Friday, August 22, 2014

Cernak, 24 Agustus 2014




Jo & Jim Jerami
       
        Hari masih gelap karena matahari masih malu-malu menyembul. Jo sudah bangun membantu ayah mengangkat barang-barang dagangannya ke atas kereta kuda.
        “Sudah semua, Ayah!” teriak Jo setelah meletakkan gentong terakhir berisi selai stroberi.
        Ayah mengangguk. “Terima kasih. Kalau begitu, kita sarapan dulu, yuk!” ajak Ayah sambil merangkul kepala Jo.
        Jo menyiapkan telur dadar istimewa untuk ayah. Ia selalu melakukan hal itu bila ayah akan berdagang ke kota karena ibu telah meninggal sebulan lalu.
        “Berapa lama Ayah akan pergi kali ini?” tanya Jo sambil menghabiskan sarapannya.
        “Sekitar satu minggu,” jawab Ayah.
        Mata Jo melebar. “Satu minggu? Lama sekali!” Ya, kalau masih ada ibu, maka Jo tidak akan merasa kesepian ditinggal selama itu.
        “Tak usah sedih begitu. Ayah sudah menyiapkan teman untukmu,” kata Ayah kemudian.
        Selesai sarapan, Ayah mengajak Jo ke kamarnya. Ia lantas menunjukkan sebuah boneka dari jerami setinggi Jo.
        “Bagus sekali boneka jerami ini. Sayang, ia tidak bisa kuajak bermain jika aku kesepian,” gumam Jo.          
        “Boneka jerami ini akan hidup seperti manusia jika matahari bersinar dan kembali seperti ini kalau matahari tenggelam. Jadi, sepanjang siang kamu bisa berteman dengannya,” kata Ayah sambil tersenyum.
        “Wah, hebat benar!”
        Ayah mengangguk. Ia sebentar melihat keluar jendela.
        “Fajar hampir menyingsing. Ayah berangkat dulu agar bisa secepatnya sampai ke kota,” kata Ayah.
        “Terima kasih atas bonekanya, Ayah!” kata Jo saat Ayah naik ke atas kereta kudanya.
        “Ya. Jangan lupa memberinya nama. Dan, jangan menyalakan api di dekatnya,” pesan Ayah sebelum berangkat.
        Jo mengamati kereta kuda ayahnya hingga lenyap dari pandangan. Ia lalu melihat ke ufuk timur. Tampak olehnya fajar telah menyingsing.
        “Cihuuui …, boneka jerami itu pasti sudah hidup,” teriak Jo.
        Ia bergegas menuju rumah. Ternyata, boneka jerami itu sedang menengok-nengokkan kepalanya, seperti sedang kebingungan berada di kamar sendirian.
        “Hai, selamat pagi! Kata ayah, mulai hari ini kamu menjadi sahabatku,” sapa Jo seraya mengulurkan tangannya.
        “Aku bersedia. Tapi, kamu harus memberiku nama dulu,” sahut boneka jerami.
        Jo kebingungan. “Ah, bagaimana kalau kupanggil Jim? Kamu suka nama itu?”
        “Ya, aku suka. Jim si Boneka Jerami. Hahaha …,” Jim tertawa riang.
        “Bagus, kalau kamu suka.”
        “Lantas, apa yang harus kita lakukan sepagi ini?” tanya Jim.
        “Bagaimana kalau kita membersihkan rumah? Sejak ibuku meninggal, kami tidak pernah membersihkan rumah ini.
        “Aku setuju!”
        Mereka pun bekerja membersihkan rumah sambil bernyanyi riang.
        Jim ternyata punya kekuatan ajaib lainnya. Ia bisa merayap naik ke dinding untuk membersihkan sudut-sudut rumah. Ia juga dapat mengangkat lemari besar dengan satu tangan. Wah, dalam waktu singkat semuanya sudah beres.
        “Rumahku sekarang bersih sekali. Ayah pasti senang. Tanpamu aku tak mungkin mengerjakan ini dalam sehari,” ungkap Jo.
        “Aku juga senang dapat melakukan semua ini. Sekarang, apalagi yang akan kita kerjakan?” tanya Jim.
        “Kita memerah susu dulu, mengumpulkan telur ayam, dan memetik jagung di ladang. Setelah itu, baru kita makan siang,” usul Jo.
        Mereka lantas menjalankan rencana itu. Karena Jim punya kekuatan ajaib, semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat.
        “Aku akan menyiapkan hidangan istimewa untukmu, Jim,” kata Jo usai memetik jagung di ladang. Ia segera ke dapur memasak.
        “Jo, tunggu dulu. Jangan menyalakan api di dekatku,” tiba-tiba terdengar teriakan Jim.
        “Oh, maaf. Aku lupa. Tapi, aku harus masak untuk makan siang kita,” kata Jo.
        “Kalau begitu, biarkan aku menjauh dari sini dulu.”
        Belum sempat Jo menyahut, Jim sudah pergi. Jo pun segera memasak. Begitu Jo membawa masakannya ke meja makan, Jim datang.
        Jo dan Jim menghabiskan makan siang mereka. Setelah selesai makan, mereka istirahat sebentar.
        “Boleh kutahu, kenapa aku tidak boleh menyalakan api di dekatmu?” tanya Jo.
        “Ada satu hal yang memusuhiku. Namanya si Lidah Api.  Ia selalu berusaha memusnahkan aku,”jelas Jim.
        Jo akhirnya mengerti. Lalu, ia mengajak Jim bermain bola. Menjelang matahari terbenam Jim masuk ke kamar ayah. Ia kembali menjadi boneka jerami ketika matahari tenggelam.
        Jo yang kesepian memandang bintang di langit. Tubuhnya letih dan ingin segera tidur. Tapi, brrrr … udara malam terasa dingin.
        “Ah, sebaiknya kunyalakan perapian saja,” pikir Jo. Sebentar, ia teringat pesan ayah agar tidak menyalakan api di dekat Jim.
        “Tapi, Jim berada jauh di kamar ayah,” gumam Jo. Ia segera menyalakan perapian. Tubuhnya pun mulai hangat. Pelan-pelan ia tertidur pulas.
        Tanpa  disadari Jo, angin berembus masuk dari sela-sela rumah. Si Lidah Api kegirangan. Apalagi kamar tidur ayah tak tertutup pintunya. Bara dari perapian  beterbangan ditiup angin. Bara itu beberapa ada yang hinggap di tubuh Jim.
        Ketika esok paginya Jo terbangun, ia kaget melihat tubuh Jim sudah menjadi abu. Jo menyesal dan bersedih. Tak disangka sahabatnya harus jadi abu karena keteledorannya.

No comments: