Friday, March 03, 2017

Hore aku Tahu, 5 Maret 2017



Beberapa waktu silam, Polisi Kehutan (Polhut) Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Provinsi Lampung yang sedang berpatroli, tak sengaja memergoki belasan manusia kerdil yang tengah berjalan menyusuri rawa.

Manusia katai tersebut tingginya sekitar 50 cm, berambut panjang dan gimbal, tidak memakai pakaian, dan memegang tombak kayu. Petugas tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh orang-orang kerdil tersebut pada sore itu. Apakah mereka sedang mencari ikan atau berburu burung rawa. Namun, dari belasan orang kerdil itu, satu di antaranya mereka tampak menggendong bayinya.

Rombongan Polhut sempat memantau keberadaan mereka sekitar 5 menit pada jarak pandang sekitar 35 meter. Namun, ketika petugas hendak mendekat, manusia kerdil  btersebut langsung menyelinap ke balik pohon dan segera menghilang ke dalam rimba. Manusia kerdil itu larinya cepat dan bisa meloncat cukup jauh.

Tiga hari kemudian, petugas Polhut TNWK yang sedang berpatroli kembali melihat mereka di tempat yang sama. Tetapi kali ini, jaraknya lebih jauh dan waktunya juga lebih singkat.
Dari dua kali perjumpaan itu, petugas Polhut yakin bahwa ada komunitas manusia katai  yang tinggal di dalam hutan TNWK.

Untuk merekam dan membuktikan keberadaan mereka, pihak Balai TNWK kini memasang beberapa  kamera tersembunyi. Jika kelompok orang kerdil tersebut bisa ditemukan, pihak TNWK ingin sekali bisa melindungi mereka.

Uhang Pandak di Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi.


Keberadaan uhang pandak atau orang pendek atau manusia katai di Taman Nasional Kerinci Seblat, Provinsi Jambi, menjadi misteri sejak ratusan tahun yang lalu.

Pada tahun 1292, uhang pandak sudah menjadi salah satu catatan menarik penjelajah Italia, Marco Polo. Namun, hingga sekarang keberadaan uhang pandak masih menjadi misteri. Para penutur yang mengaku pernah melihat uhang pendek menggambarkan orang pendek bentuknya seperti manusia, tetapi badannya berbulu. Jalannya tegak, tinggi sekitar 80 cm, dan membawa peralatan berburu seperti tombak.

Bagi masyarakat Suku Anak Dalam yang tinggal di hutan Taman Nasional Kerinci Seblat, uhang pandak sudah menjadi legenda sejak zaman dahulu. Mereka percaya, uhang pandak ini sering terlihat dan tinggal di sekitar mereka. Meski begitu, mereka tidak pernah bisa bertemu dan mendekatinya.

Pada tahun 1923, Van Heerwarden, seorang peneliti zoologi yang sedang mengadakan penelitian  di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, secara tidak sengaja sempat melihat beberapa uhang pandak dengan ciri-ciri badannya berbulu, berjalan tegak, tingginya seperti anak usia 4 tahun, wajahnya tampak tua, rambut kepalanya hitam sebahu, dan membawa senjata tombak. Sayang sekali, orang-orang pendek tersebut cepat menyelinap di antara kelebatan hutan sehingga tidak ditemukan lagi.

Penasaran dengan kisah orang pendek yang menghuni hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat, dua peneliti Inggris, Debbie Martyr dan Jeremy Holden, pada 1990 mulai mengadakan penelitian tentang uhang pandak selama beberapa tahun.

Dengan mengumpulkan informasi dari penduduk sekitar, mereka mencari tahu lokasi-lokasi dimana uhang pandak sering muncul. Kemudian dengan metode memasang kamera tersembunyi, mereka berusaha mencoba mencari bukti keberadaan mereka. Sayangnya, penelitian selama bertahun-tahun itu tidak satu pun berhasil merekam jejak atau bentuk uhan pandak.

Siwil di Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi

Masyarakat yang tinggal di sekitar Taman Nasional Meru Betiri juga mempercayai adanya orang kerdil yang disebut siwil atau owil. Beberapa saksi mata yang pernah melihat siwil juga menemukan jejak kaki-kaki kecil di tanah di pinggi kali.

Pada tahun 1987, seorang pemburu babi hutan secara tidak sengaja melihat sekelompok manusia katai ini. Konon, waktu itu ia tengah mengejar buruan babi hutan yang berlari ke arah sungai. Saat berada di tebing sungai, tiba-tiba ia mendengar suara riuh di sungai. Setelah mengendap-endap mendekati sungai, ia melihat puluhan manusia katai sedang asyik menangkap ikan. Seorang laki-laki katai yang sudah sangat tua duduk di atas batu besar sambil mengawasi mereka.  Mereka mengeringkan lubuk dengan mbendung bagian sungai dengan tumpukan batu, lalu mengalirkan airnya ke bagian lain. Anak-anak yang ikut mencari ikan tak sabar menyantap mentah-mentah ikan-ikan kecil dan udang hasil tangkapan mereka.

Ciri-ciri orang katai di hutan Meru Betiri, tingginya sekitar 80 cm, tidak berpakaian, berbulu tetapi tidak lebat seperti monyet, perutnya buncit, dan rambutnya keriting. Mereka mengeluarkan suara kwek…kwek… Mungkin itu bahasa mereka.

Bagi pemburu babi hutan atau pencari burung, pengalaman melihat orang katai adalah hal yang biasa. Namun, perjumpaan mereka biasanya hanya sekilas sehingga para pemburu tidak sempat memotretnya.


Homo floresiensis (manusia flores) adalah nama ilmiah yang diberikan oleh peneliti untuk penemuan fosil orang kerdil di sebuah gua di Dusun Rampasasa, Desa Liangbua, Pulau Flores, di Nusa Tenggara Timur.

Manusia mini ini juga sering dijuluki hobbit dari Flores.  Homo floresiensis memiliki tubuh setinggi 100 cm dengan tengkorak yang kecil. Sejumlah fosil manusia mini ini ditemukan pada 2003. Fosil ini diperkirakan sudah berusia 13.000 saampai 94.000 tahun.

Di daerah Rampasasa sendiri sampai sekarang masih dijumpai manusia mini. Jumlah mereka sekitar 200 orang. Apakah fosil homo floresiensis merupakan nenek moyang manusia mini dari Rampasasa ataukah merupakan spesies yang lain?

Oni di Hutan Tanjung Pallette, Bone, Sulawesi Selatan

Penduduk di daerah pegunungan Bone percaya, bahwa di tengah lebatnya hutan di kawasan Tanjung Pallete tinggal manusia  kerdil yang disebut Oni. Suku Oni tinggal di dalam gua-gua tersembunyi. Konon, pada zaman dahulu, suku Oni sering muncul dan sangat baik membantu warga di Dusun Dekko. Kalau ada hajatan, suku Oni dengan sedang hati meminjamkan perabotan seperti piring dan mangkuk untuk pesta adat.  Sayangnya, warga yang dipinjami perabot tidak mau mengembalikan barang-barang tersebut, sehingga suku Oni memilih menghindar dari warga desa. Menurut cerita seorang penduduk dari Desa Mappesangka yang pernah mengunjungi gua tempat tinggal suku Oni, konon orang suku Oni tingginya hanya sekitar 70 cm.  Beberap warga setempat juga mengaku pernah melihat orang-orang kerdil ini keluar dari gua membawa obor untuk mengambil air.

Nyata atau Bayang-bayang?

Penemuan fosil Homo floresiensis membuktikan bahwa manusia mini itu ada karena memiliki bukti nyata dan bisa diteliti secara ilmiah. Namun, bagaimana dengan orang kerdil di Taman Nasional Way Kambas, uhang pandak di Taman Nasional Kerinci Seblat, dan siwil di Taman Nasional Meru Betiri?

No comments: