Friday, June 16, 2017

Cernak, 17 Juni 2017

Legenda Air Mata Putri Meng Jiang




Putri Meng Jiang dikabarkan pernah hidup pada 2.200 tahun yang lalu semasa dinasti Qin. Keberadaannya telah menjadi legenda dimasyarakat hingga kini, berikut kisahnya.

Sebuah keluarga yang bermarga Meng suatu ketika menanam labu manis disepanjang pagar rumahnya. Tumbuhan tersebut tumbuh dengan pesat dan merambat melewati pagar pembatas yang bersebelahan dengan keluarga bermarga Jiang. Sebuah labu manis besar tumbuh didekat pagar tersebut, saat keluarga Meng membelah labu itu, tiba-tiba muncul seorang gadis cilik dari dalam labu.

Gadis cilik ini kemudian bernama putri Meng Jiang. Dia tumbuh menjadi seorang gadis cantik laksana dewi kayangan, dia juga terkenal ramah dan cerdas, piawai dalam membuat puisi dan bermain musik serta mendalami nilai-nilai Konfusius. Pasangan tua Meng memperlakukannya seperti anak mereka sendiri.

Kaisar pertama dinasti Qin sangat kejam dan lalim. Demi mempertahankan keutuhan dinasti yang baru tumbuh ini, dia memerintahkan ratusan pemuda bekerja sebagai budak untuk membangun Tembok Besar disisi utara tanpa memperdulikan keselamatan jiwa mereka. Banyak pemuda yang meninggal karena kelelahan.

Tersebutlah seorang pelajar bernama Wan Xiliang yang melarikan diri dari rumahnya untuk menghindari kerja paksa tersebut, dia bersembunyi dihalaman belakang keluarga Meng. Tanpa sengaja Putri Meng Jiang menemukannya, dan memberitahu ayahnya. Ayah putri Meng adalah orang yang berhati baik, beliau memutuskan untuk menolong Wan menghindar dari pemerintah.

Selama dalam persembunyiannya dirumah Meng, keluarga Meng akhirnya mengenal dan menyadari bahwa Wan Xiliang adalah seorang pelajar yang cerdas dan baik budi, sehingga mereka menjodohkannya dengan puri Meng Jiang.

Tiga hari setelah perkawinan secara sembunyi-sembunyi mereka, sekelompok petugas pemerintah menggeledah rumah keluarga Meng dan membawa pergi Wan Xiliang. Putri Meng Jiang tahu kalau suaminya akan dijadikan budak pembangunan Tembok Besar. Setahun lamanya dia menunggu, airmata seringkali membasahi bantalnya. Namun tak ada kabar berita dari sang suami.

Akhirnya dia memutuskan untuk mencari suaminya. Namun seberapa jauhkah Tembok Besar itu? Setelah berjalan kaki berhari-hari lamanya, putri Meng Jiang bertanya kepada seorang kakek tua. Kakek itu menjawab, “Ada suatu tempat yang sangat jauh bernama propinsi You; Tembok Besar itu ada jauh disebelah utaranya.”

Selama dalam perjalanan putri Meng Jiang mengalami banyak penderitaan. Dia berjalan seharian dan bermalam dimanapun dia berhenti. Dia makan roti dingin dan minum air dari sungai yang dia jumpai. Seringkali dia kelelahan dan kedinginan, namun dia tetap melanjutkan perjalanan, tak peduli hujan dan terik mentari, tanah lapang ataupun pegunungan berbatu. Seringkali dia dibantu oleh beberapa keluarga yang ditemui selama perjalanannya.

Akhirnya putri Meng Jiang tiba di Tembok Besar pada suatu hari musim gugur yang dingin. Hatinya tersayat saat melihat para pekerja membawa muatan yang berat di bawah pengawasan penjaga. Dia lalu bertanya kepada orang-orang dimana suaminya Wan Xiliang berada, namun yang didapat hanyalah kabar suaminya telah meninggal beberapa hari setelah ditangkap. Tubuhnya dikubur dibawah Tembok Besar.

Seketika putri Meng Jiang terguncang oleh kesedihan yang teramat dalam; dia menangis dan menangis di atas Tembok Besar tersebut, airmatanya mengalir bagaikan sungai. Dia memukul-mukul Tembok Besar itu, menyesali kematian suami dan takdir dirinya. Tangisannya membuat trenyuh para pekerja dan penjaga, sehingga menghentikan pekerjaan mereka dan ikut mencucurkan airmata bersamanya. Langit menjadi gelap dan angin dingin musim gugur menjadi lebih menyengat seperti ikut berduka.

Tiba-tiba sebuah dentuman keras memecah keheningan, sebagian Tembok Besar runtuh, memperlihatkan sisa-sisa tubuh pekerja yang terkubur dibawahnya. Melihat tulang belulang itu, putri Meng Jiang berpikir bagaimana dia dapat mengenali milik suaminya. Kemudian dia teringat perkataan orang kuno bahwa tulang orang yang meninggal hanya dapat menyerap darah anggota keluarganya. Dia lalu menggores ujung jarinya dan membiarkan darahnya jatuh mengucuri tulang belulang itu. Akhirnya dia menemukan tulang belulang suaminya, lagipula dia mengenali kancing baju yang pernah dia jahit untuknya. Putri Meng Jiang mengubur mayat suaminya menurut ritual layaknya sorang istri yang sangat mencintai suaminya.

Menurut legenda, bagian Tembok Besar yang runtuh akibat airmata putri Meng Jiang tidak pernah dibangun lagi (jika dibangun kembali akan segera runtuh). Kisah putri Meng Jiang menjadikan dirinya sebagai sosok yang sangat dihormati oleh masyarakat Tiongkok dari generasi ke generasi. Kuil persembahan putri Meng Jiang berdiri pertama kali pada waktu dinasti Song, kira-kira 1000 tahun yang lalu, terus terpelihara dan disembah dari permulaan berdirinya Tembok Besar hingga hari ini didaerah Timur.

Hore 18 Juni 2017

Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri mungkin jadi peristiwa sekali setahun yang paling dirindukan. Lebaran paling dinantikan  karena ada beberapa tradisinya yang tidak mudah ditemui setiap hari, baik itu hari-hari biasa maupun hari besar lainnya.


Bermaaf-maafan



Salah satu hal yang identik dengan Idul Fitri pastinya adalah saling bermaaf-maafan. Tradisi yang biasanya dilakukan mayoritas umat muslim Indonesia ini biasanya dimulai sesaat setelah Salat Ied selesai. Momen ini jadi sangat dirindukan karena saat itu semua orang terasa berbaur, baik itu sesama anggota keluarga, tetangga, bahkan orang yang baru kita temui di masjid sekali pun. Dan momen inilah yang dirasa paling hikmat.

Makan ketupat dan opor ayam


Hmmm, setelah selesai saling haru saat bermaaf-maafan, perut yang mulai keroncongan pasti sudah tahu apa yang akan diterimanya. Tak lain dan tak bukan adalah sajian khas lebaran berupa ketupat lengkap dengan opor ayamnya. Hidangan ini biasanya akan dengan mudah ditemukan di setiap rumah saat lebaran tiba. Dan beda daerah biasanya juga akan berbeda penyajiannya, terkadang ditambahkan petis, kerupuk, dan lainnya.

Ziarah 



Tradisi lain yang erat kaitannya dengan lebaran adalah berziarah ke makam saudara atau dikenal dengan nama nyekar dalam istilah Jawa. Ada beberapa orang yang menjalankan tradisi ini satu hari sebelum hari raya ada juga yang menjalankannya setelah salat Idul Fitri. Tradisi ini biasanya juga tidak berlaku di semua daerah di Indonesia,

Mudik


Nah, ini yang mungkin menjadi favorit banyak orang. Tradisi mudik yang selalu dilaksanakan setiap lebaran tiba ini memang dipergunakan untuk ajang silaturahmi. Dan tradisi ini biasanya semua rumah orangtua akan dipenuhi oleh kedatangan anak cucu mereka untuk berbagi keceriaan. Aaaah, kangen!

Nah, kalau kalian apakah yang disukai saat lebaran tiba?

Arena KKPK, 18 juni 2017

Serunya Bermain di Kamar



Judul:  It's My Bedroom
Penulis : Bella
108 halaman


“Aku akan bangunkan Layla,” kata Laila. “Laylaaaa, bangun!!!” 

“ Huhh … siapa, sih?” Layla mengucek-ngucek matanya. “Hhh …,” 


Laila pergi ke wastafel. Ia mencari gayung. CURRR …!  Air memancur begitu keran ditekan. Setelah gayung agak penuh, ia mengguyur kepala Layla. Crss … air yang dingin segar itu mengalir dari kepala Layla ke kasur mereka yang empuk, luas, enak, dan berwarna hijaun muda totol putih itu. Bantal motif bunga-bunga yang dipakai Layla akhirnya basah. 


“Aaah!!!” Layla pun terbangun.



Ini adalah kisah si Kembar layla dan Laila. Seru sekali. Tentu kalian juga punya cerita seru dengan kamar kalian. Ya, walaupun kalian nggak punya saudara kembar, tapi punya akaka atau adik, atau saudara yang bisa diajak seru-seruan di dalam kamar, Nah, buku ini bercerita hal-hal seru di kamar. kalian pasti akan menyukainya.

(Salsa, Palembang)

Friday, June 09, 2017

Cernak, 11 Juni 2017

Sejarah Kolintang




Pada jaman dahulu di daerah Minahasa (Sulawesi Utara) ada sebuah desa yang indah bernama To Un Rano yang sekarang dikenal dengan nama Tondano. Di sana tinggalah seorang gadis yang kecantikannya tersohor ke seluruh pelosok desa. Tak heran banyak pemuda yang jatuh hati kepadanya. Gadis itu bernama Lintang, ia pandai menyanyi, suaranya pun nyaring dan merdu.

Pada suatu hari di desa To Un Rano,diselenggarakan pesta muda-mudi. Saat itu seorang pemuda gagah dan tampan memperkenalkan diri kepada Lintang, "Makasiga namaku. Aku berasal dari desa Kelabat Atas". Makasiga adalah seorang pemuda yang ahli ukir-ukiran.

Suatu waktu, Makasiga ingin meminang Putri Lintang. Putri Lintang menerima pinangan Makasiga,tetapi dengan satu syarat".Buatkan aku musik yang lebih merdu dari bunyi seruling emas", kata Putri Lintang kepada Makasiga.

Akhirnya Makasiga berkelana mencari alat musik yang dimaksud Putri Lintang. Makasiga berkelana keluar masuk hutan, ternyata alat musik yang dimaksud Putri Lintang belum didapatkan.

Untuk mengusir hawa dingin dimalam hari, Makasiga membelah-belah kayu dan menjemurnya. Setelah belahan kayu itu kering,lalu diambil satu persatu dan dilemparkannya ketempat lain.Sewaktu belahan kayu itu dilempar dan jatuh ketanah,saat itulah belahan-belahan kayu itu mengeluarkan bunyi-bunyian yang amat nyaring dan merdu.

"Ha, belahan-belahan kayu ini pasti dapat dibuat alat musik", pikir Makasiga.

Dari jauh ada dua orang pemburu yang mendengarnya.Mereka ketakutan karena dikiranya setan penunggu hutan sedang bermain musik. Namun setelah pemburu itu mendekatinya,ternyata mereka mengenalnya, ia adalah Makasiga dari desa Kelabat Atas.

Kedua pemburu sangat terkejut melihat Makasiga yang telah menjadi kurus kering dan lemah.Sebab selama di hutan Makasiga tidak pernah makan dan minum. Yang ia cari adalah alat bunyi bunyian yang dapat diterima dan menyenangkan hati Lintang.

Saat itu kedua pemburu membawa Makasiga dengan tandu pulang ke Desa Kelabat Atas. Makasiga jatuh sakit yang amat parah. Akhirnya Makasiga meninggal dunia.

Putri Lintang yang mendengar bahwa Makasiga telah meninggal dunia, langsung jatuh sakit parah dan akhirnya menyusul Makasiga di alam baka. Mereka telah meninggalkan jasa tiada tara yaitu telah menemukan alat musik yang dikenal dengan nama kolintang.

Kolintang berasal dari Minahasa. Kolintang dibuat dari kayu lokal yang ringan namun kuat. Nama kolintang berasal dari suaranya: tong (nada rendah), ting (nada tinggi) dan tang (nada biasa). Dalam bahasa daerah, ajakan "Mari kita lakukan TONG TING TANG" adalah: "Mangemo kumolintang". Ajakan tersebut akhirnya berubah menjadi kata "kolintang".

Hore, 11 Juni 2017

Mengenal Dua Pakaian Adat Palembang


Kerajaan Sriwijaya yang kokoh dan termasyhur di masa silam telah mewariskan beragam adat dan kebudayaan secara turun temurun, terutama bagi masyarakat Melayu yang tinggal di Sumatera Selatan.

 Salah satu warisan budaya tersebut misalnya dapat kita temukan pada pakaian adat Palembang yang hingga kini masih sering digunakan para pengantin dalam upacara adat pernikahannya.


Ada dua jenis gaya busana yang menjadi pakaian adat Palembang. Keduanya yaitu Aesan Geda dan Aesan Pasangko. Aesan sendiri dalam bahasa Palembang berarti baju atau pakaian.

Aesan Gede 



Aesan Gede atau baju gede adalah pakaian yang melambangkan kebesaran. Pakaian ini merupakan perlambang keagungan kerajaan Sriwijaya di masa silam. Berbalut dengan warna merah jambu yang dipadukan sulaman berwarna keemasan, aesan gede memiliki nilai filosofis bahwa Sumatera memang layak dijuluki sebutan swarnadwipa atau pulau emas.

Gemerlap dan mewahnya pakaian adat Palembang dalam gaya aesan gede semakin bertambah dengan dikenakannya beberapa aksesoris. Aksesoris seperti mahkota, bungo cempako, kelapo standan, kembang goyang, baju dodot serta songket bermotif napan perak adalah beberapa pernik yang terdapat dalam aesan gede.


 Aesan Paksangko 



Berbeda dengan aesan gede, aesan pasangko dianggap sebagai pakaian adat Palembang yang mencirikan keanggunan. Gaya busana laki-laki dalam aesan asangko biasanya berupa penggunaan songket lepus sulam emas, selempang songket, jubah dengan motif taburan bunga emas, seluar atau celana, dan sebuah songkok emas yang dikenakan di kepala.

Sementara gaya busana perempuannya berupa baju kurung (dodot) merah yang bertabur motif bintang emas, teratai penutup dada, mahkota aesan paksangko sebagai penutup kepala, dan kain songket bersulam emas.

Kain tenun songket adalah kain tentun khas Sumatera Selatan. Kain ini terbuat dari benang emas yang ditenun membentuk motif-motif tertentu. beberapa motif di antaranya adalah lepus, bunga inten, jando beraes, tretes midar, kembang suku hijau, pulir biru, bungo cino, dan motif bunga pacik.
Beberapa aksesoris yang dikenakan dalam aesan gede seperti perhiasan bercitrakan keemasan, kelapo standan, kembang goyang, serta kembang kenango juga dikenakan dalam gaya pakaian aesan paksangko.

Baik aesan gede maupun aesan paksangkong, saat ini umumnya hanya digunakan saat upacara perkawinan saja. Pengantin pria dan pengantin wanita dihias bersama pakaian adat Palembang tersebut sedemikian rupa sehingga layaknya seperti seorang raja dan ratu. Penggunaan pakaian adat Palembang tersebut juga kerap ditemukan pada acara-acara adat, kendati pemakainya terbatas misalnya pada para penari atau pembawa acara.

Arena KKPK, 11 Juni 2017

Anak Penakut




Judul: Aku Enggak Takut
Penulis: Dinar
104 halaman


Apakah kalian anak penakut? Jangan sedih. Banyak kok yang penakut. Bahkan anak yang pemberani pun kadang-kadang memiliki rasa takut juga. Bku kali ini bercerita tentang anak penakut karena suatu sebab. Apakah?

Karena menolak diajak liburan ke wahana rumah hantu, Kakak jadi menjuluki Chika penakut. Chika jelas saja enggak mau dibilang penakut. Untuk itu, Chika nekat menerima tantangan Kakak untuk main game paling seram. Tapi, apa benar Chika enggak akan takut?

Cerita ini membuat kita sadar bahwa rasa takut dimiliki semua anak. Hanya tergantu anaknya takut kepada hal apa. Kalau kalian takutnya sama apa?

(Salsa, Palembang)

Friday, June 02, 2017

Cernak, 4 Juni 2017

Kelinci di Bulan




Konon, di bulan hiduplah seorang lelaki tua. Dia sering mengamati bumi. Lelaki tua itu melihat tiga binatang yang memiliki sifat yang sangat baik. Tiga binatang itu adalah monyet, rubah, dan kelinci. Lelaki tua itu penasaran, ia ingin tahu siapa binatang paling baik di antara ketiga binatang itu.

"Lebih baik aku mendatangi mereka saja. Aku harus tahu siapa binatang yang paling baik," ujar lelaki tua penghuni bulan.

Lelaki itu lalu turun ke bumi. Ia menyamar menjadi seorang pengemis tua. Ia mengubah pakaiannya menjadi pakaian yang kumal dan berjalan dengan memakai tongkat. Lelaki itu mendatangi ketiga binatang itu.

Kebetulan sekali ketiga binatang itu sedang berkumpul di tengah hutan.

"Tolonglah aku. Aku sangat lapar. Bisakah kalian memberikan makanan untukku?" tanya lelaki tua itu.

"Di rumah kami sudah tak ada makanan. Tetapi, tunggulah di sini sebentar. Kami akan mencarikan makanan untukmu," ujar Monyet. Ketiga binatang itu lalu pergi mencari makan.

Monyet pergi ke sebuah tempat yang ia ketahui dipeunhi pohon dengan banyak buah-buahan. Ada pepaya, pisang, dan mangga. Beberapa saat kemudian, datanglah monyet dengan membawakan buah-buahan segar. Monyet segera memberikan buah-buahan itu kepada lelaki tua. Lelaki tua sangat senang dan berterima kasih.

"Aku hanya mendapatkan buah-buahan ini. Semoga kamu suka," kata Monyet.

"Oh terima kasih banyak. Ini sudah cukup," kata lelaki itu.

Rubah pergi ke arah sungai terdekat. Dengan kepandaiannya, dia bisa menangkap bebebrapa ekor ikan di sana. Tak berapa lama kemudian,  Rubah menemui  Lelaki  itu sambil membawakan ikan segar dari sungai.

"Aku mendapatkan ikan segar ini untukmu, terimalah," ujar Rubah.

"Kau baik sekali, Ruba. Aku sangat berterima kasih kepadamu," kata lelaki itu.

Lelaki tua itu sangat senang. Rupanya mereka memang sangat baik. Lelaki tua masih menunggu kedatangan kelinci. Pada sore hari, Kelinci baru kembali. Olala... Kelinci tak membawa apa pun. Lelaki tua itu sedikit kaget. Apakah kelinci malas untuk mencarikannya makanan?

Ternyata tadi Kelinci mencari madu. Dia sudah mendapatkan sarang lebah madu. Tapi di jalan dia bertemu seorang anak beruang yang kel;aparan.

"Aku kelaparan dan belum makan sejak kemarin. APakah kamu mau meberi madu itu?" tanya anak beruang.

Kelinci taktega hatinya. Dia pun memberikan madu ditangannya. Lalu, kelinci pergi lagi mencari madu. Tapi tak berhasil.

"Maafkan aku Pak Tua. Aku tak memperoleh makanan untukmu. Aku sudah mencarinya ke penjuru hutan. Tapi sulit sekali mendapatkan makanan," ujar Kelinci sedih.

"Tidak apa-apa, makanan dari Monyet dan Rubah cukup untuk membuatku kenyang," balas lelaki tua.

"Tapi aku ingin sekali membantumu," ucap Kelinci.

Kelinci lalu berpikir sejenak. Kemudian ia meminta Monyet dan Rubah untuk menyalakan api. Olala... ia akan mengorbankan dirinya untuk lelaki tua itu. Alangkah kagetnya si lelaki tua.

"Makan saja  aku. Dagingku sangat enak," ucap Kelinci.

Lelaki tua penghuni bulan itu lalu sadar bahwa kelincilah binatang yang paling baik di antara ketiga binatang itu. Ia rela mengorbankan dirinya untuk menolong orang lain, Seketika itu juga lelaki tua itu berubah wujud. Ia mengenakan pakaian yang sangat indah. Kemudian ia langsung membawa Kelinci ke bulan. Ia ingin agar kelinci bisa menemaninya di bulan.

Nah, sejak itulah masyarakat Jepang percaya jika melihat bulan purnama akan tampak kelinci di sana.

Hore, 3 Juni 2017

Asal Usul Nama Bulan Ramadan


Tahukah kalian, sejak sebelum datangnya agama Islam, bangsa Arab telah menggunakan tahun qomariyah. Tahun qomariyah berdasarkan hitungan hadirnya bulan.

Saangnya, tidak semua masyarakat jahiliyah di seluruh penjuru jazirah Arab sepakat dalam menentukan kalender tertentu. Sehingga penanggalan mereka berbeda-beda. Meskipun demikian, mereka mengenal kalender qamariyah, dan mereka gunakan konsep ini untuk membuat penanggalan bagi suku mereka masing-masing.

Kalender qamariyah yang mereka kenal sejak zaman dahulu sama dengan kalender qamariyah yang berlaku saat ini. Dalam satu tahun ada dua belas bulan, dan awal bulan ditentukan berdasarkan terbitnya hilal (bulan sabit pertama). Mereka menetapkan bulan Muharram sebagai awal tahun. Mereka juga menetapkan empat bulan haram (bulan suci). Mereka menghormati bulan-bulan haram ini. Mereka jadikan empat bulan haram sebagai masa dilarangnya berperang antar-suku dan golongan.

Kemudian, sebagian informasi menyebutkan, ada lima bulan, yakni  Rabiul awal dan akhir, Jumadil awal dan akhir, serta Ramadan yang namanya ditetapkan berdasarkan keadaan musim yang terjadi di bulan tersebut.

Rabiul awal dan akhir diambil dari kata rabi  yang artinya semi. Karena ketika penamaan bulan Rabi bertepatan dengan musim semi.

Jumadil Ula dan Akhirah, diambil dari kata: jamad, yang artinya beku. Karena pada saat penamaan bulan ini bertepatan dengan musim dingin, dimana air membeku.

Sedangkan Ramadan diambil dari kata Ramdha, yang artinya sangat panas. Karena penamaan bulan ini bertepatan dengan musim panas.

Namun demikian ada beberapa pendapat ahli bahasa, terkait asal penamaan Ramadan,

Pertama, diambil dari kata ar-Ramd  yang artinya panasnya batu karena terkena terik matahari. Sehingga bulan ini dinamakan ramadhan, karena kewajiban puasa di bulan ini bertepatan dengan musim panas yang sangat terik.

Kedua, diambil dari kata ar-Ramidh, yang artinya awan atau hujan yang turun di akhir musim panas, memasuki musim gugur. Hujan ini disebut ar-Ramidh karena melunturkan pengaruh panasnya matahari. Sehingga bulan ini disebut Ramadhan, karena membersihkan badan dari berbagai dosa.

Ketiga, nama ini diambil dari pernyataan orang arab, yang artinya mengasah tombak dengan dua batu sehingga menjadi tajam. Bulan ini dinamakan ramadhan, karena masyarakat arab di masa silam mengasah senjata mereka di bulan ini, sebagai persiapan perang di bulan syawal, sebelum masuknya bulan haram.

Berdasarkan keterangan al-Azhari, nama  ramadhan adalah sudah ada sejak zaman Jahiliyah.

Sejarah Puasa Ramadan pertama kali 

Sejarah puasa RamadanPuasa Ramadhan mulai disyariatkan pada tanggal 10 Sya`ban tahun kedua Hijriah atau satu setengah tahun setelah umat islam berhijrah dari Mekah ke Madinah, atau setelah umat islam diperintahkan untuk memindahkan kiblatnya dari masjid Al- Aqsa ke Masjidil Haram.

Perintah puasa ramadhan ini didasarkan pada firman Allah di dalam surah Al-Baqarah ayat 183. Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa puasa telah dilakukan sebelum masa kerasulan Muhammad saw. Hanya saja praktiknya tidak seperti yang kita lakukan sekarang ini.

Setelah ayat tersebut turun, Puasa Ramadhan menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat muslim selama satu bulan dengan memenuhi syarat dan dan rukun yang telah di syariatkan.

Arena KKPK, 4 Juni 2017

Sekolah Baru





Judul: Sekolah Alam Seru
Penulis: Safina
108 halaman

"Kita akan pindah ke Jakarta. Nanti, kalian bersekolah di sekolah alam," kata bunda.

"Sekolah alam itu apa, Bunda?" tanya Safina.

"Sekolah alam itu bangunannya lebih banyak terbuat dari kayu dan lebih banyak ruang terbukanya. Kalian akan lebih banyak belajar di luar kelas," jelas bunda.

Safina mengangguk-angguk mengerti. Dalam hati, dia merasa penasaran. Seperti apa, ya, wujud asli sekolah alam itu?


Wow, ternyata menyenangkan bersekolah di sekolah alam! Seminggu sekali, di sekolah alam ada outbound. Ada banyak permainannya. Ada Two Line Bridge, Flying Fox, Bamboo Bridge, Landing Net, Tire Bridge, dan lain-lain. Seruuu ...! Ada apa lagi, ya, di sekolah alam? Yuk, ikuti cerita-cerita dari Safina! Kalo aku sih suka banget buku cerita ini.


(Salsa, Palembang)