Thursday, April 29, 2010

Cernak, 2 Mei 2010


Guruku Keren Sekali

Oleh Benny Rhamdani

Pagi-pagi sekali sudah ada kesibukan kecil di kelas. Karena hari ini kami akan mengadakan acara perpisahan dengan wali kelas kami, Pak Indra.

“Pak Indra mau pndah ke Bandung,” bisik Mita sebulan yang lalu.

“Wah, sedih banget ya kita ditinggal Pak Indra,” kata Rangga.

“Iya. Belum tentu penggantinya nanti lebih baik dari Pak Indra,” sahutku.

“Kira-kira siapa yang gantiin ya?” tanya Peter.

“Katanya akan ada guru baru,” kata Mita. Dia memang selalu punya info penting soal sekolah. Ibunya bekerja di tata usaha sekolah.

“Wuah!” kami berseru. Menantikan guru baru adalah hal yang luar biasa bagi kami. Soalnya, kami jadi berharap guru baru nanti sebaik Pak Indra. Kalau tidak, pasti akan kecewa sekali.

Apalagi buatku, Pak Indra adalah guru paling favorit. Aku punya pengalaman yang paling berkesan dengan Pak Indra.

Beberapa bulan lalu aku sakit. Tiga hari terserang panas. Setelah diperiksa ke dokter aku ternyata kena gejala typhus. Jadinya, aku mesti dirawat di rumah. Pak Indra dan teman-temanku dating membesukku di rumah. Teman-temanku membawa buah-buahan. Sementara Pak Indra memberikan ramuan obat tradisional kepada ibuku.
Aku tidak tahu ramuan obat tradisional itu apa. Tapi aku meminumnya. Ternyata keesokan harinya penyakitku hilang. Aku berterima kasih sekali dengan Pak Indra. Beberapa temanku juga ada yang diberikan ramuan obat tradisional ketika sakit. Rupanya Pak Indra punya kebun tanaman obat di halaman rumahnya.

“Nikita, kamu sudah lihat guru barunya?” tanya Rangga.

“Belum,” jawabku. Sedari tadi aku memang berdiri di depam kelas menghadap ruang guru dan kepala sekolah. “Tuh, yang baru datang Pak Indra.”

Teman-temanku langsung keluar.

“Selamat pagi, Pak Indra. Acaranya nanti jadi ya. Pak Kepala Sekolah sudah member kami izin,” kata Rangga.

“Iya. Terima kasih ya sudah membuatkan acara perpisahan untulk Bapak,” kata Pak Indra sambil tersenyum.

Aku tahu, meskipun tersenyum pasti Pak Indra juga sedih seperti kami. Tapi Pak Indra benar-benar harus pindah karena orangtuanya sakit-sakitan dan tidak ada yang menjaga di Bandung.

Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi. Kami segera masuk kelas. Padahal aku masih penasaran ingin melihat guru baru yang katanya akan datang hari ini.

Pelajaran pertama adalah bahasa Inggris. Bu Simanjuntak yang masuk. Barulah setelah itu Pak Indra masuk kelas. Acara yang kami rencanakan pun dimulai, yakni perpisahan dengan Pak Indra.

Rangga sebagai ketua kelas yang mengatur acara. Di mulai dengan salam perpisahan dari kami. Mita membaca puisi perpisahan yang membuat kami terharu.

Guruku

Tiada ilmu seindah yang kau beri
Memberi arti bagi kami
Menerangi kegelapn kami
Dan kini …
Harus meninggalkan kami ….


Satu per satu kami kemudian memberi kenang-kenangan. Ada yang patungan ada yang sendiri-sendiri. Pak Indra sudah meminta agar kami tidak memberinya hadiah. Tapi karena kami mendesak, Pak Indra mengalah.

Setelah itu, Pak Indra giliran memberi pengantar terakhir. Sangat pendek.
“Anak-anakku, Bapak tidak bisa bicara panjang lebar karena sedih harus meninggalkan kalian. Pesan Bapak Cuma satu, kalian harus mencintai guru penggati Bapak seperti kalian mencintai Bapak,” kata Pak Indra.

Tak lama kemudian pintu kelas dibuka. Pak Kepala Sekolah masuk bersama seorang lelaki yang lebih muda dari Pak Indra.

“Anak-anak, kenalakan ini wali kelas baru kal;ian. Namanya Pak Ronald. Pak Ronald guru matematika yang pernah menjadi juara olimpiade matematika, juga seorang pesulap,” kata Pak Kepala Sekolah.

Aku mengamatioPak Ronald. Ya, aku pernah melihatnya beberapa kali di televisi. Terutama di acara sulap. Waktu itu aku kagum karena sulapnya berbeda, yakni suiap angka.

Kami sekelas bertepuk tangan menyambut Pak Ronald.

“Terima kasih. Semoga kedatangan saya bisa menggantikan Pak Indra yang kalian cintai,” kata Pak Ronald.

Aku tersenyum. Pak Ronald masih muda, terkenal, pintar sulap angka, juara olimpiade. Wah, keren sekali. Ya, mudah-mudahan saja nanti aku tambah semangat belajar karena punya guru sekeren Pak Ronald. Amin.

^_^

No comments: