Friday, February 12, 2016

Hore, 14 Februari 2015

Mengenal Cap Go Meh






Kalian pernah mendengar tentang Cap Go Meh? Yuk kita cari tahu kebudayaan satu ini.


Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari.

Perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan. Di Taiwan ia dirayakan sebagai Festival Lampion.
 
Perayaan di Palembang

Perayaan Cap Go Meh ini dihadiri puluhan ribu warga Tionghoa dari Provinsi Sumatera Selatan. Ada juga dari provinsi tetangga seperti Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Jambi, Bengkulu, dan daerah lainnya. Bahkan, dari Singapura, Malaysia, dan negara asia lainnya. Warga yang tidak merayakan Cap Go Meh pun turut hadir untuk mencari rezeki dengan berdagang makanan, minuman, mainan, dan alat-alat untuk kebutuhan sembahyang. Selain para pedagang, banyak pula yang hadir untuk sekedar berwisata di Pulau Kemaro. Seribu lampion berwarna merah seukuran bola kaki juga dipasang di sekeliling Pulau Kemaro untuk memeriahkan suasana cap Go Meh.


Ritual perayaan Cap Go Meh dirayakan dengan beragam kegiatan. Mulai dari pesta lampu lampion, makan lontong, menyembelih kambing, menyalakan lilin, membakar garu/hio, dan bersembahyang kepada Thien (Tuhan Yang Maha Esa), Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin), Buyut Fatimah, Dewi Kwan Im, Dewa Langit dan Dewi Laut. Perayaan Cap Go Meh juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya tradisional China, seperti barongsai dan wayang orang China. Di panggung pertunjukan juga dimeriahkan dengan lagu-lagu mandarin yang dinyanyikan artis lokal.

Ada hal yang unik dari tradisi Cap Go Me di Pulau Kemaro, yaitu melepaskan burung. Bagi kaum Tionghoa, melepas burung dapat mengurangi karma buruk dan memperlancar rezeki. Tentunya, dengan memohon kepada Tuhan terlebih dahulu. Semakin banyak burung yang dilepas, semakin enteng pula dosa yang ditanggung.

Selain keunikan dalam ritual melepas burung, ada juga tradisi membakar uang-uangan. Tradisi ini kerap dilakukan oleh orang-orang keturunan Tionghoa terutama yang menganut ajaran tridarma (Budhisme, Khonghucu dan Taoisme). setiap kali melakukan persembahyangan mereka menyediakan sam seng (tiga makanan berjiwa dari tiga alam udara, air dan daratan) dan juga membakar kertas yang berupa uang-uangan bagi arwah leluhurnya. Uang ini terbagi menjadi dua kategori yakni uang emas (Kim Coa) dan uang perak (Gin Coa). Uang emas diperuntukkan bagi dewa-dewa sementara uang perak diperuntukkan bagi arwah leluhur ataupun orang tua yang sudah meninggal.

Lontong Cap Go Meh

Lontong Cap Go Meh adalah masakan adaptasi Peranakan Tionghoa Indonesia terhadap masakan Indonesia, tepatnya masakan Jawa. Hidangan ini terdiri dari lontong yang disajikan dengan opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng hati, acar, telur pindang, abon sapi, bubuk koya, sambal, dan kerupuk. Lontong Cap Go Meh biasanya disantap keluarga Tionghoa Indonesia pada saat perayaan Cap go meh, yaitu empatbelas hari setelah Imlek atau tepatnya hari kelima belas bulan 1 penanggalan imlek.[1] Akan tetapi kini hidangan ini juga kerap disajikan kapan saja, tidak hanya ketika cap go meh.
Asal mula

Pengaruh masakan Tionghoa tampak jelas pada adaptasinya ke dalam masakan Indonesia, misalnya mie goreng, lumpia, bakso, dan siomay. Akan tetapi pengaruh ini juga berlaku dua arah. Peranakan Tionghoa yang telah sekian lama bermukim di Nusantara sangat dipengaruhi oleh selera masakan Indonesia. Dipercaya lontong cap go meh adalah adaptasi Tionghoa Indonesia terhadap masakan lokal Indonesia.

Para pendatang Tionghoa pertama kali bermukim di kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa, misalnya Semarang, Pekalongan, Lasem, dan Surabaya. Hal ini berlangsung sejak zaman Majapahit. Pada saat itu hanya kaum laki-laki etnis Tionghoa yang merantau ke Nusantara, mereka menikahi perempuan Jawa penduduk lokal, hal ini melahirkan perpaduan budaya Peranakan-Jawa.

Untuk merayakan Imlek, saat Cap go meh, kaum peranakan Jawa mengganti hidangan yuanxiao (bola-bola tepung beras) dengan lontong yang disertai berbagai hidangan tradisional Jawa yang kaya rasa, seperti opor ayam dan sambal goreng. Dipercaya bahwa hidangan ini melambangkan asimilasi atau semangat pembauran antara kaum pendatang Tionghoa dengan penduduk pribumi di Jawa.

Dipercaya pula bahwa lontong cap go meh mengandung perlambang keberuntungan, misalnya lontong yang padat dianggap berlawanan dengan bubur yang encer. Hal ini karena ada anggapan tradisional Tionghoa yang mengkaitkan bubur sebagai makanan orang miskin atau orang sakit, karena itulah ada tabu yang melarang menyajikan dan memakan bubur ketika Imlek dan Cap go meh karena dianggap ciong atau membawa sial. Bentuk lontong yang panjang juga dianggap melambangkan panjang umur. Telur dalam kebudayaan apapun selalu melambangkan keberuntungan, sementara kuah santan yang dibubuhi kunyit berwarna kuning keemasan, melambangkan emas dan keberuntungan.

No comments: