Saturday, June 06, 2015

Hore, 7 Juni 2015

Mengenal Tapal Batas





Kalian tahu kan wilayah Indonesia ini ada batasuya?  Perbatasan adalah garis khayalan yang memisahkan dua atau lebih wilayah politik atau yurisdiksi seperti negara, negara bagian atau wilayah subnasional. Pada masa dulu banyak perbatasan yang tidak jelas posisinya.

Di beberapa wilayah Indonesia. perbatasan ditandai dengan tapal batas. Tapal batas bisa berupa batu atau tugu berukuran besar ataupun kecil.







Kisah Perbatasan


Wilayah Indonesia terdiri dari area yang luas, sehingga tidak semua wilayah dapat ditangani dengan sebaik-baiknya, begitu pula para penduduk yang mendiami daerah tersebut. Salah satunya adalah dusun Badat Baru di wilayah Entikong, Kalimantan. Dusun Badat Barut terletak di dekat perbatasan wilayah Republik Indonesia dengan Malaysia. Dapat dikatakan tidak ada akses jalan darat menuju ke sana.

Di dusun tersebut terdapat sebuah sekolah dasar, yaitu SDN Badat yang hanya ditangani oleh seorang guru, yaitu Guru Martini. Guru Martini dapat dikatakan bertindak sebagai staf pengajar, kepala sekolah, juru-kunci dan pesuruh selama 8 tahun. Guru Martini tinggal di desa Semangit. Untuk pergi mengajar, Guru Martini harus melalui jalan sungai selama 8-12 jam, melewati 15 riam, termasuk Riam Pelanduk. Di riam tersebut, para penumpang perahu harus turun dan ikut mendorong perahu agar dapat melalui riam.

 M. Lizet, kepala dusun Badat Baru juga menyatakan kesulitan hidup di sana. Begitu juga Mantri Kusnadi yang sulit mendapatkan pasokan obat. Pasokan dari wilayah Indonesia dapat dikatakan hamper tidak mungkin. Satu-satunya cara adalah mendapatkan pasokan dari wilayah Malaysia. Sehingga di sana banyak terdapat pelintas batas tradisional. Di dusun Sapit, pala pelintas batas tersebut bertemu untuk saling menukar atau berbelanja.

Shelly adalah adik M. Lizet yang telah menikah dengan warga Malaysia dan tinggal di Kuching. Secara materi dan fisik, kehidupannya jauh lebih nyaman. Dengan berkendara mobil, Shelly melintasi jalan-jalan mulus di kota Kuching.

Jika situasi seperti ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin para penduduk di sepanjang perbatasan akan lebih merasa sebagai warga negeri orang daripada negeri sendiri, padahal mereka sebenarnya sangat loyal pada negeri Republik Indonesia.

Ujung TImur

Wilayah ujung Indonesia itu bernama Distrik Sota di Kapubaten Merauke, Papua. Di Sota inilah tugu perbatasan antara Indonesia dengan Papua New Guinea, dua Negara yang berbatas darat. Sebuah Tugu dengan Garuda di puncaknya menandakan KM 0 Indonesia.

Belok kanan dari Tugu Garuda itu, terlihat gerbang besar bertuliskan 'Goodbye and See You Again Another Day' yang berdampingan dengan Satgat Pamtas RI-Papua New Guinea Yonif 613/RJA Pos Kota Sota. Tak jauh dari situ, barulah kita dapat melihat tapal batas Indonesia yang dibangun dengan bentuk tugu kecil bertuliskan 'Team Survey Ina'.

Selain tugu perbatasan, di kawasan ini juga terdapat sejumlah rumah semut berukuran besar, tingginya mencapai sekitar 2 meter.

Distrik Sota berjarak sekitar 1,5 jam dengan menumpang bus dari Ibukota Kabupaten, Merauke yang memiliki motto ‘Izakod Bekai Izakod kai’ (Satu Hati Satu Tujuan). Sepanjang jalanan yang relatif bagus itu, terlihat kawasan hutan dan banyaknya rumah-rumah semut di kanan dan kiri jalan. Selain itu, suasana pedesaan dengan hamparan ladang, hutan dan langit yang tampak cerah menghadirkan pesona tersendiri di perbatasan timur RI ini.

Kerena merupakan wilayah perbatasan, Sekolah di Sota juga menggunakan dua bahasa pengantar. Yaitu Indonesia dan Inggris. Sebab tak sedikit warga negara Papua New Guinea yang mengenyam pendidikan hingga tingkat SMA di Sota.

"Sekolah disini pakai dua bahasa, Inggris dan Indonesia, karena anak PNG (Papua New Guinea) ada yang sekolah disini," ujar warga Merauke bernama Agapitus."One full tank for four trip," ujarnya yang hendak berangkat menuju Papua New Guinea dengan menggunakan sepeda motor Yamaha yang sebagian besarnya telah dimodifikasi.

Tidak hanya itu saja, dengan mengunjungi tempat ini, kita juga bisa mengenal lebih jauh mengenal masyarakat perbatasan Indonesia-Papua New Guinea baik adatnya, alamnya, maupun kehidupannya yang kian menggambarkan keberagaman dan luasnya Indonesia sebagaimana digambarkan melalui lagu Nasional karya R Suharjo yang berjudul 'Sabang Sampai Merauke'.

^_^




No comments: