kesehatan. Di Eropa pembuatan sabun mulai popular, terutama di Itali, Spanyol, Prancis dan Inggris. Sabun saat itu dibuat dari campuran minyak olive atau minyak zaitun dengan wewangian bunga-bungaan.

Pada abad ke-17 sabun hanya untuk orang kaya karena harganya mahal. Benda itu termasuk barang mewah sehingga dikenakan pajak tinggi di Inggris. Satu setengah abad kemudian, Perdana Mentri Inggris saat itu, Gladstone menghapus pajak sabun demi menjaga kebersihan. Industri sabunpun mulai tumbuh dimana-mana. Sabun saat itu padat, berbentuk bongkahan besar, berwarna dan sudah wangi hanya dijual kiloan. Baru kira-kira tahun 1830-an, sabun dibungkus kecil-kecil.

Nicholas Leblanc dari Prancis memperkenalkan sodium carbonat atau soda ash sebagai bahan sabun di abad ke-18. Dua puluh tahun kemudian, ilmuwan Prancis lainnya menciptakan sabun dari glycerine dan fatty acids. Itulah cikal bakal sabun berbahan kimia.

Industri Detergent yang ditemukan pertama di Jerman merupakan campuran garam-garam natrium alkil sulfat dan natrium alkil benzena sulfat. Deterjen kemudian lebih banyak digunakan untuk mencuci pakaian, sedangkan sabun digunakan untuk membersihkan badan.

Bahan kimia dari manufaktur sabun dasarnya tinggal sama sampai tahun 1916, ketika deterjen sintetik pertama berkembang di Jerman di jawaban ke Perang Dunia I - berkaitan kekurangan lemak untuk membuat sabun. 

Diketahui sekarang dengan sederhana deterjen, deterjen sintetis adalah pembersih non-sabun dan produk pembersih itu adalah menjadi satu atau mengambil bersama dari jenis bahan mentah. Penjelajahan dari deterjen juga diterbangkan oleh kebutuhan untuk alat kebersihan itu, tidak seperti sabun, tidak akan dikombinasi dengan garam mineral di air untuk membentuk sesuatu yang tidak dapat dipecahkan diketahui itu adalah dadih sabun.

Produksi deterjen rumah tangga di Amerika Serikat dimulai di awal tahun 1930-an, tetapi tidak benar-benar membuka sampai akhir Perang Dunia II. Waktu perang berhentinya persediaan lemak dan minyak juga militer membutuhkan untuk alat kebersihan itu akan bekerja di air laut kaya mineral dan di air dingin mempunyai lebih lanjut merangsang meneliti di deterjen.

Deterjen pertama digunakan terutama untuk mencuci piring dan mencuci baju bahan lembut. Penerobosan di perkembangan dari detergen untuk mencuci baju serba guna digunakan muncul pada tahun 1946, ketika deterjen pembangun (berisi surfaktan/kombinasi pembangun)dikenalkan di Amerika Serikat. Surfaktan adalah produk deterjen bahan pembersih dasar, saat pembangun membantu surfaktan untuk bekerja lebih efisien. Senyawa fosfat digunakan sebagai pembangun di detergen ini sangat meningkat perfomanya, membuat mereka cocok untuk mencuci baju dengan tingkat kekotoran berat.

Di tahun 1953, penjualan deterjen di negara ini memiliki itu melebihi sabun. Kini, detergen memiliki semua tetapi menggantikan produk dengan dasar sabun untuk mencuci baju, mencuci piring dan pembersih rumah tangga. 

Deterjen (sendiri atau berkombinasi dengan sabun) adalah juga penemuan di banyak dari penggunaan batangan dan cair untuk pembersih pribadi.

Sejak prestasi di deterjen dan bahan kimia pembangun itu, aktivitas produk baru memiliki lanjutan utntuk fokus ke membangun produk pembersih praktis dan mudah untuk digunakan, juga menyelamatkan konsumen dan untuk lingkungan. 



Bahan-bahan Membuat Sabun

Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut batang karena sejarah dan bentuk umumnya. Penggunaan sabun cair juga telah telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik. 

Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengikat partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih. Di negara berkembang, deterjen sintetik telah menggantikan sabun sebagai alat bantu mencuci atau membersihkan.

Banyak sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan dengan alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida) pada suhu 80–100 °C melalui suatu proses yang dikenal dengan saponifikasi. Lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah. 

Secara tradisional, alkali yang digunakan adalah kalium yang dihasilkan dari pembakaran tumbuhan, atau dari arang kayu. Sabun dapat dibuat pula dari minyak tumbuhan, seperti minyak zaitun.

Arena KKPK, 22 Maret 2015

Saat Bersolek




Judul; Make Up Time
Penulis: Debora
112 Halaman


"Aku... akan pindah ke New York," ucap Lizzy terbata-bata dengan wajah muram.
Lizzy harus pindah ke New York mengikuti ayahnya yang pindah tugas. Dengan perasaan sedih Lizzy pun berpamitan pada teman-teman sekolahnya. Tiba di rumah barunya, tiba0tiba kakiknya tersandung sebuah kotak kecil. Wah..., apa, ya, isi kotak kecil itu? 
Ternyata kotak kecil itu membawa perubahan pada hidupnya. Lizzy mempunyai teman bernama Helly yang bisa membantu Lizzy menjadi model terkenal. Wow, semakin seru aja, ya, kisah perjalanan Lizzy di New York! Nah, siapa, ya, Helly itu? Bagaimana perjalanan Lizzy menjadi model? Yuk, kita langsung baca, aja!
Buku ini sangat menarik. Aku suka membacanya.
(Salsa, Palembang)


Cernak, 22 Maret 2015




Tolooong

oleh Benny Rhamdani


Arloji digitalnya sudah menunjukkan pukul 07.35. Sudah tidak ada harapan bagi Edwin melenggang melewati gerbang sekolah.

“Aduh mana nanti ada ulangan matematika. Masa harus pulang?” dengus Edwin.

Tiba-tiba Edwin ingat obrolan Riko, dua hari lalu. “Tadi pagi gue terlambat, terus mutar ke belakang sekolah. Kita bisa lompat tembok dari pohon nangka. Turun di dekat ruang osis,” paparnya.

Edwin pun bergegas memutari sekolah. Hal yang baru dilakukannya sejak masuk SMA sebulan lalu. Akhirnya, dia menemukan pohon nangka yang dimaksud. Tanpa banyak membuang waktu Edwin memanjat pohon nangka, melompati tembok pembatas sekolah.

Bruk. Kakinya mengempas tanah di samping ruang osis.

Edwin kemudian mengendap perlahan. “Moga-moga nggak ketemu satpam atau guru piket,” dia membatin.

“Tooolooongg …”

Suara itu terdengar lirih, membuat Edwin berhenti melangkah. Suara itu datang dari ruang OSIS. Edwin mendekati pintu gudang. Tidak tertutup sepenuhnya.

Edwin mengintip sambil membuka pintu lebih lebar.

“Cepat masuk dan tutup pintunya!” seorang anak perempuan langsung meghardiknya. Dia tampak ketakutan sambil duduk di sudut ruangan.

“Maaf, Kak Sandra,” Kata Edwin sambil masuk lalu menutup pintunya. Dia tahu perempuan itu kakak kelasnya . “Kakak kenapa?”

“Kamu belum tertular?” tanya Sandra.

“Tertular apa, Kak? Maaf aku baru masuk, lompati pagar. Tadi aku terlambat.”

“Sekolah ini telah terjangkiti virus. “

“Virus apa, kak?”

Tiba-tiba mata Sandra berubah putih semua. Seluruh kulitnya mengerut. Bola mata Sandra kemudian membesar. Dan Sandra teriak kesakitan tapi tak jelas.
Edwin mundur beberapa langkah. Lalu ketika Sandra mendadak berdiri dan menatapnya, Edwin langsung membuka pintu gudang lalu lari keluar. Dia melewati lorong samping sekolah, lalu langkahnya terhenti di mulut lorong yang langsung mengarah ke lapangan di tengah area sekolah.

Edwin kaget. Di halaman sekolah dia melihat sejumlah orang tampak berdiri seperti mayat hidup.
Ketika melihat sisi lain yang menampakkan koridor lantai dua hingga empat, dia melihat pemandangan yang sama. Tidak hanya siswa, tapi juga para guru.
“Hosh…”

Edwin terkejut. Dia mendengar suara dengusan di belakangnya. Ketika mengongok dia melihat selusin mayat hidup berseragam sekolah menuju ke arahnya.

Tanpa mengambil aba-aba, Edwin langsung lari menuju lorong lain ke arah laboratorium.Matanya tetap waspada. Dia ingat sekali, laboratorium baru buka pukul Sembilan. Jadi kecil kemungkinan ada siswa atau guru yang menjadi mayat hidup saat ini.

Edwin menengok ke belakang. Mayat-mayat hidup tak berhasil mengejarnya. Dia mengambil napas sesaat sambil membungkuk. Paru-parunya serasa sesak.

“Win! Ssst! Sini!”

Edwin mendengar bisikan itu. Bukan dari laboratorium, tapi di balik pintu perpustakaan, di seberangnya. Edwin menghampiri pintu itu perlahan. “Kalo mayat hidup, dia nggak akan berbisik ngomong,” kata Edwin meyakinkan hatinya.
Ketika dia sudah mendekati pintu perpusatkaan, tiba-tiba pintu terbuka, pergelangan tangannya ditarik keras ke dalam perpustakaan.

Edwin mengira dirinya akan ditarik mayat hidup lalu akan berhadapan dengan makluk paling mengerikan. Tapi bukan. Tiga teman sekelasnya Danang, Gatot dan Rovi.

“Gimana kalian bisa selamat?’ tanya Edwin.
Mereka bercerita bahwa mereka sebenarnya mereka bermaksud bolos. Mereka sembunyi di katin. Tapi mendadak kejadian mengerikan melanda sekolah. Para penghuni sekolah berubah.

BRAK!
Tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak. Tiga teman Edwin langsung lari lewat pintu belakang.
“Ah aku juga harus lari kalo gini!” Edwin lari melewati pintu belakang perpustakaan. Tapi tiga temannya sudah tidak terlihat. Edwin  berlari melewati lorong. Sampai akhirnya mentok di toilet siswa.

Edwin menengok ke belakang. Dia melihat lusinan mayat hidup berjalan ke arahnya. Tak ada pilihan lain, dia pun manerabas pintu toilet lalu menutupnya. Dia bingung.

“Apa yang harus aku lakukan?” keringatnya menetes.

BRAAK!

Pintu bilik digebrak keras. Edwin mundur makin ke sudut. Bunyi berakan pintu berikutnya langsung membuatnya terduduk ketakutan. Belum pernah dia setakut ini.

BRAK! Pintu terbuka.

“Edwin ngapain di sini?”

Edwin mengangkat kepalanya perlahan. Itu suara Dayat, teman sebangkunya.
Edwin melihat dayat berdiri di depannya. Dia pun merasa senang.

“Apa yang terjadi? aku barusan kebelet, tapi pintunya terkunci. Makanya tadi aku dobrak,” kata Dayat sambil berdiri di depan urinoir. Lalu melakukan niatnya buang air kecil.

“Jadi elo belum ketularan?” tanya Edwin bingung.
“Ketularan apa? Udah, kita masuk. Kamu pasti tadi telat dan lewat pohon nagka angker itu ya? Untung nggak kenapa-napa. Soalnya, si Riko abis cerita lompat pohon nangka itu semalam meninggal,” jelas Dayat.
“Serius?” tanya Edwin.

“Iya. Eh, buruan ke kelas. Pak Amilus bentar lagi masuk kelas, ulangan matematika,” timpal
Dayat sambil mencuci tangan di wastafel.

Keduanya keluar meninggalkan toilet berbarengan. Mereka jalan menyusuri lorong sekolah. Suasana sepi.

Sampai kemudian tiba di depan kelas, Edwin membuka pintu kelas yang tertutup.

Dia baru melangkah masuk melewati pintu kelas ketika kemudian terhenyak …

Dia melihat teman-teman sekelasnya wajahnya rusak tak dikenalinya.

Ketika Edwin menoleh ke belakang, dia melihat sahabatnya itu sudah berubah jadi seperti mayat hidup.

“Tollllooong…” Edwin berteriak panjang.

Friday, March 13, 2015

Cernak, 15 Maret 2015

Salsa Suka Sayur





Salsa sangat suka cokelat. Dia juga menyukai hidangan lezat buatan ibunya. Namun, dia tidak akan memakan sayuran. Untuk setiap hidangan sayuran Salsa selalu berkata keras, “TIDAK MAU!”

“Lihatlah sayur bayam ini, Salsa! Ibu sudah menambahkan dengan jagung muda. Rasanya begitu enak dan menyehatkan,” kata ibu.

Salsa langsung menggeleng!



Nama sayuran apapun, bagi Salsa sama saja. Dia tidak akan melihatnya meskipun ditambah apapun. Ayah dan ibu sangat marah. Tapi yang lebih marah dana kesal adalah sayuran.

“Salsa tidak menyukai saya. Saya juga tidak menyukainya,” kata kentang kesal.


“Lihatlah, betapa d ia membenci saya!” ucap wortel hampir menangis.

Saya ingin membalas perkataannya,” kata bayam.

“Dan aku tahu bagaimana menangani anak keras kepala ini,” kata paria dengan senyum nakal.
Pada saat makan malam semua sayuran bekerja sesuai rencana mereka.


Salsa sangat menyukai kari daging ayam. Ketika kari dibawa ke meja, ia langsung meletakkan sepotong daging ayam di mulutnya.

“Daging ini pahit!” kata Salsa. Dia tidak tahu paria telah meremas jus dirinya di piring yang dipakai Salsa.

“Jangan mengada-ada,” kata Ayah.

“Iya. Ini pahit kok,” kata Salsa meyakinkan.

“Kalau begitu minum saja,” saran Ibu.

Salsa minum air di gelasnya. Tapi dia memuntahkannya kembali karena rasanya sangat asin. Da tidak tahu para sayuran tadi menaburkan garam ke minumannya.

“Minumnya asin,” kata Salsa.

Ibu dan ayah tidak percaya kepada Salsa. Minuman Ayah dan Ibu sama sekali tidak berasa asin.

Salsa kesal karena tidak dipercaya. Dia tidak mau menghabsikan makan malamnya. Ayah dan Ibu tidak mau memaksa Salsa karena sudah begitu kebiasaan salsa.

Tengah malam, Salsa merasa lapar. Dia berjalan ke lemari es. Ia mengeluarkan sepotong cokelat dan menggigit potongan besar. Tapi lidahnya kepanasan karena cabai telah menggosokan dirinya ke cokelat. Karena tak kuat, Salsa mengambil tomat di kulkas. Dia mengggigitnya.

“Hmm, rasanya ternyata enak dan segar,” kata Salsa yang baru pertama memakan tomat.


Keesokan paginya, ibu Salsa membuka lemari es untuk mengambil tomat. Dia tidak menemukan satu pun.


“Heran, tomat Ibu pada kemana ya?” tanya Ibu bingung.

“Aku memakannya,” kata Salsa di belakang.

“Oh ya? Bukankah kamu tidak suka sayuran?” tanya Ibu.

“Oh, Ibu. Itu kan dulu. Sekarang aku akan menyukai semua masakan ibu. Termasuk sayur-sayuran,” kata Salsa.

Ibu merasa senang. Dia langsung memeluk Salsa erat.

Hore Aku Tahu, 15 Maret 2015

Bersahabat dengan Awan




Awan adalah massa yang dapat dilihat dari tetesan air atau kristal beku tergantung di atmosfer di atas permukaan bumi atau permukaan planet lain. Awan juga massa terlihat yang tertarik oleh gravitasi, seperti massa materi dalam ruang yang disebut awan antar bintang dan nebula. Awan dipelajari dalam ilmu awan atau fisika awan, suatu cabang meteorologi.
Di Bumi substansi biasanya presipitasi uap air. Dengan bantuan partikel higroskopis udara seperti debu dan garam dari laut, tetesan air kecil terbentuk pada ketinggian rendah dan kristal es pada ketinggian tinggi bila udara didinginkan jadi jenuh oleh konvektif lokal atau lebih besar mengangkat non-konvektif skala.
Pada beberapa soal, awan tinggi mungkin sebagian terdiri dari tetesan air superdingin. Tetesan dan kristal biasanya sekitar 0,01 mm (0,00039 in) diameter. Paling umum dari pemanasan matahari di siang hari dari udara pada tingkat permukaan, angkat frontal yang memaksa massa udara lebih hangat akan naik lebih keatas dan mengangkat orografik udara di atas gunung. Ketika udara naik , mengembang sehingga tekanan berkurang.
Proses ini mengeluarkan energi yang menyebabkan udara dingin. Ketika dikelilingi oleh milyaran tetesan lain atau kristal mereka menjadi terlihat sebagai awan. Dengan tidak adanya inti kondensasi, udara menjadi jenuh dan pembentukan awan terhambat. dalam awan padat memperlihatkan pantulan tinggi (70% sampai 95%) di seluruh awan terlihat berbagai panjang gelombang, sehingga tampak putih, di atas.


Tetesan embun (titi-titik air) cenderung efisien menyebarkan cahaya, sehingga intensitas radiasi matahari berkurang dengan kedalaman arah ke gas, maka warna abu-abu atau bahkan gelap kadang-kadang tampak di dasar awan. Awan tipis mungkin tampak telah memperoleh warna dari lingkungan mereka atau latar belakang dan awan diterangi oleh cahaya non-putih, seperti saat matahari terbit atau terbenam, mungkin tampak berwarna sesuai. Awan terlihat lebih gelap di dekat-inframerah karena air menyerap radiasi matahari pada saat- panjang gelombang .
Terjadinya Awan
Udara selalu mengandung uap air. Apabila uap air ini meluap menjadi titik-titik air, maka terbentuklah awan. Peluapan ini bisa terjadi dengan dua cara.
Apabila udara panas, lebih banyak uap terkandung di dalam udara karena air lebih cepat menyengat. Udara panas yang sarat dengan air ini akan naik tinggi, hingga tiba di satu lapisan dengan suhu yang lebih rendah, uap itu akan mencair dan terbentuklah awan, molekul-molekul titik air yang tak terhingga banyaknya. 
Suhu udara tidak berubah, tetapi keadaan atmosfer lembap. Udara makin lama akan menjadi semakin tepu dengan uap air.
Apabila awan telah terbentuk, titik-titik air dalam awan akan menjadi semakin besar dan awan itu akan menjadi semakin berat, dan perlahan-lahan daya tarik bumi menariknya ke bawah. Hingga sampai satu titik dimana titik-titik air itu akan terus jatuh ke bawah dan turunlah hujan.
Jika titik-titik air tersebut bertemu udara panas, titik-titik itu akan menguap dan awan menghilang. Inilah yang menyebabkan itu awan selalu berubah-ubah bentuknya. Air yang terkandung di dalam awan silih berganti menguap dan mencair. Inilah juga yang menyebabkan kadang-kadang ada awan yang tidak membawa hujan.

Mengenal jenis Awan

Genus cumulonimbus (Cb): awan dengan massa besar dan menjulang dari ketinggian rendah hingga sangat tinggi, rawan badai dan petir. Mereka membentuk dalam massa udara yang sangat stabil,
Spesies calvus cumulonimbus (Cb cal): awan cumulonimbus dengan sangat tinggi memotong puncak kubah-jelas mirip dengan gumpalan awan yang menjulang tinggi.
Spesies capillatus cumulonimbus (Cb cap): awan cumulonimbus dengan puncak yang sangat tinggi yang telah menjadi berserat karena adanya kristal es.
Fitur Supplimentary inkus capillatus cumulonimbus (Cb ink cap): Sebuah cumulonimbus inkus atas awan adalah salah satu yang telah menyebar ke bentuk landasan yang jelas sebagai akibat dari memukul lapisan inversi di bagian atas troposfer. 
Fitur Supplimentary dengan mammatus cumulonimbus (Cb Mam): Sebuah dasar awan mammatus ditandai oleh gelembung-tonjolan ke bawah seperti menghadap disebabkan oleh downdrafts lokal dalam awan. WMO Resmi jangka cumulonimbus Mama.

Arena KKPK, 15 Maret 2015


Kisah di Kota Musik






Judul: Sahabat Musik
Penulis:  Alizza Deli Satria112 halaman



Alifa tinggal di Musical City. Di kota itu, setiap orang harus bisa memainkan salah satu alat musik. Sayangnya, Alifa tidak bisa satu pun!
Suatu hari, ayah dan bunda Alifa pergi meninggalkan Musical City. Alifa dan ketiga kakaknya ditinggal bersama Tante Meliana, kakak ibu mereka. Sayangnya, Tante Meliana tidak sebaik yang Alifa bayangkan! Alifa dan kakak-kakaknya diharuskan mengikuti aturan baru yang dibuat oleh Tante Meliana!
Apa yang terjadi selanjutnya? Benarkah orangtua Alifa pergi karena Alifa tidak bisa memainkan alat musik? Apa yang dilakukan sahabat-sahabat Alifa? Simak petualangan seru Alifa dengan kelima sahabatnya hanya di buku ini!

(Geus Rama S, Palembang)

Saturday, March 07, 2015

Arena KKPK, 8 Februari 2015

Penyamaran si Kembar

Judul: Penyamaran Arina
Penulis Tata
100 halaman

Kamu suka cerita tentang anak kembar? Kamu harus aca buku KKPK satu ini.

Arina dan Alisa adalah kembar identik. Wajah mereka sama, hobinya pun sama. Keduanya jarang berselisih, karena selalu sependapat dalam banyak hal. Sayangnya, mereka tidak satu sekolah. Tapi, hal itutidak membuat mereka bersedih. Mereka tetap kompak. Bahkan, saat Alisa harus mengikti audisi pemilihan talent dari suatu agensi dan harus membolos, Arina menggantikan tempatnya. Kejadian demi kejadian lucu terjadi saat Arina dan alisa bertukar tempat.

Wow, jadi penasaran! Dapatkah Arina berperan sebagai Alisa? Apakah penyamaran Arina akhirnya ketahuan? Selain kisah Arina dan Alisa, masih ada cerita-cerita seru lainnya. Semuanya Asyik.


(Geus Rama S, palembang)

Cernak, 8 Maret 2015






Belanja Sendiri

Oleh Benny Rhamdani

“Ma, katanya mau belikan Fia baju baru hadiah kenaikan kelas?” tanya Fia sabil mendekati Mama di depan komputer.

“Maafin mama ya. Mama belum sempat. Banyak pekerjaan yang belum Mama terjemahkan,” kata Mama sambil menatap Fia.

Fia garuk kepala. Dia tahu Mama tengah sibuk. Walaupun bekerja di rumah sebagai penerjemah buku, tapi Mama selalu sibuk. Apalagi kalau ada penerbit yang meminta Mama menerjemahkan dalam waktu singkat, padahal bukunya tebal.

“Jadi kapan?” tanya Fia yang sudah tak sabar. Rosa, teman dan tetangganya, sudah dibelikan baju dari orangtuanya karena naik kelas.

“Bagaimana kalau tiga hari lagi?” tanya Mama berbalik.

“Ah, Mama. Kelamaan. Nanti keburu Mama dapat orderan baru,” kata Fia.

“Terus gimana?” Mama bertanya lagi.

“Fia beli baju sendiri boleh, kan?” tanya Fia berbalik.

Mama  tersenyum. “Kamu yakin bisa beli baju sendiri?” Mama juga balik bertanya.

“Bisa dong. Fia udah sering belanja bareng Mama. Jadi sudah tau caranya,” jawab Fia.

“Kalau begitu malah lebih baik.” Mama kemudian mengambil dompetnya lalu memberi dua lembar uang seratus ribu dan beberapa lembar lima ribuan. “Yang lima ribuan buat ongkos. Hati-hati uangnya jangan sampai hilang.”

Fia tertawa. “Beres, Ma!” Fia kemudian mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian Fia pamit kepada Mama.

Fia naik kendaraan umum menuju mal di pusat kota. Begitu di depan mal, Fia mulai memikirkan baju yang akan dibelinya. Tiba-tiba Fia ingat pakaian yang pernah dilihatnya di majalah. Baju bermotif kotak-kotak yang lucu.

Fia pun masuk ke mall. Dia segera berjalan ke counter pakaian anak perempuan. Matanya beredar mencari pakaian yang diinginkannya.

“Ada yang bisa dibantu, dek?” tiba-tiba sales penjaga menghampiri Fia.

“Saya mau beli baju kotak-kotak,” kata Fia.

“Oh, coba di sebelah kanan sana,” tunjuk sales itu.

Fia pun berjalan ke arah yang ditunjukkan. Tapi ternyata baju kotak-kota ada bermacam model. Warnanya pun tidak hanya satu.

Aduh, pilih yang mana ya? Fia mulai memilih. Dia kebingungan. Tidak ada Mama yang ikut membantu memilihkan. Ketika menemukan model yang disukai, Fia bingung memilih warnanya. Lama sekali Fia menimbang-nimbang, akhirnya dia melilih warna biru. Baju itu pun dibawanya ke ruang coba pakaian.

Di ruang coba pakaian, Fia kembali bingung. Tak ada yang mengomentari bajunya cocok atau tidak. Fia juga tidak tahu bagian maa yang harus lebih diperhatyikan. Biasanya Maama akan memerhatikan bagian pinggangnya, lengannya, dan … apalagi ya?

Tok-tok-tok.

Wuah, Fia kelamaan diruang pas. Sampai ada pembeli lain yang ingin mencoba, tidak sabar menunggunya.

“Maaf ya kelamaan,” kata Fia ketika keluar. Ternyata ada tiga orang yang antre.

“Gimana, dek? Jadi beli yang itu?” tanya sales.

Fia tidak menjawab. Yang ada kepalanya malah bingung. “Boleh lihat-lihat dulu, kan?” tanya Fia.

“Ya,” kata si sales. Tapi tidak seramah tadi. Sepertinya dia kesal karena Fia sudah mengacak-acak baju tapi tidak jadi mengambilnya.

Fia kembali memilih. Semakin banyak yang dilihat, Fia malah semakin bingung. Ada yang disukainya, tapi harganya mahal sekali. Tidak cukup dengan uang pemberian Mama.

Akhirnya Fia mencoba beberapa baju. Sampai lebih satu jam tak ada yang yakin di hatinya. Sampai akhirnya dia menemukan baju kotak-kotak berwarna ungu. Setelah mencobanya, Fia memutuskan membelinya.
Fia pun menuju kasir. Lumayan antri. Sambil menunggu giliran Fia hendak menyiapkan uangnya. Dia membuka dompet.

Tidak ada!

Ya, Fia tidak menemukan dua lembar uang seratus ribu dari Mama. Fia bingung. Apakah ada yang mengambil uangnya? Ataukah terjatuh?

“Dek, silakan maju,” kata orang di belakang  Fia.

“Bu, silakan duluan. Saya tidak jadi belinya. Uang saya di dompet hilang,” kata Fia.

Ibu itu langsung maju. Sama sekali tidak peduli dengan keterangan Fia. Tidak ada rasa kasihan sedikit pun. Fia keluar antrian.

Tiba-tiba Fia teringat sesuatu. Ya, dia tadi memang tidak menyimpan uang di dompet! Fia membuka sepatunya. Sebelum berangkat, Fia menyimpannya diinjakan sepatunya. Saking khawatir uangnya itu hilang dicopet.

Ah, Fia merasa lega. Dia kembali antrian dan membayar bajunya ketika di depan kasir.

Begitu beres, Fia langsung pulang ke rumah.

“Bagaimana acara belanjanya bajunya tadi?” tanya Mama yang masih di depan komputer.

“Nggak seru! Nggak asyik! Pokoknya, Fia kapok belanja baju tanpa ditemani Mama,” kata Fia.

Mama tersenyum sambil membuka tas belanjaan Fia. Ketika Mama membuka baju yang dibeli Fia, Mama langsung mengerutkan alisnya. “Lho, Fia kok beli baju kayak gini?” tanya Mama.

“Kenapa, Ma? Jelek ya?” tanya Fia.

“Bukan. Tapi baju ini kan sama seperti yang dibeli Rosa dua hari lalu,” kata Mama.

Fia terbelalak. “Wuaduh, nanti dikira Fia ikut-ikutan nih,” kata Fia menyesal.

“Ya, sudah dibeli mau gimana lagi. Nanti kamu bilang aja sama Rosa, kalau mau pakai bajunya jangan barengan. Nanti dikra anak kembar lagi,” ledek Mama.

Fia makin tertunduk lesu.

^_^