Friday, August 20, 2010

Hore, 22 Agustus 2010

Hal-hal Unik Puasa di Mancanegara

Umat Islam tersebar luas ke berbagai penjuru dunia. Karenanya, suasana bulan puasa juga tampak di berbagai negeri. Tentu saja karena letak geografisnya, tradisi pun bereda-beda. Seperti apa saja ya?

Bioskop Sepi


Masih ingat negara penyelenggaran Piala Dunia 2010? Ya, Afrika Selatan! Ramadhan di Afrika Selatan dilalui lebih dari 14 jam lho, dengan temperatur di atas 30 derajat celcius. Wuih, panasnya! Meskipun demikian, umat Muslim di negeri paling selatan benua Afrika itu tidak kehilangan atmosfer bulan penuh rahmat.

Seperti halnya di Indonesia, jika pada hari biasa masjid-masjid kosong, maka pada bulan Ramadhan, orang-orang selalu berdesak-desakan untuk memasuki masjid. Di rumah, perempuan melakukan shalat Tarawih sendiri. Bioskop dan teater sepi karena membaca Alquran menjadi salah satu pusat kegiatan di bulan Ramadhan. Pemakaman juga banyak dikunjungi pada bulan Ramadhan untuk mendoakan keluarga yang telah tiada.

Di Afrika Selatan, hingga kini terdapat sekitar 500 masjid dan 408 lembaga pendidikan Islam. Banyak di antara universitas menawarkan bahasa Arab dan Studi Islam sebagai bagian dari kurikulum akademik mereka. Hal itu menunjukkan bahwa perkembangan Islam cukup pesat di negara itu. Peran Muslim di sana pun tidak bisa dibilang sedikit. Orang-orang Muslim terlibat dalam setiap profesi dan lapangan kerja.

Biasanya, bulan suci Ramadhan dimanfaatkan dengan baik untuk memublikasikan dan menjelaskan agama dan budaya Islam. Terlebih khusus menyampaikan pesan Ramadhan, baik untuk Muslim maupun non-Muslim. Tujuannya, agar non-Muslim mempunyai pemahaman yang benar tentang Islam, tidak hanya sepenggal-sepenggal.

Salah satu cara menyebarkan pesan Ramadhan itu adalah dengan menggunakan media Islam. Stasiun radio swasta menyiarkan shalat Tarawih di hampir setiap provinsi. Di antara radio yang aktif menyiarkan pesan Ramadhan, antara lain Radio Islam di Johannesburg, Radio 786 di Cape Town, dan Radio Al-Anshar di Durban.

Koran Islam juga memainkan peran penting dalam mendidik masyarakat Muslim dan non-Muslim tentang Ramadhan. Surat kabar terkemuka meliputi Al-Qalamn, Tampilan Muslim, Al-Ummah, dan Al-Miftah berperan dalam menyebarluaskan informasi tentang Islam.

Sejak awal Ramadhan, perempuan Afrika Selatan sudah antusias mempersiapkan hidangan lezat untuk makan bersama keluarga pada waktu iftar. Menu makanan, antara lain samosa, pie, kari, dan halim (sejenis kaldu) yang hadir pada hampir setiap meja makan keluarga.

Poster Ucapan

Seperti halnya kaum Muslim di seluruh dunia, lebih dari lima juta Muslim di negara Tajikistani merayakan bulan Ramadhan. Kebiasaan yang berhubungan dengan tradisi, budaya, dan nilai keagamaan berintegrasi selama bulan suci.
Jumlah populasi Tajikistan sekitar enam juta jiwa, 90 persen di antaranya adalah Muslim.
Muslim di Tajikistan disebut-sebut sebagai Muslim paling taat dalam menjalankan kewajiban beragama di antara negara di Asia Tengah.

Ada sekitar 300 masjid di penjuru Tajikistan. Keberadaan masjid-masjid itu memainkan peran penting dalam budaya dan kehidupan Muslim di sepanjang tahun. Khususnya selama bulan Ramadhan. Oleh karena itu, banyak masjid baru yang diresmikan saat Ramadhan. Kebiasaan menyambut Ramadhan di Tajikistan terutama dengan mempercantik, memperluas, memperbaiki, membersihkan,dan mengganti karpet masjid.

Tidak sekadar mengembalikan dan menghias masjid, menurut Syekh Muhammad, Muslim Tajikistan juga menampilkan karya seni Islam dan poster `Happy-Ramadhan' di sekitar masjid. Itu merupakan salah satu tradisi yang paling spektakuler yang dilakukan masyarakat Muslim untuk menujukkan kebesaran kebajikan bulan Ramadhan.

Setiap harinya di bulan Ramadhan, jamaah datang berbondong ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah, membaca Alquran, dan mendengarkan ceramah. Mereka menyadari Ramadhan adalah bulan baik untuk banyak beribadah karena pahala yang digandakan.


Imam di masjid-masjid rajin mendistribusikan buklet agama dan menyampaikan khotbah dan doa wajib setelah shalat wajib atau shalat Tarawih. Sebagian besar imam menyampaikan tema yang berasal dari hadis nabi. Tidak seperti umat Islam di negara-negara lain yang melakukan shalat Tarawih sebanyak delapan rakaat, Muslim Tajikistan mengikuti Mazhab Hanafi, yakni melakukan shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat.

Kebersamaan dalam satu meja Salah satu kegiatan unik Muslim Tajikistan pada bulan Ramadhan adalah kehadiran orang-orang sekeluarga di satu meja. Meskipun masjid dianggap sebagai tempat pertemuan utama, meja makan juga dinilai menjadi tempat yang penting untuk membangun kebersamaan.

Masjid tidak hanya menyediakan iftar (makanan untuk berbuka) bagi yang membutuhkan, tetapi juga melayani seluruh lingkungan. Sedangkan orangorang di rumah menyiapkan makanan dan melayani di satu meja. Mereka berbagi makanan satu sama lain untuk memperkuat prinsip kesatuan Islam.

Menu makanan khas Ramadhan yang menghiasi meja adalah seperti beras bukhari (dikenal sebagai plaw asch), sup, kebab, dan manto-piring yang terbuat dari daging cincang yang tercakup dalam adonan dan dikukus. Tabel iftar juga sarat dengan berbagai jenis jus dan sirup, seperti aprikot dan plum serta jus apel dan sirup ceri. Selain itu, ada juga berbagai permen tradisional.
Tradisi lain, yakni mengundang sanak saudara dan tetangga untuk berbuka puasa di rumah. Pihak yang diundang biasanya tidak dapat menolak undangan itu. Sebuah ruang tertentu di dalam rumah dipersiapkan untuk melayani tamu undangan guna melakukan shalat Tarawih berjamaah, diskusi keislaman, dan membaca Alquran.

Buka Puasa di Masjid

Ramadhan di Mesir sangat terasa berbeda dibanding hari-hari biasa. Beberapa hari sebelum Ramadhan, di setiap jalanan dan toko-toko menjual lampu Fanous yang dipasang tiap jalan atau depan pintu apartemen.



Dahulu lampu Fanous sering digunakan sebagai lampu penerang jalan menuju masjid atau rumah handai taulan saat malam hari. Konon, awal mula lampu Fanous digunakan masyarakat Mesir untuk menyambut kedatangan Khalifah Muiz Lidinillah pada masa dinasti Fathimiyah pada tanggal 5 Ramadan 358 Hijriah.

Sekarang, lampu Fanous menjadi salah satu tradisi masyarakat dalam menyambut Ramadan di Mesir. Bagi rakyat Mesir, lampu Fanous memiliki nilai filosofi yang berarti ungkapan kebahagiaan, kegembiraan serta kesyukuran dalam menjamu tamu Agung yaitu bulan Ramadan. Biasanya para orang tua akan selalu membelikan Fanous dan menghadiahkannya kepada anak-anaknya dan menjadi mainannya.

Sepanjang bulan Ramadan, dalam tradisi Mesir, orang-orang mengenakan Galabiya (jubah) dan topi. Dua jam jelang subuh, orang-orang Turki menyusuri jalan-jalan dengan mengenakan galabiya dan topi untuk membangunkan penduduk sahur sambil memukulkan Baza (drum kecil).

Ketika waktu Magrib akan tiba, selain suasana sunyi senyap jarang ada mobil yang lewat, kita akan melewati banyak sekali tenda-tenda yang dibangun, meja-meja yang berjejer rapi siap dengan hidangan aneka ragam makanan untuk berbuka puasa dan gratis untuk dinikmati oleh semua orang. Bukan hanya orang miskin boleh datang, semua orang yang kebetulan berada di jalan itu ketika saat berbuka tiba.



Tradisi unik lain kala Ramadhan adalah Maidatur Rahman atau memberikan hidangan puasa. Menurut sebagian sejarawan, permulaan adanya Maidaturrahman atau memberikan hidangan buka puasa saat bulan Ramadan terjadi pada masa Rasulullah Saw.

Kebaikan sosial para dermawan di Mesir, patut diacungi jempol. Salah satu bentuknya adalah pemberian bantuan (musa'adah) dalam bentuk uang, makanan atau sembako kepada para fakir miskin termasuk juga kepada mahasiswa asing .


Maidaturrahman diberikan dalam bentuk take away. Ada beberapa lokasi penyedia maidaturrahman, seperti di Distrik Tujuh, menu makanan yang terbilang istimewa dibagikan dari restoran cepat saji Cook Door. Juga di distrik Delapan, biasanya ramai mahasiswa asing mengantre untuk mendapatkan jatahnya dengan beragam menu.

Waktu pembagian dimulai sejak pukul 16.30 sampai menjelang azan magrib. Menu yang dibagikan berbeda-beda, karena penyumbang hidangan berbuka puasa itu biasanya lebih dari tiga orang. Setiap penyumbang maidaturrahman minimal menyumbang 100 kotak berisi makanan.

Selain di tempat tersebut, maidaturrahman bisa kita dapatkan di masjid-masjid. Baik di dalam masjid, ataupun di pelataran teras masjid. Rata-rata di masjid kita hanya diberikan ta'jil kurma saat azan magrib berkumandang, tidak sedikit pula seorang dermawan yang memberikan minuman manis seperti tamr hind (terbuat dari Asam) dana subiya (terbuat dari santan kelapa) di depan pintu masjid sebelum jamaah memasukinya.

Saat berbuka menunya pun beragam, seperti nasi, isy (roti gandum), daging, ayam, buah-buahan, sayur kacang dan kentang. Cara menghidangkannya pun beragam pula. Di beberapa masjid besar, biasanya makanan tersaji dengan rapi dan bersih. Setiap orang mendapat jatah satu kemasan yang berisi makanan. Ada juga masjid-masjid yang menyediakan makanan dalam wadah-wadah besar, untuk dinikmati bersama-sama.

Rata-rata masyarakat Mesir yang sudah berkeluarga akan berbuka di rumah bersama keluarganya, sedang masyarakat Mesir seperti para pekerja kasar, penjaga warung berbuka di masjid atau di tempat-tempat terbuka. Begitu juga dengan mahasiswa asing seperti Rusia, Kazakhstan, Malaysia, Thailand, Afrika dan tak ketinggalan Indonesia. Semua terbuka dan tidak memandang status sosial. Semua orang berkumpul dengan beragam jenis suku, bangsa dan etnis menjadi satu.


Nah, dengan mengetahui puasa di berbagai negara kita bisa tahu banyak hal. Juga menyukuri nikmat yang ada. Karena kita tidak berpuasa terlalu lama seperti di negara-beara yang mengalami musim panas, misalnya. Masih semangat berpuasa, kan?


(ben)


No comments: