Friday, July 09, 2010

Cernak, 11 Juli 2010


Tanpa Mama

Oleh Bennny Rhamdani

“Ma, katanya mau belikan Fia baju baru hadiah kenaikan kelas?” tanya Fia sabil mendekati Mama di depan komputer.

“Maafin mama ya. Mama belum sempat. Banyak pekerjaan yang belum Mama terjemahkan,” kata Mama sambil menatap Fia.

Fia garuk kepala. Dia tahu Mama tengah sibuk. Walaupun bekerja di rumah sebagai penerjemah buku, tapi Mama selalu sibuk. Apalagi kalau ada penerbit yang meminta Mama menerjemahkan dalam waktu singkat, padahal bukunya tebal.

“Jadi kapan?” tanya Fia yang sudah tak sabar. Rosa, teman dan tetangganya, sudah dibelikan baju dari orangtuanya karena naik kelas.

“Bagaimana kalau tiga hari lagi?” tanya Mama berbalik.

“Ah, Mama. Kelamaan. Nanti keburu Mama dapat orderan baru,” kata Fia.

“Terus gimana?” Mama bertanya lagi.

“Fia beli baju sendiri boleh, kan?” tanya Fia berbalik.

Mama tersenyum. “Kamu yakin bisa beli baju sendiri?” Mama juga balik bertanya.

“Bisa dong. Fia udah sering belanja bareng Mama. Jadi sudah tau caranya,” jawab Fia.

“Kalau begitu malah lebih baik.” Mama kemudian mengambil dompetnya lalu memberi dua lembar uang seratus ribu dan beberapa lembar lima ribuan. “Yang lima ribuan buat ongkos. Hati-hati uangnya jangan sampai hilang.”

Fia tertawa. “Beres, Ma!” Fia kemudian mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian Fia pamit kepada Mama.

Fia naik kendaraan umum menuju mal di pusat kota. Begitu di depan mal, Fia mulai memikirkan baju yang akan dibelinya. Tiba-tiba Fia ingat pakaian yang pernah dilihatnya di majalah. Baju bermotif kotak-kotak yang lucu.

Fia pun masuk ke mall. Dia segera berjalan ke counter pakaian anak perempuan. Matanya beredar mencari pakaian yang diinginkannya.

“Ada yang bisa dibantu, dek?” tiba-tiba sales penjaga menghampiri Fia.
“Saya mau beli baju kotak-kotak,” kata Fia.

“Oh, coba di sebelah kanan sana,” tunjuk sales itu.

Fia pun berjalan ke arah yang ditunjukkan. Tapi ternyata baju kotak-kota ada bermacam model. Warnanya pun tidak hanya satu.

Aduh, pilih yang mana ya? Fia mulai memilih. Dia kebingungan. Tidak ada Mama yang ikut membantu memilihkan. Ketika menemukan model yang disukai, Fia bingung memilih warnanya. Lama sekali Fia menimbang-nimbang, akhirnya dia melilih warna biru. Baju itu pun dibawanya ke ruang coba pakaian.

Di ruang coba pakaia, Fia kembali bingung. Tak ada yang mengomentari bajunya cocok atau tidak. Fia juga tidak tahu bagian maa yang harus lebih diperhatyikan. Biasanya Maama akan memerhatikan bagian pinggangnya, lengannya, dan … apalagi ya?

Tok-tok-tok.

Wuah, Fia kelamaan diruang pas. Sampai ada pembeli lain yang ingin mencoba, tidak sabar menunggunya.

“Maaf ya kelamaan,” kata Fia ketika keluar. Ternyata ada tiga orang yang antre.
“Gimana, dek? Jadi beli yang itu?” tanya sales.

Fia tidak menjawab. Yang ada kepalanya malah bingung. “Boleh lihat-lihat dulu, kan?” tanya Fia.

“Ya,” kata si sales. Tapi tidak seramah tadi. Sepertinya dia kesal karena Fia sudah mengacak-acak baju tapi tidak jadi mengambilnya.

Fia kembali memilih. Semakin banyak yang dilihat, Fia malah semakin bingung. Ada yang disukainya, tapi harganya mahal sekali. Tidak cukup dengan uang pemberian Mama.
Akhirnya Fia mencoba beberapa baju. Sampai lebih satu jam tak ada yang yakin di hatinya. Sampai akhirnya dia menemukan baju kotak-kotak berwarna ungu. Setelah mencobanya, Fia memutuskan membelinya.

Fia pun menuju kasir. Lumayan antri. Sambil menunggu giliran Fia hendak menyiapkan uangnya. Dia membuka dompet.

Tidak ada!

Ya, Fia tidak menemukan dua lembar uang seratus ribu dari Mama. Fia bingung. Apakah ada yang mengambil uangnya? Ataukah terjatuh?

“Dek, silakan maju,” kata orang di belakang Fia.

“Bu, silakan duluan. Saya tidak jadi belinya. Uang saya di dompet hilang,” kata Fia.

Ibu itu langsung maju. Sama sekali tidak peduli dengan keterangan Fia. Tidak ada rasa kasihan sedeikit pun. Fia keluar antrian.

Tiba-tiba Fia teringat sesuatu. Ya, dia tadi memang tidak menyimpan uang di dompet! Fia membuka sepatunya. Sebelum berangkat, Fia menyimpannya diinjakan sepatunya. Saking khawatir uangnya itu hilang dicopet.

Ah, Fia merasa lega. Dia kembali antrian dan membayar bajunya ketika di depan kasir.
Begitu beres, Fia langsung pulang ke rumah.

“Bagaimana acara belanjanya bajunya tadi?” tanya Mama yang masih di depan komputer.

“Nggak seru! Nggak asyik! Pokoknya, Fia kapok belanja baju tanpa ditemani Mama,” kata Fia.

Mama tersenyum sambil membuka tas belanjaan Fia. Ketika Mama membuka baju yang dibeli Fia, Mama langsung mengerutkan alisnya. “Lho, Fia kok beli baju kayak gini?” tanya Mama

“Kenapa, Ma? Jelek ya?” tanya Fia.

“Bukan. Tapi baju ini kan sama seperti yang dibeli Rosa dua hari lalu,” kata Mama.
Fia terbelalak. “Wuaduh, nanti dikira Fia ikuta-ikutan nih,” kata Fia menyesal.

“Ya, sudah dibeli mau gimana lagi. Nanti kamu bilang aja sama Rosa, kalau mau pakai bajunya jangan barengan. Nanti dikra anak kembar lagi,” ledek Mama.
Fia makin tertunduk lesu.

^_^

HORE, 11 Juli 2010

Semangat Kembali Sekolah

Liburan akan segera berakhir ! Kita akan kembali menghadapi pelajaran dan rutinitas sekolah. Bukan hal yang mudah untuk tetap semangat kembali ke sekolah. Apalagi, slama waktu yang lumayan panjang kita menikmati liburan dengan bebas tanpa beban seperti : boleh tidur larut malam, nonton tv, main game, dan lainnya.

Nah, biar kita tetap semangat untuk kembali sekolah. Ada beberapa tips yang bisa kita lakukan.

Peralatan Baru

Dengan peralatan baru, kita tentunya akan senang dan semangat. Nah, jika orangtua kita mengajak membeli peralatan sekolah yang baru, mintalah agar kita memilih sendiri alat-alat baru yang kita sukai seperti : tas sekolah, tempat minum/makanan, buku-buku tulis, rautan dan semacamnya. Tentu saja kita harus pandai memilih. Jangan hanya tertarik oleh harga yang mahal, kalau hargannya ada yang lebih murah tapi kualitasnya juga baik, kita bisa pilih. Cobalah memilih dengan teliti barang yang dibeli, jangan hanya karena bagus bentuknya, kita asal pilih.

Oh iya, kita juga harus ingat bahwa kebutuhan di rumah kita tidak hanya untuk membeli perlengkapan sekolah. Orangtua kita punya kebutuhan lainnya juga. Jadi, kalau orangtua membatasi barang yang akan dibeli, kalian tak usah kecewa. Dan saat kalian memakai perlatan yang baru, tidak perlu pamer dan sombong di sekolah nanti. Ingat, tidak semua anak dibelikan peralatan baru oleh orangtuanya.

Bersama Berkreasi

Bagi yang masih menggunakan alat-alat sekolah lama, ajak orangtua dan kakak bersama-sama untuk menciptakan kreasi sendiri, seperti : membuat tempat pensil, menambah pernak-pernik tas sekolah atau melukis apa yang kita suka di tas sekolah lama, mencuci sepatu bersama, dan lainnya. Dengan kebersamaan ini tentu akan menyenangkan hati kita sehingga tetap semangat.

Tak perlu bersedih jika kita tak mengtgunakan hal-hal baru ketika kembali ke sekolah. Bisa saja orangtua kita sedang memerlukan uang untuk hal yang lebih penting. Yang penting kita memakai semuanya dalam keadaan bersih saat kembali sekolah. Dengan begitu, kita akan memiliki semangat baru.

Bekal sekolah yang menarik

Cobalah meminta kepada Ibu untuk memasak menu khusus sebagai sarapan di hari pertama kembali sekolah. Atau cobalah memasak sendiri atau paling tidak memasak sarapanmu sendiri. Cobalah menu baru tapi tidak perlu yang merepotkan. Misalnya, jika sebelumnya kamu biasa sarapan dengan nasi goreng dengan telor dadar, cobalah untuk membuat telur mata sapi ditaburi keju.


Selain untuk sarapan, kamu juga membantu ibu menyiapkan bekal untuk dibawa ke sekolah. Hmm, siapa tahu di hari pertama sekolah, kantin belum buka. Kalaupun buka, makanan yang dijual bleum lengkap. Nah, daripada perutmu kosong, mendingan kita bawa bekal sendiri saja dari rumah. Buatlah bekal yang benar-benar menarik.

Pola Tidur

Bisa jadi selama liburan, pola tidur kita jadi tidak teratur. Jika pada saat sekolah kita terbiasa bangun pagi, di saat liburan lebih bebas bangun siang. Sedangkan malam hari, bisa tidur lebih malam. Palagi ada pertandingan Piala Dunia yang seru.


Agar kita bisa kembali ke pola tidur pada saat sekolah, beberapa hari menjelang liburan berakhir, biasakan menepati jadwal tidur dan bangun seperti saat sekolah. Sehingga pada saat sekolah sudah dimulai, kita sudah siap dengan pola yang lama. Masih susah juga? Buatlah poster di dinding yang mengingatkan kita untuk disiplin tidur. Jika perlu, putarlah alarm pada jam untuk mebangunkan kita agar tidak kesiangan bangun.

Teman-teman sekolah

Dengan mengingatkan teman-teman sekolah sekolah bisa membuat kita bersemangat kembali ke sekolah. Cobalah ingat teman sebangku kita yang menyenangkan, teman kita yang lucu, teman yang baik hati. Wuah, selama liburan kita tidak bisa bermain bersama mereka, kan?

Jika lingkungan dan hubungan dengan teman-teman sekolah cukup baik, akan ada rasa rindu bertemu teman-teman kita itu. Terlebih setelah liburan panjang, kita telah menyimpan banyak pengalaman yang bisa diceritakan pada teman-teman.


Selain teman-teman, kita juga tentunya merindukan bertemu guru-guru kita, pak penjaga sekolah, ibu kantin, termasuk buku-buku di perpustakaan sekolah. Ingatlah hal-hal yang menyanagkan saat kita sekolah sehingga kita terus bersemangat masuk sekolah.

Nah, mudah-mudahan tips ini berguna bagi kalin. Biar kalian tidak terus keenakan liburan. Ayo kita kembali sekolah dengan semangat baru!

(ben)

Friday, July 02, 2010

CERNAK, 4 Juli 2010


Jago Layang-Layang

oleh Benny Rhamdani



Hari gini nggak bisa menaikkan layangan?

Itulah yang dialami Gilang. Sebenarnya ia sudah lama ingin main layangan. Setiap berdiri di balkon kamarnya, Gilang sering melihat aneka jenis layangan melayang-layang. Ada yang melayang tenang, ada juga yang beradu. Senangnya melihat layangan beradu.

Tiga hari lalu Gilang membeli layangan dan benang gelasan. Gilang minta penjual layangan untuk sekalian memasangkan tali kama, karena Gilang tidak mengerti. Begitu sampai rumah, Gilang langsung berusaha menerbangkannya. Tapi layangannya tidak mau terbang tinggi. Sekalinya terbang, langsung menukik, lalu nyangkut di pohon bugenvil mama.

“Kalau main layangan jangan di samping rumah. Coba bermain dengan teman-temanmu di lapangan,” saran Mama kemudian.

Bermain layangan ke lapangan? Hm, mana berani!

Gilang memang tidak berani ke lapangan. Sebabnya, Gilang tahu Rizal selalu bermain di lapangan. Dan Gilang tidak ingin bertemu Rizal di sana! Kenapa?

Seminggu lalu Rizal ketahuan mencontek saat ulangan. Bu Heni langsung menghukum Rizal. Mendapat hukuman itu, Rizal langsung marah-marah kepada Gialang. Menurut Rizal, Gilang yang menyebabkan dia kethuan mencontek.

“Kamu terus batuk-batuk, jadi Bu Heni melihat ke arahku,” kata Rizal yang duduk di belakang bangku Gilang.

“Aku batuk karena tenggorokanku gatal. Bukan memberitahu Bu Heni,” sangkal Gilang.

“Aku tidak mau tahu. Pokoknya, kalau aku bertemu denganmu di luar sekolah, kamu akan kupukul!” ancam Rizal.

Tentu saja Gilang takut. Tubuh Rizal lebih besar darinya. Bahkan di kelas, tubuh Rizal paling besar. Harusnya Rizal sudah SMP, tapi dia pernah tidak naik kelas dua kali.

“GILANG! GILANG!” panggil Mama.

Gilang tersentaj dari lamunannya. Dia turun ke ruang tamu menemui Mama.

“Ada temanmu datang, ngajak main layangan. Pergilah. Jangan main di kamar saja,” jelas Mama.

Gilang ke luar rumah. Andri dan Jojo datang mengajaknya bermain.

“Aku pernah melihjatmu membeli layangan, tapi kamu tidak pernah memainkannya. Ayo kita ke lapangan!” ajak Andri.

Gilang ragu-ragu.

“Kamu takut sama Rizal? Tenang saja, ada kami berdua,” tambah Jojo yang suka latihan karate.

Gilang mengangguk. Ia jadi percaya diri kalau pergi ditemani dua teman seklasnya itu. Gilang segera mengambil layangan dan benang gelasan, lalu pergi ke lapangan bersama dua sahabatnya.

Untungnya, Jojo dan Andri tidak menertawakan Gilang ketika tahu Gilang belum bisa menerbangkan layangan. Mereka mengajarkan dari mulai mencari arah angin, kemudian menerbangkannya perlahan. Bahkan Jojo pun mengajarkan kapan layangan harus ditarik atau diulur.

Dalam satu jam Gilang berhasil memainkan sendiri layangan miliknya. Layangannya melayanga gagah bersama layangan Jojo dan Andri.

“Hei, pengadu! Rupanya berani juga datang ke sini?!”

Gilang kaget karena sedang asyik bermain layangan. Dia menoleh. Ternyata di belakangany sudah berdiri Rizal sambil bertolak pinggang. Dia juga membawa layangan dan benang gelasan.

“Tentu saja. Ini tempat umum,” Jojo yang menyahut.

Rizal melihat Jojo dan Andri. Rupanya mereka sekarang bertiga. Jelas Rizal tak berani mengajak Gilang berkelahi. Rizal pun pergi.

Tak lama kemudian sebuah layangan mendekati layangan Jojo, Andri dan Gilang. Layangan itu langsung menyambar layangan Jojo. Tus! Layangan Jojo putus.

“Siapa yang mengadu layanganku?” teriak Jojo kesal.

“Sepertinya itu layangan Rizal,” kata Gilang.

“Biar aku lawan,” kata Andri. Tapi layangan Andri juga kalah.

Kali ini layangan Rizal mengarah ke layangan Gilang. Jojo langsung berlari menemui Rizal. Ternyata benar, itu layngan Rizal.

“Jangan mengadu dengan Gilang. Dia baru bisa bermain layangan,” teriak Jojo.

“Aku nggak peduli. Kalau memang takut, jangan main layangan di sini. Aku tidak takut meski kalian berdua membantunya mengadu layangan,” kata Rizal.

“Baiklah kalau begitu. Tapi berjanji, kalau kamu kalah, jangan menganggu Gilang lagi,” ujar Jojo.

“Ya, aku janji!”

Jojo langsung kembali menemui Gilang yang mulai berkeringat. “Ayo, Gilang! Kamu harus lawan layangan Rizal. Dia janji tidak akan mengganggumu lagi kalau kalah,” kata Jojo.

Gilang jadi bersemangat.

“Ayo, lawan! Tarik! Ulur! Ya, tarik….!” Teriak Jojo dan Andri bersamaan.

TUS!

Layangan siapa yang putus?

“Horeee! Gilang menang!” sorak Andri dan Jojo. Dari kejauhan mereka melihat muka Rizal yang kesal karena kalah.

Bagaimana perasaan Gilang?

Tentunya senang. Pertama bisa menerbangkan layngan, dia langsung menang mengadu layangan dengan Rizal. Dan sekarang dia tak perlu lagi takut dengan ancaman Rizal.



^-^

HORE, 4 Juli 2010



>

Dari Mana Asal Vuvuzela?


Kalian suka nonton pertandingan Piala Dunia? Nah, pasti sudah mendengar bunyi-bunyian yang mirip serangga. Ssst, itu bukan bunyi lalat atau lebah lho. Tapi itu bunyi si vuvuzela yang sekarang sangat terkenal.


Vuvuzela atau biasa disebut Lepatata (dalam bahasa Tswana) adalah sebuah alat musik yang cara penggunaannya dengan ditiup. Alat musik ini dapat ditemukan saat berlangsungnya Piala Dunia FIFA 2010 ataupun pada Piala Konfederasi FIFA 2009 di Afrika Selatan. Alat musik ini memiliki panjang sekitar 65 cm dan menghasilkan tekanan suara sebesar 127 desibel.


Vuvuzela awalnya dibuat dari bahan tin,vuvuzela pertama kali dikenal di afrika selatan sejak tahun 1990′an. Ketika itu salah satu fans kaizer chiefs yg bernama “saddam” mengklaim dia yg pertama kali membuat vuvuzela dari bahan alumunium, dia membuatnya dari terompet sepeda yg dilepaskan karetnya dan ditiup dengan mulut.karena terlalu pendek jadi ditambahkan pipa.dia mempunyai foto ketika tahun 1970 di piala afrika selatan,tahun 1992 di international games dan di tahun 1998 di piala dunia perancis,membawa terompet vuvuzela

.


Dia mengatakan bahwa vuvuzela dilarang karena melanggar peraturan dan dianggap sebagai senjata yg berbahaya karena terbuat dari bahan aluminium,hal itu membuatnya mencari perusahaan plastik untuk membuat versi yang terbuat dari plastik.

Pada tahun 2001,perusahaan dari afrika selatan bernama Masincedane Sport membuat vuvuzela secara massal.


Vuvuzela dikatakan dibuat berdasarkan instrument tanduk kudu yg berakar dari sejarah afrika,tapi itu dibantah olehnya. Selama pertandingan vuvuzela digunakan sebagai upaya untuk mengganggu tim lawan,dan telah menuai banyak kritik dari pemain,pelatih bahkan pendukung tim lawan.



Buatan China


Vuvuzela memang terompet tradisional khas bangsa Afrika Selatan. Namun, Vuvuzela yang beredar dan dipakai para suporter selama Piala Dunia 2010 justru buatan China.


Pengusaha atau perajin Afsel memang tak terlalu bergairah menangkap peluang pasar selama Piala Dunia. Justru China yang rajin menyebar dagangannya.


Di beberapa toko dan mall memang banyak dijual Vuvuzela. Namun, setiap kali dicek, sebagian besar buatan China. Bahkan, souvenir lain yang berkenaan dengan sepak bola juga buatan China.


China memang sangat gencar memasarkan merchandise Piala Dunia. Bahkan, sebagian pihak juga mencoba memasukkan barang secara ilegal. Sebelum Piala Dunia 2010, satu kontainer kaus tim Piala Dunia dari China diselundupkan secara ilegal, tapi tertangkap di Johannesburg. Satu kontainer kaus itu akhirnya dibakar

polisi.

Vuvuzela buatan China lebih banyak beredar, karena harganya lebih murah. Vuvuzela produk Afsel bisa mencapai 85 sampai 100 rand. Sedangkan Vuvuzela buatan China terkadang hanya 50 rand. Sebagai gambaran, satu rand setara dengan Rp 1.300.


Padahal, Vuvuzela sebenarnya terompet sederhana. Dia hanya terompet plastik dan didalamnya kosong melompong. Untuk membunyikannya harus mampu mengombinasikan tiupan dan getaran bibir. Cara

membunyikannya sama dengan meniup Didgeridoo, terompet khas Aborigin, Australia.


Maka, untuk ukuran orang Indonesia, harga Vuvuzela buatan China pun sebenarnya sudah tergolong amat mahal. Sebab, melihat barangnya dan kualitasnya, juga bahannya, barang seperti itu di Indonesia biasanya hanya ditaksir Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu.


Sebab itu, China begitu gencar memasok Vuvuzela ke Afsel, karena keuntungannya sangat besar. Diperkirakan, sudah jutaan Vuvuzela terjual selama Piala DUnia 2010, bahkan akan semakin meningkat. Sebab, banyak orang yang membeli lebih dari satu Vuvuzela sebagai k

oleksi.


Keluhan


Wah, ternyata vuvuzela juga dianggap sebagai barang penggangg lho. Bukan rahasia lagi kalau Vuvuzela merupakan alat musik yang sangat mengganggu. Mulai dari pemain hingga komentator pertandingan merasa kesal dengan besarnya suara yang dihasilkan alat tiup yang terbuat dari plastik itu.


Perusahaan yang mempunyai hak siar juga mengeluhkan kerasnya suara vuvuzela sehingga hampir 'menenggelamkan' suara komentator bola.


Sebelumnya kapten tim Prancis Patrice Evra mengaku merasa terganggu dengan keberadaan vuvuzela. Dia mengaku sulit berkomunikasi dengan rekan-rekannya di lapangan karena kerasnya suara vuvuzela di stadion saat timnya bermain menghadapi Uruguay. Namun hingga saat ini belum ada larangan bagi Vuvuzela untuk dibawa ke dalam stadion.



Belum selesai kekhawatiran sejumlah penggila bola atas kehadiran vuvuzela yang mengganggu pendengaran, muncul ancaman baru yang tak lama lagi bakal meramaikan stadium diberbagai belahan dunia. Ancaman itu bernama kuduzela.

Kuduzela adalah alat musik tradisional Afrika Selatan yang dibuat dari tanduk Antelope, keluarga jauh rusa. Dalam tradisi masyarakat Afrika Selatan, kuduzela sering digunakan dalam peperangan. Celakanya, seperti halnya vuvuzela, kuduzela bakal menghasilkan suara yang bising bahkan dua kali lebih bising dari vuvuzela.

Ancaman kuduzela dengan cepat terdengar petinggi FIFA. Karena itu, FIFA melarang keras penggila bola membawa kuduzela karena dapat mengganggu penikmat bola yang lain. Resiko lain, kuduzela juga berpotensi digunakan sebagai senjata oleh penonton. Maka dari itu, FIFA tidak menginginkan resiko kerusuhan bakal membesar.


Nah, kalau nanti kalian punya vuvuzela, jangan sampai mengganggu tetangga ya saat meniupnya. Biar bagaimanapun keasyikan kita jangan sampai mengganggu orang lain.

(ben)

Friday, June 18, 2010

Hore, 20 Juni 2010

Stadion Terunik di Dunia

Kalian sering melihat pertandingan sepakbola internasional, kan? Ya, semua pertandingan diselenggarakan di stadion yang luas. Tapi tahukah kalian lima stadiun yang paling terkenal karena keunikan dan kelebihannya? Yuk kita lihat satu per satu.


Stadion Wembley



Stadion Wembley terletak London,Inggris, dikenal sebagai stadion termahal di dunia. Stadion ini dibangun dengan biaya 800 juta pounds (sekitar Rp 13,6 triliun). Stadion Wembley lama, yang dibangun tahun 1923, dibongkar total setelah menjadi tempat terakhir pertandingan pada Oktober 2000. Setelah tujuh tahun direnovasi, stadion ini kembali digunakan. Pertandingan pertama di stadion yang terletak di London Utara itu adalah tim U-21 Inggris menghadapi tim U-21 Italia. Stadion Wembley berkapasitas 90.000 tempat duduk.


Stadion Apung


Singapura dikenal sebagai Negara yang memiliki sedikit lahan, namun negara ini bertindak kreatif yaitu memanfaatkan tepian Marina Reservoir di Marina Bay untuk membangun stadion sejak April 2007. Dengan panjang 120 meter, lebar 83 meter, dan kapasitas 30,000 orang, stadion yang dinamai Marina Bay Floating Platform ini menjadi stadion mengapung terbesar dan termegah di dunia.


Stadion Terbesar


Stadion Mei Pertama RÅ­ngrado, atau Stadion May Day adalah sebuah stadion multi-fungsi di Pyongyang, Korea Utara yang selesai pada tanggal 1 Mei 1989. Stadion ini dibangun sebagai sebuah stadion utama untuk edisi 13 Festival Pemuda dan Pelajar Dunia pada tahun 1989. Saat ini digunakan untuk pertandingan sepak bola, atletik, beberapa buah pertandingan, tapi paling sering untuk Festival Arirang (juga dikenal sebagai Mass Games). Stadion ini memiliki 150.000 kursi, yang merupakan stadion non-balap mobil berkapasitas terbesar di dunia.

Nama stadion ini diambil dari nama Pulau Rungra yang terletak di Sungai Taedong, tempat stadion ini berasal, dan May Day merupakan perayaan hari buruh internasional, yang terutama dirayakan di kalangan komunis. Atapnya yang bergelombang memiliki 16 lengkungan yang diatur seperti sebuah cincin, yang dapat dikatakan menyerupai parasut atau kembang magnolia.


Stadion Tertinggi

Stadion tertinggi disini adalah stadion yang terletak di posisi wilayah tertinggi, bukan tinggi konstruksi stadionya. Adalah Stadion Hernando Siles Suazo yang dinobatkan sebagai stadion tertinggi di dunia. Stadion Hernando Siles Zuazo adalah stadion milik Bolivia, Stadion ini terletak di daerah Miraflores, La Paz Bolivia. lalu kenapa stadion ini dinobatkan sebagai stadion tertinggi dunia? tak lain adalah karna stadion ini terletak di ketinggian 3.637 meter dari permukaan air laut, dan tak ada stadion lain yang posisinya lebih tinggi dari Stadion ini.


Stadion ini dibuka pada tahun 1931 dengan pertandingan antara The Strongest melawan Universitario, saat itu The Strongest menang telak 4-1 atas Universitario. Stadion ini menjadi kandang klub sepak bola liga Bolivia, Bolivar Club, The Strongest dan La Paz FC.

Stadion berkapasitas 42.000 penonoton ini juga memiliki tuah bagi Timnas Bolivia, terbukti dengan kemenangan besar atas 2 tim raksasa Amerika latin, yaitu menang 6-1 melawan Argentina dan menang 2-1 melawan Brazil di kualifikasi Piala dunia 2010 lalu. Tapi ternyata stadion ini mengundang reaksi keras dari para pelatih tim lawan Bolivia, apa pasalnya? tak lain dan tak bukan adalah karna posisinya yang berada di atas 3.637 meter. Kita semua tahu bahwa bermain di ketinggian lebih dari 3.000 meter bisa menyebabkan sesak nafas, demam tinggi, kejang otot, sampai pneumonia.

Hal ini dinilai menguntungkan Tim Tuan rumah yang sudah terbiasa bermain di ketinggian. Hal inilah yang kemudian memicu FIFA untuk mengeluarkan peraturan baru, yaitu Stadion yang boleh mengadakan pertandingan internasional hanyalah stadion yang berada di bawah ketinggian 2500 meter dari permukaan laut.

Stadion Tertua



Stadion tertua di dunia adalah Sandygate road. Stadion itu terletak di Sheffield, Inggris. Statusnya sebagai stadion tertua di dunia diakui oleh Guiness book of record. Stadion ini berkapasitas 700 orang, dengan 210 tempat duduk. Stadion ini dibuka pada tahun 1804 dan digunakan oleh Hallam FC sejak tahun 1860. Stadion ini menjadi stadion pertama di dunia yang menggelar pertandingan sepakbola antar klub yaitu saat Hallam FC melawan Sheffield FC pada 26 Desember 1860.

Nah, menurut kalian stadion mana yang paling menarik untuk dikunjungi?

(ben)

20 Juni 2010


Bola Belalang

Oleh Benny Rhamdani

“Kak, apakah aku boleh ikut main bola?” tanya Mika sambil berdiri di pintu kamar Rio.

“Main bola? Kamu kan perempuan,” sergah Rio yang sedang bersiap latihan sepak bola.

“Memang kalo anak perempuan nggak boleh main bola, ya? Tapi di Internet aku lihat banyak kok kesebelasan sepakbola perempuan,” kata Mika.

“Ya, mereka punya tim sendiri. Kalo kamu nggak punya. Masa anak perempuan main bola campur sama anak lelaki?” kata Rio.

Mika menggerutu dalam hati. Kesal karena tak bisa bermain dengan kakaknya bersama timnya.

“Kalau mau lihat yang latihan ya lihat saja,” tambah Rio sambil membawa tasnya. “Kalau mau lihat bareng aku.”

Mika menggeleng. Dia berjalan sambil menarik ujung kaos sepak bola yang dipakainya.

“Kenapa, Mika? Kok lesu?” tanya Ibu yang melihat di ruang tengah.

“Mika pengen main bola sama Kak Rio. Tapi Kak Rio nggak mau,” jawab Mika.

“Kamu main blanya di video game saja kalo begitu,” saran Ibu.

“Nggak asyik. Kalo di lapangan lebih asyik,” kata Mika sambil berjalan ke kamar. Baru beberapa menit membuka-buka komik sepak bola, Mika memutuskan untuk pergi ke lapangan sepak bola, melihat Rio latihan.

Di lapangan, Mika duduk di pinggir lapangan. Di sana ada tempat duduk penonton. Seperti biasa, Mika datang menonton lengkap dengan menggunakan pakaian layaknya anak yang akan bermain sepak bola. Mulai dari pakaian sampai sepatu. Mika membelinya dari tabungan sendiri karena dia suka sepak bola.

Mika mengamati tim kakaknya berlatih. Tentu saja ada seorang pelatih yang benar-benar menguasai sepak bola. Mika sering memerhatikan hal yang diajarkan pelatih itu, lalu Mika mencobanya di halaman rumah.

Di sekolah, Mika juga pernah selalu bermain sepak bola dengan teman-teman lelakinya. Tak adfa satu pun teman perempuannya yang suka main sepak bola.

“Hah? Nggak ah, nanti rambutku rusak,” kata Irene.

“Kulitku bisa hitam nanti,” sahut Dena.

Yang lain juga sama-sama menolak diajak Mika main sepak bola. Jadinya, Mika main bergabung dengan teman laki-laki sekelasnya. Cuma menurut Mika permainan mereka tidak sehebat Rio dan timnya.

Mika menghela napas. Dia memerhatikan latihan bola di depannya. Melihat gerak dengan seksama. Sampai tiba-tiba bola ditendang keluar dan menuju ke arah Mika. Buru-buru Mika menangkapnya. Dia kemudian menyerahkan bola itu dengan menendangnya lalu jatuh tepat di depan Rio.

Mika kembali duduk dan melihat latihan di depannya. Dia merasa senang karena bisa menendang bola. Saat latihan usai, Mika melihat Rio memanggilnya. Buru-buru Mika menghampiori kakaknya yang sedang berdiri di samping pelatihnya.

“Kenalkan ini Om Irfan,” kata Rio.

Mika menyalami Om Irfan.

“Tadi aku sudah bilang sama Om Irfan tentang kamu. Om Irfan bilang, tim ini tidak bisa memasukan anak perempuan,” kata Rio.

Mika kecewa.

“Tapi Om Irfan tahu klab sepak bola untuk anak perempuan. Om Irfan malah kenal sama pelatihnya,” kata Rio lagi.

Mika terbelalak senang. “Siapa? Di mana?” Mika girang.

“Isteri saya. Dia pelatih sepak bola klab sepak bola perempuan. Kalau mau lihat, ikut saja sekarang ke klab mereka dengan saya,” ajak Om Irfann.

Mika bersemangat ketika Rio mengangguk. Akhirnya Mika dan Rio menumpang mobil Om Irfan. Mereka berangkat ke seuah lapanga bola sekitar sepuluh kilo meter dari rumah mereka.

Saat masuk ke lapangan, Mika melihat beberapa anak perempuan tengah pemanasan. Om Irfan segera mengenalkan Mika kepada isterinya, Tante Tria.

“Jadi kamu pengen gabung?” tanya Tante YTria.

“Iya,” jawab Mika.

Tante Tria mengizinkan. Mika malah diminta langsung bergabung latihan. Wuah betapa senangnya Mika.

“Nah, sekarang pemanasannya adalah rolling. Kalian bergelinding di lapangan sebanyak sepuluh kali,” teriak Tante Tria.

Mika mengikuti perintah itu. Tapi baru dua jupalitan, tiba-tiba dia merasa ada yang aneh di lehernya. Sesuatu yang bergerak-gerak.

“Huaaa! Belalang!” teriak Mika sambil jingkrak-jingkrakan.

Tante Tria buru-buru menepis belalang di leher Mika. Se,mentara anggota lainnya malah cekikikkan.

“Masa mau main bola takut sama belalang?” bisik suara di dekat Mika.

Mika jadi malu. Dia bukannya takut, tapi geli dengan belalang.

Rio kemudian menghampiri Mika. “Gimana? Masih mau main bola atau nggak?” tanya Rio.

“Mau. Tapi latihannya jangan di rumput yang ada belalangnya,” kata Mika.

Rio tertawa. “Rasa takut itu datang dari hati kamu. Coba hapus rasa takut itu. Lihat, yang lain nggak takut sama belalang kok,” kata Rio.

Mika garuk-garuk kepala. Dia kembali latihan. Kali ini dia bertekad menyingkirkan rasa takutnya sama belalang. Hm, gimana mau jadi pemain sepak bola perempuan paling hebat di Indonesia kalau takut sama belalang yang hidup di lapangan berumput?

^_^

Friday, June 11, 2010

Cernak, 13 Juni 2010


Kalau Ayah Demam Bola
oleh Benny Rhamdani


"Demam bola!"

Begitu kata Ibu setiap kali melihat Ayah menguap di meja makan saat sarapan.

Aku hanya tersenyum. Apalagi begitu melihat Ayah langsung pura-pura mengusir rasa ngantuknya dan melahap nasi goreng buatan Ibu dengan lahap.


Ya, sejak ada putaran sepak bola Piala Dunia di televisi, Ayah jadi berubah perilakunya. Sering sekali mengantuk saat sarapan. Hm, itu karena Ayah terus-terusan menonton bola di televisi. Bahkan pukul dua dini hari Ayah tak pernah absen nonton bola.


Mulanya aku merasa penasaran, apa istimewanya pertadingan sepak bola piala dunia. Setelah sekali aku menemani Ayah nonton teve, akhirnya aku mengerti.

Ya, nonton sepak bola meski hanya melalui teve ternyata asyik juga. Apalagi kalau yang main jago-jago kelas dunia. Tapi karena putaran piala dunia bertepatan dengan masa ujian, aku tidak bisa nonton setiap waktu. Hanya sesekali.


Sebenarnya, hal yang membuat aku makin suka nonton bola adalah Ayah. Malah terkadang kelakukan Ayah saat nonton bola lebih seru dibandingkan pertandingan di teve. Bayangkan saja, Ayah suka ngomong sendiri, teriak sendiri, marah-marah sendiri. Hihihihi, bahkan pada pukul dua dini hari dan tidak ada siapa-siapa di sisi Ayah.


Ibu sepertinya kurang suka dengan sepak bola. Karenanya Ibu tidak pernah mengerti mengapa Ayah begitu aneh belakangan ini. Ibu juga sering menyindir Ayah yang begitu tergila-gila dengan Piala Dunia.


Suatu malam, aku terbangun. Kulihat jam dinding menujukkan pukul dua lebih. Aku bergegas menuju ruang tengah. Kudengar suara televisi, tapi juga suara dengkur Ayah. Hm, rupanya Ayah tertidur. Mungkin pertandingannya kurang seru.


"Ayah, kok tidur?" tanyaku.


"Bram, kok bangun?" tanya Ayah.


"Besok Bram nggak sekolah. Jadi Bram ingin nonton bola sama Ayah," jawabku.


Ayah menggeser duduknya agar aku duduk di sofa di sebelah Ayah. Kemudian Ayah meminum kopi yang sudah dingin, mengusir kantuknya.


Aku melihat pertandingan bola di teve. Sepertinya pertandingannya benar-benar tidak menarik. Dan ... BRUK!


Aku terkejut mendengar suara itu. Entah di mana asal suaranya. Ayah langsung berdiri dan berjalan mengendap-endap. Ayah kemudian mengecilkan suara teve melalui remote di tangannya, lalu berjalan ke belakang. Aku mengikuti Ayah.


Ayah mengintip melalui jendela. "Ssst, ada maling di rumah sebelah .... Jangan berisik...." ucap Ayah kemudian.


Aku kaget. Seumur hidup aku belum pernah melihat maling beraksi. Ah, tapi bahaya kalau anak seumurku memergoki maling. Bagaimana kalau mereka bersenjata?


Ayah langsung menegluarkan HP. Entah menelepon siapa. Rumah yang dimaksud Ayah adalah rumah pak Iwan. Sudah dua hari rumah itu tak ada penghuninya. Pak Iwan sekeluarga sedang menginap di rumah saudara mereka.


Tak lama kemudian Ayah membuka pintu dan keluar rumah sambil membawa lampu senter. Aku dilarang ikutan. Jadi tak tahu apa yang dilakukan Ayah kemudian. Aku hanya tahu, kemudian ayah berteriak kencang," Maling ... MALING.....!"


Bersamaan dengan itu beberapa penghuni rumah lainnya ikut menyuarakan teriakan yang sama. Lalu kudengar suara mobil polisi datang mendekat. Saat itulah aku baru berani keluar rumah.


Kulihat tiga orang tak kukenal ditangkap petugas polisi. Barang-barang yang dicuri juga dibawa.


Keesokan paginya, di pemukiman kami heboh berita tentang penangkapan pencuri itu.


Saat sarapan di meja makan, Ibu tak lagi menyindir Ayah. Malah Ayah yang menyindir Ibu. "Nonton bola sambil ngeronda ada gunanya juga ternyata ..."


Hihihihi, aku hanya tertawa mendengarnya.


Tapi malam harinya aku terkejut karena Ayah tak duduk di depan teve seperti biasanya, nonton pertandingan awal sepak bola. Aku bertanya pada Ibu.


"Ayah ada di kamar. Lagi demam. Kebanyakan begadang, kurang tidur ...." jawab Ibu.


Aku bingung, lalu menemui Ayah di kamar. Kulihat Ayah berselimut sambil menggigil di tempat tidur.


"Ayah kena demam bola, ya?" tanyaku sambil memegang dahi Ayah yang hangat.


"Bukan demam bola ... ini demam betulan. Ayah masuk angin, kurang tidur, dan tadi kehujanan," jawab Ayah.


Aku ingin tertawa geli mendengarnya. Tapi tentu saja tidak kukeluarkan. Tidak sopan namanya. Jadi aku langsung keluar kamar.


Ibu mencegatku sambil tersenyum ."Jagoan bola kita kena demam. Demam bola ... demam ronda ..."


Hihihihi, kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan tawa.

Ah, Ayaah ... cepat sembuh ya. Kita nonton sepak bola Piala Dunia lagi nanti malam!
^_^

Hore, 13 Juni 2010


Maskot Piala Dunia: Dari Willie sampai Zakumi

hai, kalian kenal Zakumi? Bagimana dengan Willie? Hm, mungkin sebagian masih belum tahu kalau itu adalah nama maskot Piala Dunia. Apa sih maskot itu?

Maskot adalah bentuk atau benda yang dapat berbentuk seseorang, binatang, atau objek lainnya yang dianggap dapat membawa keberuntungan dan untuk menyemarakkan suasana acara yang diadakan.

Maskot pada umumnya merepresentasikan kepada masyarakat luas dari sekolah, universitas, klub olah raga, ataupun pengembangan atas suatu produk komersial. Setiap maskot yang dibuat akan diberikan nama panggilan yang sesuai dengan karakter dari maskot itu sendiri.

Penggunaan atas maskot sekarang telah semakin meluas dengan selalu digunakan dalam setiap acara olah raga di dunia ini, seperti Piala Dunia maupun Olimpiade sebagai bagian dari promosi dari acara olah raga saat ini. Pemilihan atas maskot akan disesuaikan dengan karakter dari acara yang akan dibuat ataupun dari organisasi, klub, maupun lembaga yang akan menggunakan maskot sebagai alat untuk berpromosi.

Maskot Piala Dunia

Maskot piala dunia baru diperkenalkan pertama kali tahun 1966 di Inggris. Saat itu, maskot yang diberi nama Willie adalah seekor singa yang juga simbol negara Inggris mengenakan baju dengan motif bendera Inggris bertuliskan WORLD CUP.

Tahun 1970 ketika kejuaraan berlangsung di Mexico, maskot yang digunakan diberi nama Juanito. Juanito adalah seorang anak kecil Meksiko yang mengenakan Sombrero topi khas rakyat Meksiko. Di SOmbrero tersebut terdapat tulisan Mexico 70 untuk melambangkan tahun penyelenggaraan kejuaraan tersebut. Nama Juanito dipilih karena nama tersebut adalah nama umum anak-anak di negara tersebut yang merupakan jajahan Spanyol.

Jerman memperkenalkan logo yang terdiri lebih dari satu obyek tahun 1974. Sepasang anak laki-laki yang diberi nama Tip dan Tap mengenakan seragama timnas Jerman dengan tulisan WM (Weltmeisterschaft alias World Cup dalam bahasa Jerman) serta tulisan tahun 74.

Tahun 1978, Argentina tak mau kalah dengan Jerman. Seorang bocah mengenakan seragam timnas Argentina dan diberi nama Gauchito menjadi maskot kejuaraan piala dunia di negera tersebut tahun 1978. Gauchito mengenakan topi dengan tulisan Argentina 78, dengan syal dan cambuk. Gauchito sendiri diambil dari istilah Gauchos atau koboi yang populer di wilayah Amerika Utara.

Tahun 1982, Spanyol memperkenalkan logo yang bukan binatang atau manusia melainkan sebuah jeruk. Logo bernama Naranjito ini dianggap mewakili buah-buahan khas Spanyol. Naranjito mengenakan seragam timnas Spanyol . Naranjito sendiri diambil dari kata-kata Naranja yang berarti jeruk dalam bahasa spanyol.
Tahun 1986, Meksiko kembali menjadi tuan rumah. Maskot yang digunakan diberinama Pique berwarna dominan kuning hijau. Dalam maskot kali ini, Meksiko ingin menampilkan karakter makanan meksiko yang khas. Pique tetap mengenakan topi khas Meksiko Sombrero.

Tahun 1990, Italia mengenalkan bentuk maskot yang tak lazim yang diberinama Ciao. Ciao sendiri adalah gabungan kotak-kotak tiga warna merah putih hijau melambangkan bendera Italia. Ciao sendiri adalah salam yang sangat populer dalam bahasa Italia.

Anjing bernama Striker menjadi pilihan logo tahun 1994 ketika Amerika Serikat menjadi tuan rumah. Striker mengenakan kostum sepakbola dengan warna putih, biru dan merah.

Tahun 1998, ketika Perancis menjadi tuan rumah, negara tersebut menggunakan simbol negara tersebut berupa ayam jantan sebagai maskot dengan nama Footix. Akhiran ix didapatkan dari inspirasi komik Asterix yang populer dan merupakan karya salah satu warga Perancis.

Jepang-Korea mengenalkan maskot bertema futuristik tahun 2002 menggambarkan awal milenium baru dalam sepakbola. Tokohnya diberinama Ato yang bertindak sebagai pelatih dan Kaz serta Nik yang menjadi pemainnya.Pemilihan nama ketiga tokoh tersebut berdasarkan polling lewat Internet serta usulan nama yang dimasukkan lewat outlet gerai fast food McDonalds.

Tahun 2006 di Jerman, maskot Singa kembali digunakan.Maskot bernama Goleo VI mengenakan seragam timnas jerman terbaru bersama bola yang dapat berbicara bernama Pille. Goleo sendiri merupakan gabungan dari kata “Goal” dan “Leo” alias Singa

Zakumi dipilih Afrika Selatan sebagai logo piala dunia 2010. Zakumi juga adalah seekor singa tapi singa khas AFrika yang biasa disebut Leopard. Warna kuning dengan rambut hijau mendominasi maskot Zakumi, sekaligus menggambarkan seragam timnas Afrika Selatan.”ZA” sendiri adalah kode untuk Afrika Selatan, dan “kumi”, adalah kata dengan arti “10″ dalam berbagai bahasa Afrika.

Nah, tahun 2014 di Brasil, kira-kira maskotnya seperti apa ya?
(ben)