Friday, December 19, 2008

Cernak, 21 Desember 2008


Hadiah di Hari Ibu

Oleh Benny Rhamdani

“Kalian sudah menyiapkan hadiah Hari Ibu?” tanya Resti.


“Aku sih sudah. Renacananya, aku bersama kakakku dan ayahku akan membuat kejuatan di pagi hari. Kami akan mengerjakan semua pekerjaan rumah yang biasa dikerjakan Ibu, lalu membuatkan Ibu kue keju kesukaanj Ibu,” ucap Wita.


“Kalau aku sudah membelikan kado khusus untuk ibuku. Dompet kulit cantik. Uangnya sih minta sama ayahku. Oh iya, malamnya kami akan malam di luar rumah. Biar Ibu tidak repot memasak untuk kami,” tambah Anna.


“Aku dan ayahku juga sudah menyiapkan hadiah khusus. Gaun cantik untuk ibuku. Lalu, malamnya kami akan nonton bersama film kesukaan ibuku. Keren, kan?” papar Nisha.


Dea terdiam. Dia bingung mau ngomong apa.


“Kamu gimana?” tanya Wita ke arah Dea.


“Terus terang, aku tidak biasa merayakan Hari Ibu,” jawab Dea.


“Duuuh, kamu ini kok tega sih nggak merayakan Hari Ibu? Ibu itu kan orang yang paling menyayangi kita. Ya, coba dong diberui hadiah khusus di Hari Ibu,” serobot Anna.


“Memangnya ayahmu tidak mengajakmu merencanakan sesuatu di Hari Ibu?” tanya Resti yang berencana ke luar kota bersama ayah dan ibunya merayakan Hari Ibu.


Dea menggeleng.


“Ya, selagi masih ada waktu menyiapkannya. Coba kamu tanyakan sama ayahmu,” saran Wita.


“Baiklah. Nanti aku tanyakan,” jawab Dea.


Sepulang sekolah., Dea tak sabar menunggu Ayah pulang kerja. Tapi sepertinya Ayah baru akan pulang tengah malam nanti karena ada pekerjaan lembuir di kantornya. Dea pun lupa menanyakan keesokan harinya. Akhirnya, Dea benar-benar lupa dengan niatnya merencanakan Hari Ibu dengan Ayah.


Sehari sebelum Hari ibu, malamnya Dea baru teringat. Ia berusaha bicara dengan ayahnya di kamar ketika Ibu sedang di ruang tengah.


“Ayah, besok kita kasih hadiah apa untuk Ibu?” tanya Dea.


“Lho, besok kan bukan ulangtahu Ibu,” kata Ayah.


“Iya sih. Tapi besok itu Hari Ibu. Teman-teman Dea member hadiah untuk ibu emreka di Hari ibu.”


“O ya? Wah, ayah kok nggak kepikiran ya. Lagipula ini sudah malam. Tidak mungkin kita membeli hadiah sekarang,” kata Ayah.


Dea kecewa.


“Percayalah, Ibu bukan jenis orang yang akan sedih jika kita tidak memberi hadiah di Hari Ibu. Ibu pasti akan mengerti kita,” kata Ayah sambil memeluk Dea.


Dea terdiam. Begitu Ayah meninggalkan kamarnya, Dea berpikir kerasa untuk tetap memberi kado buat Ibu. Akhirnya Dea menuju ke gudang, mencari sesuatu yang dapat dijadikan hadiah di Hari Ibu.


Sampai tengah malam Dea mengerjakannya. Di tengah mengerjakannya, Dea teringat saat-saat bahagia dengan ibunya.


Keesokan hari, ketika Ibu bangun terkejut. Ibu melihat sepucuk surat tertempel di kaca lemari riasnya. Buru-buru Ibu membaca isinya.


“Selamat hari Ibu. Ada kado kecil buat Ibu di dekat kaca. Saat mengerjakannya, Dea terus berdoa untuk kebahagiaan Ibu.”


Ibu menemukan kado yang dimaksud. Ternyata sebuah saputangan yang disulam oleh dea. Sulamannya berbentuk bunga matahari. Ya, Dea tahu bunga matahari adalah kesukaan Ibu.


Ibu menangis bahagia menerimanya. Buru-buru Ibu menemui Dea yang masih tertidur karena keletihan semalam. Ibu mengecup kening Dea.


“Terimakasih, anakku. Ibu senang dengan hadiah darimu. Ibu senang dengan doamu …” bisik Ibu pelan takut membangunkan Dea.



^-^


No comments: