Friday, January 30, 2009

HORE, 31 Januari 2009

Sebelum Celana Jins dan T-shirt Kita Kenakan


Pernahkah kalian mengenakan jarak? Memang sudah jarang yang mengenakan untuk sehari-hari karena takut dibilang ketinggalan jaman. Tapi tak ada salahnya jika kita mengenal pakaian yang dikenakan oleh leluhur kita.



Busana tradisional Palembang banyak berasal dari masa-masa kesultanan Palembang sekitar abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 19, dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut Priyai. Pakaian kebesaran untuk laki-laki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan. Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang, tanjak meler dan tanjak bela mumbang. Semuanya terbuat dari kain songket (kain tenunan tradisional) Palembang.


Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek, atau bisa juga mengenakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga di bawah lutut. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan benang emas maupun benang biasa yang berwarna, atau dapat juga dicap dengan cairan emas perada (diperadan). Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang, terbuat dari kain yang ditenun, disulam, maupun diperadan. Tutup dada biasanya diberi hiasan permata.


Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celano belabas, yang terbuat dari kain yang ditenun. Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki disulam (diangkeen) dengan benang emas. Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai ke mata kaki dengan motif lajur. Jenis celana yang lain disebut dengan celano lok cuan (celana pangsi; celana yang panjangnya sebatas lutut). Jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas, dan ukuran celananya lebih lebar.


Setelah celana panjang dikenakan selembar kain yang disebut sewet bumpak. Kain ini dibuat dengan cara ditenun, ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas, serta diberi tumpal benang emas. Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm. diberi pinggiran benang emas.


Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong, terbuat dari suasa, perak, atau tembaga yang dilapisi emas. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab, yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya. Badong yang terkenal disebut badong jadam, yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh. Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam.


Pelengkap busana yang lain adalah keris. Sarung keris (pendok) terbuat dari emas, suasa, atau perak dengan tatahan bermotif bunga. Ada juga yang diberi batu permata, tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri, dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana. Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah.


Pakaian sehari-hari


Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet), baju (kelambi), tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak, iket-iket atau kopiah (kopca), dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah. Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan sejenis senjata tajam, seperti keris, tumbak lado, badeek, rambi ayam, atau jembio. Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa. Demikian juga baju (kelambi) biasa ditenun sendiri, atau membeli bahan baju dari Jawa, Cina, India, atau Eropa. Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo, yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben), memakai kantong biasa, dan memakai kantong terawangan.


Tutup kepala juga dibuat sendiri dengan cara ditenun, dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik, Lasem, Indramayu, atau Betawi. Saat ini sudah jarang orang yang memakai tanjak, sebagai gantinya dikenakan kopiah sebagai penutup kepala. Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu, seperti kayu meranti payo atau ngerawan.


Sebagai pakaian sehari-hari, orang laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju beta booloo. Ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (lok cuan). Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala, baik waktu bepergian maupun ketika sedang di rumah, karena mereka menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca). Pakaian untuk di rumah tidak dilengkapi dengan alas kaki.


Pada saat akan bepergian, mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. Mereka biasa mengenakan kain pelekat, yang halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang. Baju yang dikenakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen, kamhar, atau las. Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam kantong dengan medalion. Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan.


Busana untuk perempuan (wong betino) terdiri dari kain (sewet sarung), umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot. Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua, sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya.

Mereka juga mengenakan selendang (kemben), yang dikenakan pada kepala, bahu, dada, dan dahi. Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang dikenakan, sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang yang dikenakan melilit perut, berasal dari Jawa). Sedangkan sebagai alas kaki dikenakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua, dan untuk orang muda mengenakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi).

Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala, yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak. Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan. Selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe rumbe).


Pada masa lalu, semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Jawa, Cina, India, dan Singapura. Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya.


Sebagai pakaian sehari-hari, kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa), baju kurung (kooroong) dengan panjang sebatas lutut, dan tutup kepala (tengkoolook). Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus, serta dicampur dengan bunga-bunga yang harum). Kemudian rambut ditata dengan sanggul, yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek.


Pada saat menghadiri suatu upacara adat, pakaian yang lazim dikenakan terdiri atas kain sarung (sewet saroong) batik yang halus, baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri), rambut disanggul, dan terompah atau selop. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu, sehingga yang nampak hanya mata dan hidung pemakainya. Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan, rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak, gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo), serta gelang kaki (yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago).


Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga, busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. Busana ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah bersuami. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salah satu mas kawin. Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. Semakin halus songket yang dimilikinya, menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya.


Nah, di sebagian kecil bagian tanah air, masih ada masyarakat yang memilih tetap menggunakan pakaian tradsional ketimbang pakaian modern seperti jins ataupun t-shirt. Namun, di kota-kota besar kebanyakan pakaian tradional dianggap tidak cocok dengan kegiatan mereka yang dinamis.


(ben/tamini.com)