Friday, May 15, 2015

Cernak, 16 Mei 2015




Misteri Topeng Merah

Hari libur Tania  pergi ke rumah sepupunya, Rea.  Ia ingin tahu rumah sepupunya yang baru pindah.   Letaknya tak begitu juga jauh dari komplek perumahan Tania. Di sebuah komplek perumahan tua yang sudah berdiri sejak jaman penjajahan Belanda.

Begitu tiba di depan rumah Rea, Tania merasa takjub. Rupanya Rea sekarang tinggal di sebuah rumah tua yang besar. Tidak benar-benar tua, karena sebagain besar sudah direnovasi, begitu pula tamannya.

“Kamu akan menginap di sni, kan?” Rea bertanya begitu mengajak Tania masuk.

“Iya.  Wuah, besar sekali ya rumahnya,” ujar Tania. Meskipun dekat, Tania belum pernah masuk ke komplek perumahan ini. Soalnya, di depan komplek ada pos satpam dengan pintu portal gerbang yang tertutup. Jika masuk komplek harus janjian dulu sama  penghuninya.

“Saking luasnya, aku juga belum masuk ke semua ruangan rumah ini,” kata Rea. “Kamu mau minum apa?”
“Belum haus. Nanti aku ambil sendiri kalau mau.”

Sebagian besar bangunan berbahan dasar marmer jadi terasa sejuk. Ada beberapa ruangan di lantai bawah, juga beberapa kamar di lantai atas. Om Ipung dan Tante Mien, orangtua Rea, adalah penyuka bareng seni. Beberapa kamar dijadikan galeri menyimpang koleksi barang seni mereka, seperti lukisan dan guci antik.

“Om dan Tante lagi di mana?” Tania baru sadar melihat keadaan rumah yang sepi. Tadi dia hanya melihat tukang kebun dan Bi Ipah yang sejak Rea kecil telah menjadi pembantu.

“Katanya ada acara lelang lukisan di garasi pelukis siapa gitu. Aku nggak kenal,” jawab Rea yang memang senantiasa merasa kesepian di rumah.

Sebenarnya Rea punya tiga orang kakak. Tapi kakak pertama dan kedua sudah menikah dan tinggal di luar kota. Kakaknya yang ketiga sedang kuliah di Jerman. Usia Rea dan kakak-kakaknya cukup jauh. Malah, anak kakaknya yang pertama hampir seusia dengannya.

“Rumah ini ada ruang bawah tanahnya nggak?’ tanya Tania tiba-tiba. Dia ingat di film sering terdapat ruang bawah tanah di rumah-rumah seperti ini.

“Ada, tapi aku juga belum ke sana. Yuk, kita lihat. Pintunya ada di dekat dapur,” ajak Rea.

Mereka berjalan ke bagian belakang rumah lalu menemukan sebuah pintu kayu. Saat dibuka pintu itu langsung terlihat tangga kayu ke ruang bawah tanah. Ada tombol lampu di dekat pintu. Klik. Ruangan bawah tanah pun terang.

Setelah menapaki anak tangga, mereka sampai di lantai ruang bawah tanah. Ruangannya luas tapi agak tak terawat. Ada beberapa tumpukan keranjang bersisi barang-barang yang tak terlihat karena diselimuti kain putih.

“Ke atas lagi yuk. Aku takut,” kata Rea.

“Aku penasaran dengan isi keranjangnya.” Tania menyingkap salah satu kain. Dia terkejut karena seperti ada wajah yang menatap ke arahnya. Ternyata isinya topeng. Ya, begitu banyak topeng di keranjang itu.

Tania mengambil salah satu topeng, lalu menyerahkan handphonenya kepada Rea, “Tolong foto aku dong,” pinta Tania.

Rea segera memotret Tania yang sedang memakai topeng. Klik. Klik. Dua kali.

Setelah itu Tania melihat keranjang lainnya. Ada yang isinya pakaian penari, dan lain sebagainya. Namun karena Rea ingin segera meninggalkan ruang bawah tanah, Tania tidak bias mengetahui isi keranjang lainnya.

Mereka menuju ke kamar Rea. Di sana Tania memasang foto topengnya di instagram dan dishare ke sosial media lainnya, Facebook dan twitter. Dia menuliskan kata Roayo seperti yang dia baca dibalik topeng tadi.

Siang hari Tante dan Om Ipung kembali ke rumah. Sorenya Tania dan Rea diajak Tante dan Om Ipung jalan-jalan  ke mal, rumah makan dan nonton film di bisokop. Mereka kembali ke rumah ketika hari sudah malam. Karena sudah letih, mereka langsung istirahat.

Waktu sudah lebih tengah malam ketika Rea terbangun mendengar suara gemerincing. Rea kaget karena melihat tidak ada Tania  di sebelahnya. Rea keluar kamar mendekati suara gemerincing. Dia terkejut ketika melihat di ruang tengah ada sesosok penari mengenakan topeng dan kostum menari lengkap. Dari postur tubuhnya Rea tahu itu adalah Tania. Tapi sejak kapan Tania bias menari?

Rea sudah hendak mendekati Tania yang terus menari, namun langkahnya tertahan karena seseorang memegang bahunya. Ternyata keduaorangtuanya.

“Biarkan dia menari hingga selesai,” kata Tante Mien berbisik.

Rea ingin bertanya lagi. Tapi Om Ipung mengisrayatakn agar mereka tidak berisik. Tetap memerhatikan Tania menari saja.

Setelah agak lama, Tania berhenti menari dan tertidur lemas seperti pingsan. Tante Mien dan Om Ipung segera menidurkan Tania di sofa, lalu melepas topeng dan kostum tarinya.

“Bagaimana keadaan Tania, Ma?”

“Dia masih tetidur. Nanti juga akan bangun,” jawab Tante Mien.

“Mengapa bisa begini?”

“Mami lupa memberitahumu. Penghuni rumah yang lama mengoleksi benda-benda keramat. Termasuk kostum penari topeng ini. Siapapun yang menulis kata di balik topeng merah, akan kemasukan arwah penari topeng leluhur,” kata Mama.

“Ah, kok bisa …”

“Mami juga tidak tahu. Rencananya Mami akan mengembalikan keranjang-keranjang di bawah tanah ke pewarisnya. Mami khawatir sesutau yang buruk terjadi padamu,” kata Tante Wien.

Tiba-tiba Tania menggeliat. Wajahnya bingung. “Mengapa aku di sini? Mengapa semua berkumpul di sini?”

^_^


No comments: