Friday, October 09, 2009

Cernak, 11 Oktober 2009


Detektif Sok Tau!


Oleh Benny Rhamdani

Namanya Doni. Badannya kecil, tapi merasa otaknya paling besar. Maksudku, dia merasa paling pintar di kelas. Mungkin di seluruh dunia. Setiap orang ditanyai setiap hari, barangkali mereka punya masalah. Doni bilang, dia siap membantu.


Memang sih Doni anak pintar. Rankingnya selalu bergantian denganku di kelas. Tapi aku tidak pernah merasa sok pintar seperti Doni. Seperti hari ini. Tiba-tiba saja dia merasa orang yang paling dapat memecahkan teka-teki hilangnya sepatu Bram di teras mushola.


“Jam berapa sepatumu hilang?” Doni sok menyelidik. Aku yang duduk tak jauh dari Bram hanya geleng-geleng kepala.


“Waktu habis olahraga tadi. Anak-anak lain kan ganti pakaian di toilet, karena penuh aku ganti di mushola,” jawab Bram yang masih tanpa alas kaki.


Ada siapa saja waktu itu?”


“Aga dan Hesa. Tapi mereka masuk dan keluar bareng denganku.”


“Selain mereka?”


“Yang kulihat hanya mereka. Kalau di luar aku nggak tahu.”


“Sudah kamu lapor ke guru piket?”


“Sudah. Tapi guru piket belum tentu nyari sepatuku.”


“Ya iyalah.”


Aku tertawa geli. Buat apa sih heboh begitu? Bram itu anak orang kaya. Pasti papa dan mamanya nggak akan susah mengeluarkan uang untuk membeli sepatu baru. Lagian, yang kutahu Bram itu sepatunya banyak sekali. Kalau aku jadi dia, mungkin aku akan lupa mana sepatuku.


“Tenang ya, Bram. Sepatumu pasti akan segera kutemukan. Pulang nanti kamu nggak akan nyeker seperti sekarang,” janji Doni.


“Aku tadi sudah telepon supirku supaya mengambil sepatu lainnya di rumah. Jadi kalau nggak ketemu, aku pulang nggak akan nyeker kok,” kilah Bram.


“Masalahnya, aku penasaran. Mengapa hanya sepatumu yang hilang? Sepatu Aga dan Hesa tidak diambil.”


Aku menahan tawa lagi. Ya iyalah. Yang kuatahu sepatu Hesa dan Aga sepatu sekolah biasa. Tidak semahal punya Bram.


Doni bergerak. Jam istirahat. Aku jadi penasaran ingin tahu apa yang dilakukannya. Kubuntuti Doni. Ternyata dia pergi ke mushola. Dia mengamati teras sekitar mushola. Doni kemudian melihat-lihat sekitar mushola. Membuka tong sampah, balik rak sepatu sampai ke tanaman dekat mushola.


Sepertinya Doni gagal menemukan petunjuk. Dia kemudian ke sisi lapangan. Didekatinya Aga dan Hesa. Aku pura-pura mendekati Yuli yang sedang bercerita tentang artis dengan teman-teman lainnya di dekat mereka.


“Sungguh, aku nggak tahu apa-apa,” kata Aga.


“Maksudku apakah sepatu Doni benar-benar hilang atau dia pura-pura saja,” jelas Doni.


“Aku yakin benar-benar hilang. Soalnya, kami membuka sepatunya bersamaan. Masuk juga bareng, tapi pas keluar sepatunya tidak ada di tempat,” jelas Hesa.


“Hmmm!” Doni kelihatan bingung.


Salah sendiri. Kenapa sok-sokan jadi detektif.


“Apa kalian tidak melihat sesuatu yang aneh atau mencurigakan?” Doni bertanya lagi.


“Apa ya? Oh aku tahu. Saat masuk, lantai teras mushola agak kotor. Lalu saat keluar tampak bersih dan basah. Pasti habis dipel Pak Mahmud,” kata Aga kemudian.


“Wah, ini pasti kuncinya. Bisa jadi Pak Mahmud pelakunya!” seru Doni.


“Nggak mungkin!” teriakku.


Ketiga anak lelaki itu terkejut karena mendengar suaraku yang menyela obrolan mereka.


“Pak Mahmud orang yang soleh. Dia baik sekali. Dia nggak mungkin mencuri sepatu Bram. Buat apa? Dia nggak punya anak lelaki sebaya kita,” jelasku.


“Salsa, rupanya kamu juga ikut-ikutan jadi detektif ya? Pantas dari tadi mengekori aku,” ledek Doni. Dia memang paling suka menggodaku.


“Huh!” aku mendengus. “Pokoknya, aku nggak mau kalian menuduh Pak Mahmud.”


“Ya, kita buktikan saja. Kita cari Pak Mahmud saja dulu,” ajak Doni.


Aku mengikutinya mencari Pak Mahmud. Tapi dicari kemana-mana tidak ada. Akhirnya kami bertanya ke guru piket. Rupanya, jawabannya di luar dugaan. Pak Mahmud tadi minta ijin ke luar sekolah karena keponakannya ada yang kecelakaan.


“Tuh, kan. Pasti itu alasan saja untuk keluar dari sekolah. Mungkin Pak Mahmud menjual sepatu itu ke penadah barang curian,” simpul Doni saat kami meninggalkan guru piket.


“Aku tetap yakin, Pak Mahmud tidak mencuri,” kataku tegas.


Bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. Kudengar bisik-bisik Doni ke beberapa teman bahwa dia sudah menemukan siapa pencuri sepatu Bram. Tentu saja teman-teman sekelas jadi heboh. Tapi aku sudah meminta Doni jangan menyebut nama Pak Mahmud sebelum benar-benar terbukti.


Pelajaran matematika dimulai. Kami berkutat dnegan soal ulangan yang diberikan Pak Amilus. Kira-kira sepuluh menit menjelang pelajaran matematika berakhir, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar. Pak Amilus membuka pintu. Ternyata yang muncul Pak Mahmud.


“Maaf, Pak. Tadi saya diberitahu guru piket kalau Bram kehilangan sepatunya di teras mushola. Sekali lagi maafkan saya. Sepatu Bram tidak dicuri. Tadi sewaktu saya mengepel teras mushola, secara tidak sengaja air di ember tumpah dan kena sepatu Bram. Lalu saya jemur di atas genteng mushola. Pas, saya mau bilang ke Bram, tahu-tahu saya ditelepon oleh saudara saya. Keponakan saya ada yang kecelakaan. Saya segera ke rumah sakit. Untunglah lukanya tidak parah, jadi saya bisa segera ke sekolah,” jelas Pak Mahmud panjang lebar.


Pak Mahmud kemudian memberikan sepatu di tangannya kepada Bram. Dia meminta maaf kepada Bram sambil menundukkan kepala. Bram langsung memaafkan.


Aku bernafas legas.


Saat pulang sekolah, aku langsung menghampiri Doni. “Lihat, Pak Mahmud bukan pencuri, kan?” kataku.


“Tapi pelakunya Pak Mahmud. Titik!” Doni tak mau kalah.


Huh, dasar detektif sok tau!

^-^

1 comment:

Bungkus Emmus said...

emmus suka ceritanya. juga gambar di blog ini. ijin copas ya ^_^