Friday, June 13, 2008

Cernak, 15 Juni 2008


Penculikan

Akhir pekan, aku dan Esha sudah mencatat rencana untuk melihat pementasan drama Shirley. Aku diantar Ayah hingga di depan gedung pertunjukan. Ayah dan Ibu tidak bisa ikut menonton karena ada acara sendiri malam ini.

Aku menunggu Esha di lobi gedung. Tak lama kemudian aku melihat Esha datang dengan dua pengawal yang mengikutinya. Oh iya, Esha itu adalah puteri seorang pemimpin kerajaan dari luar negeri. Dia ada di sini karena sekolah.

“Aduh, maaf ya aku agak terlambat. Tadi aku minta para pengawalku tidak ikut. Sampai aku marah-marah. Tapi mereka keberatan,” katanya sambil mendengus kesal.

“Sudahlah tidak apa-apa mereka ikut menonton juga,” kataku.

“Eh, kita ke belakang panggung yuk. Aku ingin melihat persiapan Shiley,” ajak Esha sambil menarikku.

Aku menurutinya berjalan ke samping gedung. Dua petugas keamanan sempat menanyai kami. Ketika kami keluarkan kartu undangan khusus. Mereka mempersilakan kami masuk jalan khusus. Tapi dua pengawal Esha tidak bsia amsuk meskipun mereka sempat memaksa.
Esha akhirnya tersenyum karena bisa lepas dari kawal dua orang bertubuh tegap itu. Kami terus berjalan melewati gang yang sepi. Tiba-tiba ...

“Hupf!”

Mulutku disekap seseorang dari belakang. Paru-paruku jadi sesak. Tubuhku sulit digerakkan.Tapi aku sempat melihat dua orang datang menyekap Esha dan membawanya pergi dari pandanganku.

Esha diculik! Dan orang yang menyekapku embiarkanku tergeletak lemas doi lantai.
Jantungku berdegap keras. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Aku langsung berjalan kembali ke luar. Kutemui dua pengawal Esha yang berdiri di lobi.

“Ada beberapa orang yag menculik Esha. Mereka kabur dari pintu belakang,” kataku buru-buru.

Dua pengawal itu langsung mengambil telepon genggam mereka sambil bergerak cepat menghilang dariku.

Aku makin kebingungan. Entah apa yang harus kulakukan. Aku terduduk.

“Farah, apa yang kamu lakukan di sini? Ayo masuk! Pertunjukkan sebentar lagi dimulai. Lho, mana Esha?”

Aku menoleh. Shirley datang mengenakan kostum pementasannya.

“Esha .... tadi ...” Aku bingung antara mengatakan kejadian yang sesungguhnya atau tidak.

Jika aku mengatakan hal sebenarnya, aku takut mengacaukan pertunjukkan pertama Shirley. Dia pasti tidak bisa konsentrasi. Atau bahkan tidak mau ikut pementasan. Oh, aku tidak ingin ini terjadi.

“Sudah, masuk saja dulu. Pasti Esha nanti menyusul,” Shirley menarik tanganku.

“Esha belum tentu menyusul,” kataku akhirnya. “Ah ... dia minta maaf karena tiba-tiba ada urusan mendesak sehingga tidak bisa datang. Kalau sempat dia akan menyusul ...”

“Oh, jadi itu yang membuat mukamu pucat. Takut aku kecewa karena dia tidak bisa datang? Aku tidak apa-apa kok. Nanti biar Esha melihat pertunjukkanku dari rekaman camera video saja.”

Aku hanya mengangguk lalu mencari tempat dudukku di dalam gedung. Tapi karena aku terus memikirkan Esha, pertunjukkan di depanku sama sekali tidak bisa kunikmati.
Oh, mudah-mudahan saja para pengawal itu berhasil mengalahkan para penculik dan menemukan Esha dalam keadaan selamat.

Ketika pementasan berakhir, aku buru-buru menemui Shirley di belalkang panggung.
“Ada yang harus kukatakan padamu, Shirley. Tentang Esha. Dia tidak bisa datang ke sini karena tadi dia diculik,” kataku kemudian.

“Diculik?” Shirley panik bukan main.

Aku segera menelepon Ayah untuk menjemputku. Shirley memberitahu orangtuanya yang mengantar tentang penculikan Esha. Aku pun menceritakan halyang sama kepada Ayah begitu Ayah menjemputku.

“Sebaiknya Farah pulang dan berdoa di rumah supaya semuanya baik-baik saja. Kasus penculikan Esha pasti sudah ditangani pihakyang berwajib,” kata Ayah di dalam mobil.

Namun kata-kata Ayah belum cukup menenangkanku. Aku sama sekali tidak bisa tidur bahkan sampai aku selesai shalat malam. Aku menunggu HP-ku berbunyi dan seseorang meneleponku, mengatakan Esha sudah diselamatkan dari tangan para penculik.
Tapi sampai aku tertidur keinginanku tidak terkabulkan. Justru keesokan paginya, aku mendengar Ayah membangunkanku yang bangun kesiangan.

“Farah, lihat di teve. Ada berita tentang penangkapan penculikan Esha,” seu Ayah.
Aku segera bangun dan mengarahkan mataku ke televisi. Benar saja. Ada berita penangkapan para penculik Esha. Rupanya pihak berwajib berhasil membebaskan Esha dari tangan para penculik.

Aku buru-buru menelepon Shirley. Ternyata Shirley pun baru saja menonton berita itu.
“Syukurlah, Esha selamat. Mudah-mudahan saja dia tidak terluka,” harap Shirley di telepon.

Siang harinya aku baru diizinkan menemui Esha di rumah pamannya. Shirley ikut denganku. Ketika bertemu dengan Esha, aku langsung memeluknya..

“Tenang saja, aku sudah bebas tanpa cedera sedikit pun. Kata pengawal-pengawalku, mereka bisa mengejarnya karena kamu langsung memberitahu apa yang telah terjadi padaku. Kalau saja kamu terlambat semenit, para pengawal itu susah mencari jejak penculikku,” kata Esha.

“Soalnya hanya itu yang bisa kulakukan semalam,” jawabku.

“Shirley, maafin aku ya. Aku tidak bisa melihat pementasan dramamu,” kata Esha kemduian.

“Jangan konyol!Aku yang merasa bersalah karena mengajakmu nonton, akhirnya kamu malah diculik,” ucap Shirley.

“Ah, kalau itu sih aku yang salah. Ya, sekarang aku makin menyadari kalau para pengawal itu memang penting untukku. Mungkin agak mengesalkan. Tapi aku harus memikirkan keselamatanku juga karena aku harus terus sekolah, lalu menjadi dokter untuk negeriku,” ucap Esha.

“Amin!” kataku.

“Ayahku meminta aku menenangkan pikiranku dulu di Zapnaland. Besok aku akan berkhir pekan di Zapnaland. Kalian ingin ikut lagi?”
Aku dan Shirley langsung bersorak girang. Ke Zapnaland lagi? Siapa takut!!!!!? Kalian mau ikut? Gampang kok. Pejamkan mata kalian, lalu sebut Zapnaland tujuh kali.

^_^

1 comment:

azzahra said...

lho, inikan sebagian cerita dari Princess Hamesha?